Resensi

Menyelami Dunia Anak Melalui Film Na Willa: Penuh Imajinasi Juga Perjuangan

Lewat cerita yang hangat dan jujur, Na Willa menghadirkan potret masa kecil yang penuh imajinasi sekaligus perjuangan

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Official Poster Na Willa

SKETSA - Ada masa ketika gang sempit terasa seperti dunia yang luas. Ketika suara radio dari rumah tetangga bisa menjadi lagu petualangan, dan kios kecil di ujung jalan menyimpan kejutan yang lebih menarik daripada taman bermain mana pun. Masa itu adalah masa kanak-kanak, masa ketika imajinasi membuat dunia terasa lebih hidup dari kenyataan.

Film Na Willa (2026) yang disutradarai Ryan Adriandhy ini mengajak penonton kembali ke masa kecil yang penuh imajinasi. Film ini bercerita tentang Na Willa (diperankan Luisa Adreena), seorang gadis kecil yang percaya bahwa gang tempat ia tinggal di Surabaya adalah tempat paling menyenangkan di dunia.

Di gang itu, setiap hari terasa seperti petualangan. Willa bermain bersama teman-temannya, mendengarkan lagu dari radio, dan menemukan hal-hal kecil yang terasa begitu seru. Hal ini biasanya hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh anak-anak.

Namun, seperti kehidupan pada umumnya, dunia kecil Willa tidak selalu berjalan seperti yang ia bayangkan. Ketika salah satu sahabatnya mengalami kecelakaan dan teman-teman bermainnya mulai masuk sekolah, gang yang sebelumnya ramai perlahan terasa sepi. Dunia yang dulu terasa utuh mulai berubah.

Perubahan itu membuat Willa mengambil keputusan sederhana namun besar bagi seorang anak: Ia ingin ikut sekolah TK agar bisa kembali bermain bersama teman-temannya. Harapannya sederhana, yaitu agar semuanya bisa kembali seperti dulu.

Sayangnya, dunia sekolah tidak sehangat dunia di gang tempat ia tumbuh. Di sekolah, Willa bertemu dengan aturan-aturan baru, batasan yang belum ia pahami, serta lingkungan yang terasa asing. Di sinilah film mulai memperlihatkan lapisan ceritanya yang lebih dalam.

Na Willa tidak hanya bercerita tentang masa kecil yang penuh imajinasi, tetapi juga menyinggung beberapa masalah sosial. Salah satunya adalah rasisme. Di sekolah lamanya, Willa pernah diejek oleh teman-temannya dengan sebutan “Asu Cino”. 

Ejekan itu tentu sangat menyakitkan, apalagi bagi seorang anak kecil yang bahkan belum sepenuhnya mengerti arti dari kata-kata tersebut. Akibat diperlakukan seperti itu, Willa merasa tidak nyaman hingga akhirnya pindah sekolah.

Film ini juga menampilkan pengalaman pahit lainnya, yaitu ketika seorang guru menuduh Willa berbohong, padahal ia berkata jujur. Momen ini menjadi salah satu adegan yang cukup menyentuh, karena dari sudut pandang anak kecil, tidak dipercaya oleh orang dewasa bisa terasa sangat menyakitkan.

Di tengah pengalaman-pengalaman itu, ada satu pesan sederhana yang terus diingatkan kepada Willa yaitu jangan berbohong. Dalam film ini, kebohongan dianalogikan seperti kerikil yang masuk ke dalam sepatu yang mana membuat langkah terasa tidak nyaman. Sebuah metafora sederhana, tetapi sangat dekat dengan cara anak-anak memahami dunia.

Selain isu rasisme dan perundungan, Na Willa juga mengangkat realitas keluarga yang tidak selalu utuh secara fisik. Ayah Willa bekerja sebagai pelaut yang sering berada jauh di laut. Jarak itu membuat Willa bahkan sempat lupa dengan wajah ayahnya.

Meski berada jauh, “Pak” tetap hadir dalam kehidupan Willa melalui perhatian dan cara-cara kreatif untuk menunjukkan kasih sayang. Film ini seolah ingin menunjukkan bahwa kehadiran orang tua tidak selalu harus secara fisik, melainkan yang terpenting adalah bagaimana cinta itu tetap terasa.

Di sisi lain, sosok “Mak” menjadi figur yang sangat penting dalam kehidupan Willa. Melalui karakter ini, film Na Willa menegaskan satu hal sederhana yakni sekolah pertama bagi seorang anak adalah orang tuanya. Mak menjadi sosok yang memberi bimbingan, perlindungan, sekaligus tempat Willa belajar memahami dunia yang perlahan berubah di sekitarnya.

Kekuatan Na Willa terletak pada cara film ini bercerita. Alih-alih terasa berat, berbagai isu sosial disampaikan dengan cara yang ringan, jujur, dan apa adanya dalam bentuk persis seperti cara anak-anak melihat dunia. Tidak ada ceramah moral yang terasa dipaksakan. Semua pesan hadir melalui pengalaman Willa.

Film ini juga mengingatkan bahwa tumbuh besar berarti belajar berdamai dengan perubahan. Dunia yang dulu terasa penuh mungkin suatu hari akan terasa sepi. Teman-teman bisa pergi, aturan baru akan muncul, dan keajaiban masa kecil perlahan berubah bentuk.

Namun, seperti yang dipelajari Willa, keajaiban itu tidak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat.

Sebagai film keluarga yang hadir di momen Lebaran, Na Willa menawarkan pengalaman menonton yang hangat dan magis. Film ini tidak hanya mengajak anak-anak menikmati petualangan kecil Willa, tetapi juga mengajak orang dewasa untuk kembali melihat dunia dengan rasa kagum yang mana seperti yang pernah kita lakukan ketika masih kecil.

Setelah menonton Na Willa, mungkin kita akan menyadari satu hal sederhana yakni dunia anak-anak selalu lebih luas daripada yang kita kira. (tsr/mou)



Kolom Komentar

Share this article