If Cats Disappeared from the World: Menerima Kematian dalam Damai

If Cats Disappeared from the World: Menerima Kematian dalam Damai

Sumber Gambar: Istimewa.

Sutradara: Akira Nagai

Pemeran: Takeru Sato, Aoi Miyazaki, Gaku Hamada, Mieko Harada, Eiji Okuda

Distribusi: Toho

Musik: Takeshi Kobayashi

Genre: Drama

Durasi: 103 menit

Rilis: 14 Mei 2016

SKETSA – Apakah kamu akan siap untuk menerima kenyataan, jika mengetahui usiamu hanya tinggal hitungan jari? Akankah kamu bersedia untuk menukarkan satu kenanganmu dengan imbalan satu kali nyawa setiap harinya? Inilah kisah seorang pengantar surat (Takeru Sato) dengan penyakit tumor otaknya.

Tinggal sendiri dan jauh dari kota, seorang pria muda bekerja sebagai pengantar surat (postman). Dalam perjalanannya setelah mengantar surat, ia melewati sebuah pelabuhan sambil memikirkan hidup yang sudah bahagia dan melangkah maju dari masa lalunya. Ia sadar bahwa dirinya tak pernah memikirkan masa depan, sebab ia lebih suka menjalani hidup dengan menyambut hari esok. Tiba-tiba kepalanya terasa amat sakit dan menyebabkan dirinya jatuh dari sepeda.

Untuk memeriksakan dirinya, ia menemui dokter di rumah sakit. Sayangnya, yang ia dapatkan adalah kabar memilukan. Ia memiliki tumor otak dan telah menyebar hampir ke seluruh batang otak. Sang dokter menyebut, ia memerlukan pemeriksaan lebih lanjut sebab potensi kanker selalu ada. Masalah semakin rumit sebab keadaannya cukup mengkhawatirkan dan sulit melakukan operasi.

Terkejut dengan pernyataan dokter, ia menanyakan berapa lama dirinya dapat hidup. Jawaban dokter kembali membuatnya frustrasi. Dokter menyampaikan bahwa kemungkinannya agak ganjil apabila ia dapat hidup lebih dari seminggu karena kondisinya saat ini cukup membuatnya untuk mati. Ia disarankan untuk segera melakukan perawatan. Pikirannya semakin berkecamuk dan ingin kabur dari kenyataan. Ia pikir, ia tidak pernah khawatir akan kehilangan sesuatu. Kini, ia khawatir dan menjadi lebih cemas.

Dengan selera makan yang hilang dan perasaan sedih, ia pulang ke apartemennya. Ia memikirkan siapa yang mungkin akan merindukannya saat ia mati, dan menemukan seseorang yang sangat mirip dengannya sedang duduk dan menunggunya. Sosok misterius tersebut mengaku sebagai seorang iblis. Sambil tertawa, “iblis” tersebut menyampaikan bahwa sang pengantar surat akan mati besok. 

Semakin takut, ia bergumam bahwa dirinya tak ingin mati dan iblis tersebut membuat sebuah penawaran untuknya. Apabila sang pengantar surat setuju untuk menghilangkan satu hal di dunia yang dipilih iblis tersebut, ia akan mendapatkan satu hari untuk hidup dan terhindar dari kematian. Iblis tersebut mengingatkan, bahwa setiap hal yang dihilangkan akan benar-benar terhapus keberadaannya dari dunia seolah tak pernah ada. Hal tersebut akan hilang di penghujung hari sehingga si pengantar surat dapat menikmatinya sebelum itu menghilang dari dunia. Lantas, seperti apa jawaban pria pengantar surat tersebut?

Setiap Hal Berharga

Dalam film berdurasi 103 menit ini, kita akan diajak untuk melihat kehidupan sang postman ketika satu demi satu hal hilang dari dunia dan ketika hal-hal tersebut masih ada di kenangannya. Ia harus merelakan seluruh kenangannya dengan mantan kekasihnya (Aoi Miyazaki) setelah telepon dihapus dari dunia. Berlanjut dengan kehilangan sahabatnya (Gaku Hamada) seiring dengan hilangnya seluruh jenis film yang ada di dunia. Semakin memilukan ketika jam dihapuskan, sebab itu adalah tiang utama kehidupan dan sumber penghasilan ayahnya (Eiji Okuda). Hilangnya jam memudarkan ingatan si postman bersama orang tuanya. Dan terakhir, hilangnya keberadaan kucing termasuk kucing peliharaannya. Kucing adalah hal terpenting dan merupakan ikatan batin antara dirinya dan sang ibu (Meiko Harada).

Film yang diadaptasi dari novel berjudul Sekai kara Neko ga Kieta nara karya Genki Kawamura ini membawa kita untuk mendalami setiap hal yang sering dianggap remeh―seperti telepon, film, arloji, dan kucing. Saat mereka menghilang, tentunya beberapa bagian dalam hidup manusia turut terdampak. Mereka saling terpaut satu sama lain. Tanpa telepon, maka komunikasi jarak jauh akan susah terjalin. Tak adanya film berarti ruang-ruang seni peran menjadi sempit dan sulit menjadi hiburan semua lapisan masyarakat. Hilangnya jam dari dunia maka tak ada batas yang jelas antara waktu yang berlalu dan sedang berjalan. Kehadiran kucing yang dihapuskan juga akan berpengaruh pada rantai makanan, ekosistem, bahkan memori penting dengan sesama. Lalu, apa mungkin kita dapat hidup abadi tanpa kehadiran hal-hal semacam ini? Tentu saja tidak.

Meski menggunakan alur maju-mundur dan sedikit membingungkan karena tidak ada batas yang begitu nampak dan jelas, visual yang ditawarkan begitu indah dan memikat. Salah satunya ketika sang postman dan mantan pacarnya melakukan traveling di masa lalu ke Argentina. Beberapa adegan flashback dengan ibunya juga diperkuat dengan visual yang apik sehingga hubungan antara anak dan ibu ditampilkan dengan baik. Film ini cocok ditonton saat waktu senggang atau bersama keluarga. (len/ann)