Resensi

Diam atau Lawan: Gugatan Moral dalam Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar

Bagaimana hukum dapat dikacaukan oleh oknum yang pandai berbicara, bagaimana “Kebodohan” timbul akibat “Kepintaran” yang tidak dibarengi dengan nurani

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Gramedia

SKETSA - “Saat hukum dan kekuasaan dipegang oleh serigala-serigala buas berbulu domba. Saat seluruh negeri dikangkangi orang-orang jualan sok sederhana tapi sejatinya serakah. Apakah kalian akan tutup mata, tutup mulut, dan tidak peduli dengan apa yang terjadi? Atau kalian akan mengepalkan tangan ke udara, LAWAN!”

Kalimat tersebut tercantum dalam blurb novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Melalui rangkaian pertanyaan reflektif, Tere Liye mengusik nalar serta keberanian moral pembaca melalui karyanya. 

Ia tidak sekadar menyajikan cerita, melainkan mengajak pembaca untuk bersikap. Berisi 371 halaman, novel ini menggambarkan potret realitas sosial yang terasa dekat dan relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. 

Karya fiksi yang dirilis pada awal 2024 ini menceritakan proses persidangan yang berlangsung selama lebih dari satu bulan. 

Sidang tersebut digelar untuk menguji hak konsesi proyek pertambangan berskala besar yang dijalankan perusahaan tambang ternama di Indonesia. Persidangan ini merupakan bentuk pemenuhan janji kampanye presiden terpilih atas desakan dan tuntutan para aktivis lingkungan. 

Seiring berjalannya persidangan, pembaca diajak menyusuri beragam kritik sosial yang terungkap melalui dinamika ruang sidang. 

Perlawanan aktivis lingkungan dengan keterbatasan sumber daya berhadapan langsung dengan pengacara terbaik yang disewa perusahaan tambang. Kritik semakin dipertegas melalui kilas balik kesaksian para saksi yang membuka lapisan demi lapisan ketimpangan dan ketidakadilan. 

Dibalut narasi tajam dan penuh sindiran, novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar memperlihatkan bagaimana wajah kekuasaan yang kerap menyamar dalam balutan “Kepintaran”, bagaimana hukum dapat dikacaukan oleh oknum yang pandai berbicara, serta bagaimana “Kebodohan” timbul akibat “Kepintaran” yang tidak dibarengi dengan nurani. 

Lebih lanjut, buku ini berusaha membawa pembaca merefleksikan “Kepintaran” yang digunakan untuk sesuatu yang tidak seharusnya. Kepintaran digambarkan sebagai alat untuk memenangkan kepentingan pribadi, memanipulasi situasi, serta melanggengkan ketidakadilan. 

Konsep kepintaran dalam buku ini tidak disertai empati dan tanggung jawab moral, melainkan dijadikan sebagai jalan pintas untuk melindungi kepentingan sang pemilik modal.

Rangkaian kisah haru dan tragis yang dialami sejumlah tokoh di dalamnya kerap dipatahkan oleh kepiawaian berargumentasi di ruang sidang. Kedekatan karakter dan realitas yang dihadirkan membuat pembaca larut dalam emosi yang beragam; sedih, benci, marah, hingga kecewa. 

Pada akhirnya, Teruslah Bodoh Jangan Pintar bukan sekadar bacaan kritik sosial. Karya ini menjadi sebuah ajakan moral bagi para pembacanya untuk bersikap di tengah ketimpangan keadilan yang nyata. 

Apakah praktik penuh dosa dapat dihapuskan atau justru dilanggengkan? Semua tergantung pada bagaimana sikap kita dan bagaimana kita memanfaatkan kepintaran kita. (ali/mou)



Kolom Komentar

Share this article