Reportase

UKM Dituntut Berprestasi, namun Harus Bergerak Mandiri

Gedung Sekretariat Center Unmul.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber gambar: quipper.com

SKETSA - Melihat Unmul yang tengah gencar megejar prestasi, apakah sudah diiringi dengan fasilitas yang memadai? Gedung SC yang menjadi markas berkumpulnya UKM se-Unmul nyatanya beberapa waktu lalu masih belum maksimal. Hal ini diungkapkan Ketua UKM Marching Band (MB) Wangsakerta dan Menteri Kebijakan Kampus BEM KM Unmul.

Sendy selaku Ketua MB Unmul menyebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan birokrat kampus untuk UKM di Unmul. Fasilitas di SC seperti penerangan yang belum maksimal. Selain itu, letak sekretariat MB yang berada di lantai tiga diakui membuat kewalahan jika ingin menyimpan alat-alat MB.

Sendy juga menuturkan, peralatan MB sama sekali tidak disokong oleh kampus, “Kami pinjam di SMP 35, awalnya peminjaman itu sistemnya sewa. Namun karena sudah lama meminjam jadi bermitra tapi kami harus menjaga barang-barang yang kami pinjam dengan sangat hati-hati agar tidak rusak,” tuturnya.

Mengenai pendanaan pelatih dan ketika ingin mengikuti lomba, ia mengaku UKM MB Universitas Mulawarman selalu patungan sembari menunggu LPJ cair. Sejak dibentuk 2017 lalu, UKM ini telah menyumbangkan beberapa prestasi salah satunya juara 1 lomba CG di Balikpapan.

“Rektor mengatakan tidak pernah menuntut ya, tapi kalau bisa ada. Namun rektorat selalu berbicara tentang hal itu yang secara tidak langsung itu menjadi tuntutan untuk kita. Banyak masalah yang terjadi ketika kami meminjam alat-alat MB itu. Kita pinjam alat tanpa keluar uang itu artinya kita utang budi besar. Salah satu balas budinya ya kita ikut bantu mereka dan menjaga alat-alat,” keluhnya.

Sementara itu di lain kesempatan, hal tersebut dibenarkan Mush’ab Al-Ma’ruf, Menteri Kebijakan Kampus BEM KM Unmul. Baginya, ketika birokrasi meminta mahasiswanya untuk berprestasi, berarti birokrasi harus siap dengan pemenuhan fasilitas sebagai penunjang kegiatan mahasiswa. Pertanyaannya, apakah Unmul sudah demikian?

Berkaca dari permasalahan UKM MB Universitas Mulawarman, disebutkan Ma’ruf seharusnya birokrat malu ketika mahasiswanya berprestasi namun tak ada satupun alat yang benar-benar difasilitasi oleh birokrat, yang mana alat tersebut selain untuk latihan juga dipakai untuk lomba.

“Tapak suci juga ketika saya tanya, latihan mereka di luar dan matras tebal untuk mereka latihan itu mereka patungan. Kalau dapat juara dapat duit mereka masukkan ke kasnya,” jelasnya.

Terkait dengan Aksi Kinerja Rektor beberapa waktu lalu, ia menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya merangkum keresahan UKM maupun fakultas. Sebenarnya respons sudah diberikan, namun dua hingga tiga bulan berselang tak kunjung terlihat tindakan dari pihak birokrat. Sehingga terjadilah aksi itu yang mengeluarkan lima tuntutan salah satunya fasilitas kampus khususnya SC.

“Alhamdulillah mulai diperbaiki walaupun ada beberapa yang belum. Termasuk Wi-fi yang memang sudah ada sebelumnya, namun hanya bertahan 2 bulan karena alatnya rusak, kini sudah diperbaiki. Air namun belum maksimal. Masalah kebersihan belum ada untuk petugas kebersihan yang bisa stay karena dari pihak birokrasi alasannya belum ada dana untuk gaji mereka, namun kami berharap teman-teman UKM saling menjaga SC ini,” paparnya.

Hasil konkrit dari aksi sementara ini yang sudah terlihat adalah penerangan dan keamanan. Untuk keamanan dijelaskan Ma’ruf pihak birokrat meminta persetujuan apabila ada satpam yang berjaga di SC, teman-teman UKM harus sepakat untuk tidak menginap di SC.


Gedung di Unmul Fasilitas Mahasiswa

Bicara soal fasilitas, berarti termasuk penggunaan gedung di dalam lingkungan kampus untuk berkegiatan mahasiswa. Dalam audiensi aksi Evaluasi Kinerja Rektor, perwakilan dari Ketua Mahasiswa Katolik mengeluhkan penggunaan gedung yang berbayar. Pernyataan itu kemudian ditanggapi serius Masjaya. Sebab seharusnya tidak ada pungutan biaya untuk penggunaan gedung untuk berkegiatan mahasiswa. Beliau pun berjanji untuk menindak tegas oknum-oknum yang meminta biaya tersebut.

Kamis (16/5) lalu, Ketua KMK akhirnya mengungkapkan kelanjutan dari keluhannya terkait pemakaian gedung berbayar di Unmul. Ia mengatakan April lalu, KMK mendatangi pihak rektorat untuk memperjelas penggunaan gedung yang berbayar tersebut. “Kalau yang bayar itu kan hanya uang kebersihan, Karena waktu itu kami enggak ada bersihin auditorium, jadi kami harus bayar. Kalau kami bersihin auditorium, kami enggak bayar,” ujar Rani, Ketua KMK saat diwawancara via telepon.

Ia juga menyatakan bahwa masalah ini sudah menemukan titik terang dan sudah diselesaikan secara baik dengan pihak birokrat. Awak Sketsa pun melakukan wawancara ke Kepala Bagian Rumah Tangga di rektorat. Ia mengatakan tidak ada penggunaan gedung yang berbayar untuk mahasiswa.

“Terkait dengan penggunaan gedung, dari dulu sebetulnya tidak ada yang namanya bayar. Saya dulunya pengelola auditorium, GOR 27, ruangan lantai 3 dan 4 (rektorat). Tidak ada kita kenakan ke mahasiswa untuk membayar dan juga tidak ada SK yang menyatakan bahwa mahasiswa harus membayar,” pungkasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tidak pernah menyuruh stafnya untuk meminta bayaran terhadap gedung-gedung tersebut, karena sudah termasuk sebagai fasilitas yang disediakan oleh kampus kepada mahasiswa. Menurut SK, penggunaan gedung di Unmul yang berbayar adalah untuk orang-orang luar Unmul. Ia juga mengatakan pihaknya telah mengusulkan kepada rektor untuk menyiakapkan dana tambahan di luar jam kerja bagi para pekerja di gedung-gedung tersebut apabila ada mahasiswa yang ingin menggunakannya di akhir pekan, yaitu Sabtu.

Pada saat audiensi, pihak KMK menyatakan bahwa gedung yang mereka gunakan itu berbayar, dan uangnya diberikan kepada Syaiful (staf bagian rumah tangga). Hingga kini Sketsa masih tengah berupaya meminta konfirmasi Syaiful. (yun/syl/wuu/ina/ren/mrf/snh/rst/sii/adl/els)



Kolom Komentar

Share this article