Jendela Kaca Mati

Jendela Kaca Mati

Sumber: pinterest.com

Terbayang langit biru dibatasi jendela kaca mati

Kala undangan luar datang mereka terselip di sana menanti

Tak jarang berhambur jatuh karena tak pernah kuingini

Lalu di sana, di sebelahnya telepon di meja terus berbunyi

Tak jarang suaranya enggan kubedakan dengan aku yang merintih


Lalu, dia yang tak pernah mengerti itu datang lagi

Aku bukanlah tempat untuk dia singgahi, kuharap dengan kakinya ia melangkah pergi

Tapi tidak, kakinya malah sibuk berderu dengan tangannya yang sibuk di sisi jendela kaca mati

Aku berteriak sudahi, tapi ia seperti tuli

Aku bilang pergi, tapi ia tetap gigih

Aku menggertak pasti, tapi ia kemudian menangis lirih


“Kamu punya bahagia yang menunggu” katanya dengan suara tinggi

“Aku tak sanggup” katanya menambahi

“Aku tak sanggup melihatmu tenggelam dalam duniamu yang sedih”


Kemudian tanpa kusadari,

Entah sudah goresan keberapa yang ku buat di gelang-gelang jemari

Yang kuyakini merahnya mengalir lebih deras dari pagi tadi

Bahkan entah sudah berapa ratus lembar tisu yang basah kemudian kering lagi

Mereka menyatu dalam lara, sedih dan air mata di sini

Aku tak tahu,

Aku tak tahu jika dunia yang dulunya ku cintai akan seperti ini


Jendela kaca mati itu kemudian pecah jadi serpih,

Dalam pandangku yang kabur kulihat ia berlari

Sayang aku tak pernah sadar, harusnya sudah lama jendela itu ku ganti

Tapi aku malah di sini, memungkiri dalam sepi, terbunuh oleh duniaku sendiri

Ditulis oleh Anisa Amalia, mahasiswi Sastra Inggris, FIB 2016