Mitos Kepuhunan di Kalimantan, Masih Ada yang Percaya?
Jangan jalan sebelum mencicipi makan dan minum yang ditawari, nanti kepuhunan
Sumber Gambar: Kemendikdasmen SMA
Tahun sudah 2026, zaman ke zaman telah dilewati. Sekarang kita hidup di zaman modern. Pada saat ini, pola pikir masyarakat seharusnya sudah tidak kuno memasuki pembaruan yang rasional. Namun, masyarakat Indonesia masih mempercayai mitos turun-temurun.
Dikutip dari jurnal yang ditulis Syaripulloh pada 2017 dengan judul “Mitos di Era Modern” menyebut bahwa mitos adalah kejadian yang menyebabkan manusia dipengaruhi dan menjadi sebagaimana ia ada sekarang ini.
Salah satu mitos yang biasa masyarakat Kalimantan ucapkan adalah: Jangan jalan sebelum mencicipi makan dan minum yang ditawari, nanti kepuhunan.
Kepuhunan atau yang ditulis dalam bahasa Banjar Kapuhunan adalah sebuah mitos masyarakat lokal di Kalimantan. Istilah ini digunakan ketika seseorang ingin pergi, lalu ditawari makan dan minum, tetapi tidak dilakukan dan akhirnya akan tertimpa musibah.
Kepuhunan merupakan tradisi yang telah lama ada dan banyak dipercaya masyarakat Kalimantan. Kepuhunan ini tidak hanya tentang menghindari kesialan, tetapi mencerminkan budaya saling menghormati dan menjaga hubungan antar sesama.
Saya sendiri mau membuktikan, bahwa hal tersebut adalah mitos yang tidak akan terjadi. Kala itu saya ditawari makanan saat ingin melakukan perjalanan, tapi saya menolak karena saya sungguh tidak percaya akan mitos tersebut. Saat di jalan, saya bisa membuktikan bahwa saya baik-baik saja. Saya tidak kena sial atau kecelakaan.
Orang cenderung ingat bahwa mereka celaka karena menolak makan dan minum. Namun, mereka tak mengindahkan dan mengingat bahwa mereka selamat meskipun menolak. Hal ini bisa terjadi karena terdoktrin oleh omongan mitos orang banyak.
Saya berasumsi bahwa orang zaman dahulu menciptakan kalimat “Jangan jalan sebelum mencicipi makan atau minuman yang ditawari, nanti kepuhunan,” agar orang-orang tidak kelaparan dan kehausan di saat perjalanan. Apalagi orang zaman dahulu minim atau bahkan tidak punya kendaraan. Masih menggunakan kaki saja untuk berjalan-jalan.
Bisa juga bahwa menolak makanan dan minuman pemberian orang dianggap tidak menghargai orang tersebut. Jadi, sebagai orang yang ditawari makan, harus menerimanya.
Tidak masalah jika masyarakat masih mempercayai mitos ini dengan bermaksud agar menghargai pikiran orang zaman dahulu dan menghargai yang menawarkan makanan atau minuman. Namun, jangan sampai rasa hormat terhadap mitos memecahkan nalar logis manusia. Kecelakaan atau kesialan, yang menentukannya hanyalah Tuhan.
Opini ini ditulis oleh Lola Setia Hidayani, mahasiswa Program Studi Kehutanan FKLT Unmul 2023.