Opini

Cukupkah Kita Mendokumentasikan Kalimantan Timur Sebelum Ia Berubah?

Seberapa banyak dari generasi kita yang mengetahui bagaimana Kaltim sebelum menjadi provinsi penghasil batu bara terbesar di Indonesia? Siapa kita sebelum menjadi daerah penyangga Ibu Kota Nusantara?

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: YouTube, Sexy Killers (Watchdoc)

Setelah puluhan tahun ditopang oleh sumber daya ekstraktif, perbincangan tentang masa depan Kalimantan Timur (Kaltim) pasca bonanza batu bara semakin ramai terdengar. Keterbatasan cadangan batu bara dan tingginya ketergantungan Kaltim terhadap sektor ekstraktif menjadikan transisi ekonomi sebagai sebuah keniscayaan.

Pemerintah dan berbagai aktor lainnya mulai merancang fondasi ekonomi pasca tambang melalui pengembangan sektor yang lebih beragam dan berkelanjutan, seperti agroindustri, pariwisata, serta ekonomi kreatif.

Saat transisi ini menyibukkan kita dengan pertanyaan "Ekonomi apa yang akan menggantikan batu bara?", ada dimensi lain yang luput dari perhatian kita.

Transisi Bukan Hanya Persoalan Ekonomi
Perubahan yang dibawa oleh akhir dari bonanza batu bara sebenarnya tidak hanya persoalan ekonomi. Selama puluhan tahun, kegiatan ekstraktif di Kaltim telah membawa daya rusak yang hampir tidak terpulihkan. Berubahnya bentang alam turut merubah cara hidup dan identitas masyarakat Kaltim. 

Perubahan-perubahan ini dapat menyebabkan hilangnya memori kolektif masyarakat, sehingga sebagian pengetahuan dan cerita tentang Kaltim berisiko menjadi kepingan puzzle yang hilang bagi generasi selanjutnya.

Gejala tersebut sebenarnya sudah kita rasakan hari ini. Jika kita refleksikan sejenak, seberapa banyak dari generasi kita yang mengetahui bagaimana Kaltim sebelum menjadi provinsi penghasil batu bara terbesar di Indonesia?

Atau siapa kita sebelum menjadi daerah penyangga Ibu Kota Nusantara?

Ketika kita kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang sedang kita hadapi mungkin bukan sekadar kurangnya pengetahuan sejarah. Lebih dari itu, kita sedang mengalami terputusnya ingatan kolektif tentang tempat yang kita tinggali—ingatan yang seharusnya diwariskan dari generasi sebelumnya kepada generasi setelahnya.

Putusnya Ingatan Kolektif Suatu Masyarakat (Social Memory Loss)
Memori bukan hanya soal ingatan yang tersimpan di kepala manusia, tetapi juga representasi dari kehidupan suatu masyarakat pada ruang dan waktu tertentu. Memori menyimpan pengetahuan lokal, praktik keseharian, nilai-nilai, cerita, serta hubungan masyarakat dengan tempat yang mereka tinggali.

Karena itu, ketika suatu bentang alam mengalami perubahan yang drastis, masyarakat tidak hanya kehilangan ruang hidupnya, tetapi juga pengetahuan dan pengalamannya yang melekat pada ruang tersebut. 

Apa yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perlahan kehilangan relevansinya, tidak lagi dipraktikkan, dan pada akhirnya tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Namun, meskipun tidak lagi relevan dalam kehidupan sehari-hari, memori kolektif tetap penting sebagai penanda identitas suatu masyarakat. Ia memungkinkan generasi mendatang memahami asal-usul tempat yang mereka tinggali, mengenali hubungan yang pernah terjalin antara manusia dan lingkungannya, serta melihat kondisi yang mereka warisi hari ini merupakan hasil dari proses sejarah yang panjang.

Tanpa memori tersebut, suatu masyarakat berisiko kehilangan bukan hanya pengetahuan tentang masa lalunya, tetapi juga pemahaman tentang dirinya sendiri.

Dokumentasi Sebagai Infrastruktur Memori
Lalu bagaimana kita memastikan pengetahuan, pengalaman, dan cerita tentang Kaltim tetap dapat diakses oleh generasi selanjutnya? 

Salah satu caranya adalah melalui dokumentasi.

Dokumentasi yang dimaksud di sini bukanlah upaya untuk bernostalgia atau meromantisasi masa lalu. Bukan sekadar untuk mengenang bagaimana dahulu tongkang-tongkang pernah berlalu lalang di Sungai Mahakam, bahkan menabrak jembatan. 

Lebih dari itu, dokumentasi di sini berperan sebagai arsip dan medium pewarisan pengalaman. Dengan kata lain, dokumentasi membantu memastikan bahwa perubahan yang terjadi hari ini tidak menghapus seluruh jejak tentang kehidupan yang pernah ada sebelumnya.

Ia memungkinkan pengetahuan, cerita, dan pengalaman suatu generasi tetap dapat diakses oleh generasi yang tidak pernah mengalaminya secara langsung. 

Bentuk dokumentasi tersebut dapat bermacam-macam, baik lisan maupun non-lisan, begitu pula arsip audiovisual seperti film, dokumenter, fotografi, karya jurnalistik, hingga bentuk-bentuk lainnya.

Dokumentasi sebagai Mumi dan Virus
Salah satu contoh dokumentasi yang menarik adalah Ekspedisi Indonesia Biru yang dilakukan Dandhy Laksono dan Ucok Suparta pada 2015. Melalui ekspedisi tersebut, mereka mendokumentasikan berbagai komunitas dan ekosistem di Indonesia yang masih berupaya mempertahankan hubungan seimbang dengan alam di tengah arus modernisasi. 

Hasilnya adalah puluhan serial dokumenter yang tidak hanya menjadi karya audiovisual, tetapi juga arsip tentang cara hidup, pengetahuan, dan hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya pada suatu masa.

Dandhy menjelaskan dokumentasi memiliki fungsi yang melampaui kebutuhan hari ini. Jika suatu ekosistem atau cara hidup tersebut punah di masa depan, dokumentasi dapat berfungsi layaknya mumi yang menyimpan jejak kehidupan masa lalu untuk dipelajari dan dibangkitkan kembali.

Sebaliknya, jika ia berhasil bertahan, dokumentasi dapat menjadi "virus" yang menyebarkan pengetahuan dan inspirasi kepada komunitas lain yang telah kehilangan pengalaman serupa.

Gagasan ini menunjukkan dokumentasi memiliki peran krusial dalam menjaga memori kolektif. Ia bukan sekadar catatan tentang masa lalu, melainkan upaya untuk memastikan bahwa pengetahuan, pengalaman, dan cara hidup suatu masyarakat tidak hilang bersama perubahan zaman.

Lalu pertanyaan selanjutnya, sudahkah kita cukup mendokumentasikan Kaltim yang sedang berubah hari ini? 

Atau justru kita membiarkan sebagian ingatan tentang tempat ini hilang perlahan, tanpa sempat dicatat, disimpan, dan diwariskan kepada generasi setelah kita?

Opini ini ditulis oleh Della Nur Aprilia, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unmul 2023.



Kolom Komentar

Share this article