Opini

Kampus dan Budaya Literasi yang Semakin Sunyi

Tergerusnya kemampuan literasi di kalangan perguruan tinggi

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Jurnalpost

SKETSA - Kampus seharusnya menjadi ruang hidup bagi tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis. Di tempat inilah gagasan diuji, perdebatan dirawat, dan pengetahuan terus berkembang. 

Namun realitas yang sering terlihat justru sebaliknya. Perpustakaan tidak seramai kafe, diskusi ilmiah kalah dengan obrolan santai, serta mahasiswa lebih akrab dengan ringkasan materi dibandingkan sumber bacaan utamanya.

Padahal di lingkungan perguruan tinggi, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis secara teknis. Literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan mengkritisi informasi secara mendalam. 

Tanpa kemampuan berliterasi, mahasiswa akan kesulitan mengembangkan pemikiran kritis yang menjadi ciri utama dunia akademik. Ironisnya, di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan membaca justru semakin tergeser oleh budaya instan. 

Banyak mahasiswa lebih memilih membaca ringkasan di internet atau potongan informasi di media sosial dibandingkan menelaah buku atau jurnal secara utuh. Akibatnya, pemahaman terhadap suatu isu seringkali menjadi dangkal dan mudah terjebak pada kesimpulan yang terburu-buru.

Kondisi ini berdampak pada kehidupan akademik. Diskusi ilmiah menjadi jarang dilakukan karena minimnya referensi yang dibaca, tugas perkuliahan diselesaikan sekadar memenuhi kewajiban, bukan proses eksplorasi pengetahuan. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang membaca hanya ketika ada ujian atau tugas tertentu, bukan karena kebutuhan intelektual. 

Jika hal tersebut terus dibiarkan, kampus berpotensi kehilangan salah satu ruh utamanya sebagai ruang produksi pengetahuan. Mahasiswa mungkin tetap lulus dengan gelar sarjana, tetapi tanpa tradisi literasi yang kuat, kemampuan berpikir kritis dan analitis akan sulit berkembang. 

Padahal, perguruan tinggi seharusnya melahirkan generasi yang mampu membaca realitas sosial secara tajam dan menawarkan gagasan baru bagi masyarakat. Karena itu, membangun kembali budaya literasi di kampus tidak bisa hanya dibebankan kepada mahasiswa semata. 

Perguruan tinggi perlu menciptakan ekosistem yang mendukung kebiasaan membaca dan berdiskusi, mulai dari penyediaan akses literatur yang memadai, penguatan peran perpustakaan, hingga pengembangan komunitas baca dan forum diskusi mahasiswa.

Pada akhirnya, budaya literasi bukan hanya soal seberapa banyak buku yang dibaca, tetapi seberapa jauh pengetahuan itu mampu membentuk cara berpikir. 

Opini ini ditulis oleh Tiara Syerra Ramadhani, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik FISIP Unmul 2025.



Kolom Komentar

Share this article