Opini

Kecintaan Terhadap Bahasa Lokal yang Menumbuhkan Rasa Bangga Sekaligus Defensif Bagi Knetz

Fenomena Knetz menggunakan hangul di media sosial menunjukkan bahwa kecintaan terhadap bahasa sendiri dapat menjadi kekuatan budaya sekaligus identitas nasional di tengah arus globalisasi

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Pinterest

SKETSA - Di era globalisasi yang ditandai dengan dominasi bahasa Inggris dalam berbagai bidang, sikap masyarakat Korea Selatan yang tetap mempertahankan penggunaan bahasa Korea di ruang publik maupun digital menjadi fenomena yang menarik beberapa waktu lalu. 

Komunitas pengguna internet Korea yang sering disebut Knetz (Korean netizens) dikenal memiliki kecenderungan kuat untuk menggunakan bahasa Korea dalam berbagai diskusi, komentar, hingga produksi konten. Kecintaan mereka terhadap bahasa sendiri tidak hanya menjadi kebiasaan komunikasi, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dan kebanggaan nasional.

Menurut pandangan saya, sikap Knetz yang mencintai bahasa sendiri merupakan sesuatu yang patut diapresiasi. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga representasi sejarah, nilai, dan identitas suatu bangsa. 

Korea Selatan menunjukkan bagaimana bahasa dapat menjadi bagian penting dalam menjaga jati diri di tengah arus globalisasi. Dengan tetap menggunakan Hangul (Aksara Korea) dalam berbagai platform digital, masyarakat Korea secara tidak langsung menjaga warisan budaya yang telah ada sejak masa Raja Sejong, pencipta sistem tulisan Hangul.

Salah satu kelebihan dari budaya ini adalah kuatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian bahasa. Banyak negara yang mengalami pergeseran bahasa karena pengaruh globalisasi, terutama melalui media sosial dan budaya populer. 

Tapi tidak seperti Korea Selatan yang justru mampu mempertahankan penggunaan bahasa Korea bahkan ketika produk budaya mereka seperti K-pop, film, dan drama mendunia. Hal ini menunjukkan bahwa globalisasi tidak selalu diikuti dengan meninggalkan bahasa sendiri. Sebaliknya, bahasa lokal justru dapat menjadi kekuatan budaya yang unik.

Selain itu, kecintaan Knetz terhadap bahasa Korea juga memperkuat industri budaya mereka. Konten-konten seperti drama, film, dan musik tetap menggunakan bahasa Korea sebagai identitas utama. Keaslian bahasa ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton internasional. 

Banyak orang dari berbagai negara mulai tertarik mempelajari bahasa Korea karena sering mendengar atau melihatnya dalam produk budaya populer. Jadi, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya yang memperluas pengaruh Korea di dunia.

Berdasarkan fenomena tersebut, sikap yang terlalu protektif terhadap bahasa juga memiliki sisi negatif. Dalam beberapa kasus, Knetz dikenal cukup keras dalam mengkritik penggunaan bahasa asing atau penulisan yang dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Korea. 

Fenomena ini sering disebut sebagai bentuk “Policing Language”, yaitu kecenderungan masyarakat untuk mengawasi dan mengoreksi penggunaan bahasa orang lain di ruang digital. Jika tidak disikapi secara bijak, hal ini dapat menimbulkan tekanan sosial bagi pengguna internet yang tidak mengikuti standar bahasa yang dianggap benar.

Tidak hanya itu, kecenderungan yang terlalu kuat terhadap penggunaan bahasa lokal juga dapat menciptakan kesan eksklusif dalam komunikasi global. Di dunia internet yang semakin terhubung secara internasional, penggunaan bahasa yang lebih universal sering kali membantu memperluas jangkauan komunikasi. 

Ketika suatu komunitas terlalu tertutup terhadap bahasa asing, hal ini berpotensi membatasi interaksi dengan masyarakat global. Meskipun demikian, saya melihat bahwa sikap Knetz terhadap bahasa Korea lebih banyak membawa dampak positif daripada negatif. 

Mereka menunjukkan bahwa globalisasi tidak harus menghilangkan identitas budaya. Justru dengan mempertahankan bahasa sendiri, sebuah bangsa dapat tetap berpartisipasi dalam percaturan global tanpa kehilangan jati dirinya. 

Korea Selatan menjadi contoh bagaimana bahasa dapat menjadi bagian dari kekuatan budaya yang memperkuat identitas nasional sekaligus menarik perhatian dunia. Secara umum, budaya Knetz yang mencintai bahasa sendiri menunjukkan bahwa bahasa dapat menjadi simbol identitas sekaligus kekuatan budaya suatu bangsa. 

Sikap ini membawa dampak positif dalam menjaga warisan budaya, memperkuat identitas nasional, serta mendukung perkembangan industri budaya Korea di tingkat global. Meskipun demikian, kecenderungan yang terlalu protektif terhadap bahasa juga dapat menimbulkan keterbatasan dalam komunikasi global.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah keseimbangan. Mencintai bahasa sendiri adalah hal yang sangat baik, tetapi keterbukaan terhadap bahasa dan budaya lain juga tetap diperlukan. Dengan sikap yang seimbang, masyarakat dapat menjaga identitas budayanya sekaligus beradaptasi dengan perkembangan dunia yang semakin global. 

Budaya Knetz memberikan pelajaran bahwa kebanggaan terhadap bahasa sendiri bukanlah hambatan bagi kemajuan, melainkan dapat menjadi fondasi yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. 

Oleh karena itu, sikap yang paling ideal adalah menjaga keseimbangan antara kebanggaan terhadap bahasa sendiri dan keterbukaan terhadap bahasa lain. Dengan cara tersebut, suatu masyarakat dapat tetap mempertahankan identitas budayanya tanpa menghambat interaksi dan perkembangan di dunia yang semakin terhubung secara global.

Opini ini ditulis oleh Anisa Nuraini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unmul 2024.



Kolom Komentar

Share this article