Sumber Gambar: Dokumen Pribadi
Ada hal-hal yang tidak dikisahkan,
karena ia lebih layak disimpan
di antara lembar hening
dan halaman yang harum karena doa.
Bukan karena takut kehilangan,
melainkan karena aku belajar
bahwa kasih yang sungguh
tidak memohon dikenali,
hanya berserah dalam percaya—
meski tanda tak kunjung turun
dalam bentuk yang bisa dipeluk mata.
Aku tahu,
kasih yang mengakar dalam iman
tidak perlu hadir dalam rupa,
cukup dalam kesediaan hati
yang menyambut pagi dengan sabar
dan menyalakan lilin-lilin kecil dalam batin,
di ruang yang tak pernah benar-benar sepi.
Sebab mencintai bukan soal menggenggam,
melainkan tentang tetap tinggal,
meski tiada suara yang menjanjikan pulang.
Dan jika aku diam,
bukan karena pasrah,
melainkan karena aku memurnikan rasa
dari segala hasrat ingin memiliki.
Aku menunggu seperti altar menanti perjamuan,
bukan karena lapar,
tapi karena tahu siapa yang akan datang
pasti membawa anggur dan makna.
Biarlah waktu menjadi bilik rahasia
tempat aku menata detik dengan takzim,
menyulam harap dari benang yang rapuh,
namun tak putus meski digerogoti ragu.
Karena kasih sejati tidak datang tergesa,
ia tiba seperti embun
yang tak pernah diumumkan malam,
namun setia menyapa dedaunan
yang bersedia diam.
Dan jika tidak,
aku tetap akan setia menjaga mimbar dalam dadaku,
tempat nama itu—yang tak perlu kusebut—
kutitipkan dengan tenang
pada kehendak yang lebih tinggi dariku.
Puisi ini ditulis oleh Davynalia Pratiwi Putri, mahasiswi program studi Sastra Indonesia FIB Unmul 2021