Ilustrasi: Freepik
SKETSA - Bagaimana jadinya jika kepercayaan diri kita berkurang atau bahkan menghilang ketika kita sedang ingin mencapai suatu tujuan? Padahal, kepercayaan diri untuk mencapai suatu tujuan merupakan hal yang utama.
Perasaan tidak percaya diri bisa muncul akibat adanya bentuk diskualifikasi diri, yang tanpa disadari kita lakukan sehari-hari. Diskualifikasi diri ini biasanya membuat kita merasa tidak mampu untuk melakukan suatu tindakan sebelum kita mencobanya. Tak perlu risau, sebab masalah ini dapat kamu atasi dengan menerapkan self-efficacy, lo!
Melansir dari situs Alodokter.com, self-efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan dan kepercayaan akan kemampuan diri sendiri untuk berhasil dalam situasi atau tujuan tertentu. Misalnya tujuan untuk menjadi juara di suatu perlombaan, naik pangkat dalam suatu pekerjaan, menaikkan berat badan, berhenti dari kebiasaan buruk, ataupun sembuh dari suatu penyakit.
Kemampuan self-efficacy ini sangat penting untuk dimiliki oleh setiap individu, utamanya bagi mahasiswa. Sebab semakin tinggi self-efficacy seseorang, maka semakin tinggi pula perasaan mampu bekerja dan mencapai tujuan hidup dengan baik. Keyakinan diri tersebutlah yang menjadi motivasi bagi seseorang untuk berusaha mencapai tujuannya.
Berbanding terbalik jika tingkat self-efficacy yang dimiliki rendah. Biasanya mereka cenderung akan merasa kurang percaya diri yang berujung mudah menyerah pada tujuannya. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini tentunya dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis seseorang.
Berikut Sketsa rangkum beberapa hal yang bisa kamu terapkan untuk membangun self-efficacy terutama bagi seorang mahasiswa. Simak, ya!
1. Belajar dari kegagalan
Setiap pengalaman yang pernah kita alami, tentu tidak semua dapat berjalan lancar. Kegagalan yang terjadi seyogianya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki hal-hal serupa di masa mendatang. Contohnya ketika mendapat nilai yang kurang memuaskan pada suatu mata kuliah. Setelah ditelusuri, ternyata penyebabnya adalah kehilangan fokus saat mengerjakan ujian akhir. Di semester selanjutnya, pastikan kamu mengerjakan ujian dengan waktu yang cukup agar hasil tugasmu lebih teliti.
2. Mengamati keberhasilan atau pencapaian orang lain
Membandingkan pencapaian diri sendiri terhadap orang lain tidaklah selamanya buruk. Dengan mengamati pencapaian orang lain, kamu bisa meningkatkan self-efficacy. Apalagi orang yang kita amati memiliki background yang mirip dengan kita. Contohnya ketika ada teman satu jurusan yang memenangkan sebuah lomba yang berhubungan dengan jurusanmu. Kamu bisa memotivasi diri untuk melakukan hal serupa. Tentunya dengan belajar dan melatih diri agar kemampuanmu dapat berkembang.
3. Dapatkan feedback positif
Untuk bisa yakin terhadap kemampuan diri, kamu mungkin perlu dukungan atau feedback positif dari orang-orang terdekat. Hal ini bisa kamu mulai dengan menanyakan pendapat teman terdekatmu terkait presentasi yang telah kamu latih dengan baik di depan mereka. Tanggapan positif yang akan kamu dapatkan nanti bisa membuatmu termotivasi dan yakin bahwa dirimu mampu meningkatkan kemampuan yang kamu miliki.
4. Mengelola pikiran dan emosi
Mengelola pikiran dan emosi dengan lebih baik adalah hal yang diperlukan dalam meningkatkan self-efficacy. Kamu harus sebisa mungkin tidak membiarkan pikiran negatif mendominasi yang dapat mengganggu konsentrasi. Misalnya, saat sedang merasa cemas untuk menghadapi ujian. Mengontrol rasa cemas dapat kamu lakukan dengan self-talk yang positif terhadap diri sendiri. Kalimat positif yang bisa kamu coba adalah, "kamu sudah belajar dan mempersiapkannya dengan baik" atau "hari esok pasti berjalan lancar".
Nah itu tadi kiat-kiat meningkatkan self-efficacy yang bisa kamu terapkan. Namun perlu diingat, self-efficacy yang berlebihan juga tidak baik, lo! Tetap rendah hati dan jangan malas untuk mengembangkan diri di berbagai bidang yang kamu minati, ya. (tha/nkh)