Sepuluh Permen Mint

Sepuluh Permen Mint

Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup. Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara. Engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara. Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus di sini. Mencintaimu. Entah kenapa.

-Dewi Dee Lestari-


Berpandai-pandailah dalam memilih teman, karena teman adalah cerminan kepribadianmu. Begitulah kurang lebih kata yang kuingat dari salah satu motivator kondang Indonesia. Meski belakangan tak lagi muncul sejak terlibat skandal. Sedikit banyaknya, kata motivator berkepala plontos itu kuterapkan. Hingga sekarang hidupku dikelilingi teman-teman baik. Aku berada dalam lingkaran pertemanan yang sama sejak semester satu hingga sekarang aku duduk di bangku kuliah semester empat. Meski kadang sedikit drama dan secuil tragedi iseng mewarnai pertemanan kami. Maklumlah, tidak mudah menyatukan enam kepala dengan pemikiran berbeda menjadi sebuah ide.

Apa yang paling kusukai dari pertemanan ini? Nongkrong di kafe? Main game? Diskusi tugas-tugas kuliah? Bukan, sama sekali bukan. Satu-satunya yang kuinginkan dan kurindukan dari pertemanan ini adalah kamu. Aku tak tahu kenapa aku bisa jatuh rasa padamu. Tak ada yang spesial dari tingkahmu, pun tak ada yang istimewa dari parasmu. Namun setiap inci kulitmu adalah kerinduan yang ingin kuteguk. Sesekali aku menahan diri untuk tidak menyentuhmu saat kau membuka baju di hadapanku. Seperti saat kita berenang bersama atau saat kau kegerahan bermain game bersama di rumah Dilan. Tentu saja semua itu hal yang biasa bagimu. Tapi tidak bagi kepala yang dipenuhi oleh asmara ini.

Seringkali aku duduk ditemani hujan dan bertanya pada rintiknya: kebaikan apa yang pernah kulakukan hingga aku bisa berada dalam lingkaran yang sama denganmu? Sesekali aku juga tersenyum pada debu jalanan, sembari bercerita bahwa hari ini sembilan senyum yang kudapat darimu dan empat kali kau tertawa karena jokesku. 

Namun ketika malam datang, saat kejujuran dipaksa keluar oleh keheningan, aku berhenti menghibur diri dan mengaku pada angin malam bahwa senyum dan tawamu bukan untukku. Semua itu untuk kita berenam.

Aku hanya terlalu naif dan enggan mengakui bahwa aku biasa saja bagimu. Hanya kepada sunyi malam, aku berani menyandarkan hati yang lelah akan harapan. Kepada sunyi malam juga aku akan melampiaskan rindu dendam, menyumpah kenapa aku dilahirkan begini. Menyumpah atas sesuatu yang salah, yang haram untuk kurasakan. Bagaimana mungkin rasa ini bisa berkecambah di hati? Bagai bumi mencintai langit, tak akan pernah bersatu. 

Acapkali aku mengiris-iris tubuh dengan kuku, mencakarnya hingga berdarah, membenturkan kepala ke dinding, bahkan menjatuhkan diri dari tangga. Aku tak peduli, yang kubutuhkan hanya rasa sakit. Sakit yang dapat mengalahkan diri ini. Sakit yang dapat mengalihkan pikiranku darimu. Duhai, sakit apapun akan kuterima asal jangan sakit karena rasa ini.

Kerap kali kau bertanya ketika kau dapati tubuhku penuh dengan lebam dan bilur-bilur. Aku tersenyum dan beralasan atas setiap luka.

“Ini luka karenamu,” bisik suara hatiku.

Cepat-cepat kututup mulut agar kebodohan itu tak tersuarakan. Ada seiris luka yang bersemayam di hati tatkala kau bertanya. Jujur ini memang lebam karenamu. Oh, bukan. Ini salahku. Salahmu hanya terlahir mengagumkan, sedang salahku menikmati kecanduan padamu!

Aku tak ingat kapan pertama kali kau menjadi candu. Aku candu berjalan bersamamu. Candu melihat kau merapikan rambut. Candu pada aroma tubuhmu. Candu melihat kau menjelaskan materi kuliah. Candu mendengar apa pun yang keluar dari mulutmu. Candu mendengar ocehanmu tentang kucing, darimu aku tahu bahwa kucing memiliki "Psi travelling", kemampuan menemukan jalan pulang dengan mengandalkan kumis dan sinar matahari, yang kau jelaskan dengan menggebu-gebu. 

Sejak kecanduan dirimu, diam-diam aku mulai suka pada makhluk kecil berbulu itu. Binatang yang benar-benar tak pernah kupedulikan sebelumnya.

Waktu terus berjalan, melesat maju meninggalkan mereka yang terseok-seok. Bertahun sudah kita merangkak bersama mengejar waktu. Selama itu pula rasa yang kupupuk terus tumbuh. Dari kecambah menjadi sebatang cinta yang besar. Meski begitu, tak sekalipun aku menceritakan pada siapa pun mengenai rasa ini. Hingga pada akhirnya aku lelah menahan semua. Hari ini, ya hari ini di tanggal 1 Januari izinkan aku menyampaikan rasa terlarang ini. Meski resikonya adalah kehilangan dirimu dan semua yang kita bangun bersama. Biarkan, biarkan aku menghilang setelah kusampaikan rasa ini. Aku berjanji tidak akan mengusikmu lagi.

“Kau tahu Rio, kaum Sodom di zaman Nabi Luth dibinasakan Tuhan karena ini." 

Suaramu serak setelah kebenaran itu tersampaikan. Kau menatapku tajam. Sudut matamu berbicara, seolah aku makhluk nista yang pantas dicampakan ke dalam lautan magma. Tanganmu terkepal. Dadamu naik turun, sesak menahan murka. Tubuhmu mengatakan padaku ‘pergi saja kau ke neraka!’

“Aku tahu Afdal, aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya, hanya… biarkan mencintaimu tanpa syarat.”

Tiba-tiba kau berteriak. Mengeluarkan sumpah serapah yang tak bisa kupahami. Perlahan pandanganku mengabur. Basah. 

Sore ini, aku melihat sisi lain dari dirimu. Kelembutan dan kebaikan yang sering kulihat menguap seketika. Pun denganmu yang melihat sisi lain dari diriku. Hari ini tak ada lagi yang kusembunyikan selain perasaan malu yang menghantam kepalaku, dan sedih yang menembus sampai ke ulu hati. Kau masih sibuk meracau, aku  mendengarkan namun tidak menyimak. Lalu kau diam, meletakan tangan di dahi sambil menyisir rambutmu ke belakang. Bahkan dalam situasi seperti ini kau tetap terlihat mengagumkan.

Sore ini, aku melepas senja sambil menatap punggungmu saat perlahan berbalik. 10 permen mint yang kau berikan, kugenggam di tangan kanan. Permen mint tanda perpisahan yang kau berikan tanpa sepercikpun suara. Setelah aku berjanji tak akan muncul lagi di kehidupanmu, aku tak tau apakah semua tetap sama. Akan kah kita sanggup biasa saja di depan teman-teman lain? Aku menyadari tak ada tempat di dunia ini untuk orang-orang sepertiku. Perasaan yang tumbuh adalah kesalahan terbesar di mata umat manusia. Besok saat teman-teman lain mengetahui siapa aku sebenarnya, tak ada lagi harga atas jiwa ini. Menjadi seonggok daging berjalan tanpa nilai, manusia paling hina hanya karena mencintai teman sejenisnya.

Ditulis oleh Rabi’atul Husna, mahasiswi semester empat, jurusan Akuntansi FEB Unmul.