Sumber foto: Fadiah Adlina
SKETSA – Tepat hari ini, sudah 21 tahun reformasi di ibu pertiwi. Memperingati momentum sejarah tersebut, puluhan mahasiswa Samarinda yang tergabung dalam Aliansi Garda Kaltim Peduli Reformasi siang tadi (21/5) menyerukan aksi. (Baca: https://sketsaunmul.co/berita-kampus/gejolak-mahasiswa-sambut-21-tahun-reformasi/baca). Bertajuk Reformasi Tak Berdaulat, massa aksi membawa tuntutan yang menyasar ke gedung DPRD Kaltim. Menumpahkan keresahan dalam orasi dan juga berharap banyak dengan menyampaikan aspirasi.
Sekitar pukul 14.40 Wita, massa aksi datang dan merapat di luar pagar gedung DPRD Kaltim, berhadapan dengan barisan polisi yang sudah berjaga. Ada empat tuntutan yang dibawa massa aksi. Pertama, tegakkan demokrasi, berantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), tolak pembungkaman pers, tindak tegas pelanggaran HAM, refresivitas masyarakat. Kedua, tindak tegas pelaku kasus kekerasan seksual. Ketiga, menuntut stabilitas ekonomi Kaltim. Terakhir, jaga kedamaian dan kedaulatan pasca pemilu.
Di bawah langit yang mendung, mahasiswa beberapa kali mendesak untuk dapat masuk ke dalam gedung. Namun petugas keamanan terus berjaga di barisan depan. Hingga hujan deras mengguyur siang tadi, tak menghalau keinginan mahasiswa untuk masuk. Sampai akhirnya aksi saling dorong pun tak terelakkan. Tak beberapa lama, mahasiswa diizinkan untuk masuk ke halaman gedung.
Di sana, Rusman Ya’qub, anggota DPRD Kaltim beserta jajarannya sudah menyambut kehadiran massa aksi. Melalui perwakilan mahasiswa, empat tuntutan dibacakan dan direspons langsung oleh Rusman. Ia menyatakan tuntutan yang dibawa oleh mahasiswa akan langsung diteruskan untuk kemudian ditindaklanjuti. “Karena memang kita rasakan, 21 tahun reformasi masih banyak permasalahan yang belum tertuntaskan. Oleh karena itu kewajiban kita semua untuk mengawal jalannya reformasi bangsa ini, termasuk oleh mahasiswa,” ujarnya.
Ia juga menyatakan terima kasihnya kepada mahasiswa karena sudah konsisten dan turut serta mengawal jalannya reformasi. “Jangan pernah berhenti mengawal bangsa ini menuju cita-cita sebagaimana yang diinginkan founding fathers bangsa kita,” tegasnya.
Tak cukup sekadar jawaban lisan, mahasiswa meminta Rusman untuk menandatangani nota kesepahaman, bahwa pihaknya menerima dan akan menyepakati tuntutan tersebut. Selepas itu, mahasiswa beranjak dan melakukan upacara penaikan bendera setengah tiang dan salat gaib untuk mengenang para pahlawan reformasi.
“Tuntutan tadi sudah disepakati oleh Pak Rusman Ya’qub. Sama seperti saat ini 21 tahun reformasi, maka kita kasih waktu 21 hari,” ujar Usamah, humas aksi.
Ia mengatakan pihaknya akan terus mengawal selama 21 hari ke depan dan akan mendatangkan massa aksi lebih banyak lagi jika tuntutan tersebut tidak terpenuhi. (rpi/adl)