Maraknya Pencurian Helm di Perpustakaan, Pihak Keamanan: Akses Masuk Unmul Terlalu Bebas

Maraknya Pencurian Helm di Perpustakaan, Pihak Keamanan: Akses Masuk Unmul Terlalu Bebas

Foto: Mitha/Sketsa

SKETSA - Kasus pencurian helm masih marak terjadi di kawasan Unmul, salah satunya di area perpustakaan. Keadaan ini pun mengundang sejumlah keluhan dari mahasiswa yang mempersoalkan kondisi keamanan di lingkungan Kampus Gunung Kelua.

Nur Afifah, mahasiswi FISIP 2020 jadi satu dari sekian banyak korban maraknya kasus pencurian helm di Unmul. Ia kehilangan helmnya kala melakukan kerja kelompok bersama teman-temannya di Taman Perpustakaan Unmul. Ketika hendak pulang, Nur Afifah terkejut mendapati helmnya yang telah lenyap dari atas motor.

Ia pun bergegas melaporkannya kepada pihak keamanan perpustakaan. Namun, saat itu pihak keamanan meminta Nur Afifah untuk mengikhlaskan helmnya yang hilang.

“Sempat melaporkan, tapi kata pak satpam ikhlasin aja helmnya. Soalnya sudah biasa mahasiswa kehilangan helm,” ujarnya saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Selasa (29/11) lalu. 

Ia pun menambahkan bahwa pihak keamanan juga menyarankan untuk mencari helmnya di Pasar Segiri, karena sebelumnya terdapat mahasiswa yang menemukan helm miliknya sudah dijual di pasar tersebut.

Beralih ke Ersa, mahasiswa FISIP 2022 ini turut mengalami kejadian serupa dengan Nur Afifah. Awalnya, ia mengikuti sebuah rapat organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) dan memarkirkan motor bersama helmnya di perpustakaan pada sore hari. Namun, pada malam harinya saat ia hendak ke toilet dan mengambil motor, helmnya sudah tidak ada di sana.

Hal ini tak dilaporkannya sebab rapat yang diikuti Ersa masih berlangsung hingga larut malam dan pihak keamanan perpustakaan sudah tak terlihat. Sampai keesokan harinya pun Ersa memilih untuk tidak melaporkannya ke pihak keamanan.

Kedua mahasiswa itu pun sama-sama berharap agar keamanan di wilayah Unmul semakin diperketat, khususnya di area perpustakaan yang kerap menjadi sarang pencurian helm mahasiswa. Ersa pun turut mengimbau mahasiswa untuk tidak meletakkan helm di motor sebagai upaya preventif agar tidak terjadi kehilangan saat parkir di halaman Perpustakaan Unmul.

“Saran saya untuk mahasiswa Unmul, pada saat ke perpustakaan sebaiknya helmnya juga dibawa. Jangan disimpan di motor, supaya kejadian ini tidak terulang lagi,” imbau Ersa.

Pihak Keamanan Unmul

Maraknya pencurian helm di wilayah Unmul juga diakui oleh Hasan selaku Koordinator Keamanan Unmul. Saat Sketsa mewawancarainya pada Rabu (30/11), ia menyebutkan bahwa pada tahun lalu pihak keamanan Unmul banyak menangani kasus pencurian helm.

“Banyak sih kejadian-kejadian untuk tahun 2021, ini yang kita amankan memang para pelaku pencurian helm,” terang Hasan.

Menanggapi respons pihak keamanan perpustakaan terhadap kasus Nur Afifah yang diminta untuk mengikhlaskan helmnya, Hasan mengatakan bahwa cara tersebut tidaklah benar. Ia menyebutkan bahwa kejadian sekecil apa pun harus ditindaklanjuti sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sudah diinstruksikan oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri). Lebih lanjut Hasan menambahkan apabila jawaban dari satpam tidak memuaskan, korban pencurian bisa melapor ke dirinya secara personal.

Adapun Hasan juga mengatakan bahwa para pelaku yang tertangkap basah bisa saja dilaporkan ke kantor polisi dengan membawa korban beserta bukti serta surat laporan yang berisi waktu dan tempat kejadian perkara.

Kurangnya anggota dari pihak keamanan serta jalan keluar masuk Unmul yang bebas dan banyak pun menjadi kendala bagi Hasan. Menurutnya, jalan masuk Unmul yang begitu terbuka menjadi alasan para pelaku pencurian sering berlalu lalang di area kampus.

“Langkah ini yang harus dipikir. Bukan hanya dari kami selaku pihak keamanan, tetapi juga dari pejabat untuk menyiasati cara supaya para pelaku pencurian itu tidak masuk,” bebernya.

Sketsjuga sempat mewawancarai pihak keamanan yang bertugas di Perpustakaan Unmul, Rusdiyanto pada Selasa (6/12) lalu. 

Tidak hanya pencurian helm, Rusdiyanto yang biasa bertugas di pagi hari juga mengatakan bahwa seringkali mahasiswa melaporkan kehilangan barang akibat keteledoran dari mahasiswa itu sendiri.

Kasus yang pernah ia temui adalah kunci yang masih tersangkut di motor yang terparkir di halaman perpustakaan. Tak hanya itu, ia pun pernah mendapati mahasiswa yang melaporkan bahwa dirinya telah kehilangan dompet, tetapi sebenarnya ia meletakkan dompet tersebut di dashboard motor dan lupa membawanya saat hendak mengambil uang di ATM.

Rusdiyanto menyebutkan, jika ia mendapati barang-barang yang tertinggal di motor, maka ia akan mengamankannya terlebih dahulu sampai pemiliknya mendatangi pihak keamanan. 

“Enggak cuma di sini (perpustakaan) aja, mungkin di fakultas juga sering (barang tertinggal di motor). Tergantung dari mahasiswanya aja. Karena mahasiswa ini, kan, enggak semuanya teledor, tapi pasti ada aja yang teledor,” tutupnya. (mar/tha/ems)