Kenali dan Hindari Gelagat Pelecehan Seksual

Kenali dan Hindari Gelagat Pelecehan Seksual

SKETSA – Kesempatan merupakan faktor pendukung yang membuat tindakan pelecehan seksual dapat terjadi. Selain itu hukuman yang diberikan untuk pelaku juga tak membuat jera dan memunculkan kemungkinan pelaku untuk kembali melakukannya lagi.

(Baca, https://sketsaunmul.co/berita-kampus/hukuman-kendur-pelaku-pelecehan-seksual-pantang-mundur/baca)

Bicara soal pelecehan juga berkaitan dengan sisi psikologis, baik itu yang mendorong pelaku untuk melakukan, mau pun dampaknya bagi korban. Menurut Lisda Sofia, salah satu dosen Psikologi Unmul, tindakan kriminal tidak dapat disamakan dengan kekerasan atau pelecehan terhadap perempuan. Pada kasus-kasus kekerasan seksual, seorang perempuan mendapatkan pelecehan karena dia seorang perempuan.

“Sebenarnya pelecehan seksual atau kekerasan pada perempuan itu terjadi ketika dia menganggap wanita hanya sebagai objek. Kurang menghargai nilai perempuan,” ujarnya.

Ada stigma yang mengatakan bahwa perempuan dapat menjadi korban atau sasaran dari pelecehan sebab penampilannya yang terbuka. Dikatakan Lisda, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Sebab ada juga yang telah mengenakan pakaian sopan dan tertutup, namun tetap dijadikan target pelampiasan nafsu pelaku. Menurutnya, pakaian memang bisa menjadi alasan tambahan korban mendapatkan perlakuan pelecehan, tapi bukan sebagai indikator utama.

Jenis pelecehan sendiri ada dari verbal, fisik, bahkan hanya dengan sekadar tatapan mata. Intinya, segala sesuatu yang mempermalukan atau menimbulkan perasaan tidak nyaman sudah dapat dikategorikan sebagai pelecehan. Kampus sebagai lingkungan akademisi bukan berarti lepas dari hal-hal yang mengarah pada tindakan asusila tersebut. Pelecehan verbal menjadi salah satu jenis pelecehan yang sering dilakukan, dan tanpa disadari hingga dianggap sepele.

“Biasanya sih verbal, baik itu antara sesama mahasiswa, dosen ke mahasiswa atau rekan kerja. Seringnya itu berupa guyonan atau candaan yang di dalamnya ada unsur pornografi. Jenis pelecehan yang seperti ini di sosial sedikit sulit untuk diberi sanksi,” jelasnya.

Di kebanyakan kasus pelecehan, korban enggan untuk menceritakan dan memilih bungkam. Hal ini berkaitan dengan trauma yang dialami korban saat kembali menceritakan. Di sinilah pentingnya edukasi bagi lingkungan sekitar agar dapat memberikan kenyamanan kepada para korban agar mau berbagi. Selain itu, pemulihan trauma pada korban berbeda-beda. Semakin muda umurnya, maka akan semakin cepat pemulihannya. Berdasarkan catatan komisi nasional perempuan, tak sedikit kasus pelecehan dan kekerasan seksual dilakukan oleh orang-orang terdekat.

“Seringnya kalau yang pacaran, si lelaki meminta pembuktian cinta dengan melakukan hubungan badan dan si wanita juga ingin membuktikan seberapa besar cintanya, akhirnya bersedia. Perlu diketahui bagi perempuan, jika seorang lelaki mengatakan mencintai Anda tapi ingin meminta pembuktian cinta dengan bersetubuh, itu artinya ungkapan cintanya hanya bohong belaka,” tandasnya. (ycp/adl/fqh)