Aksi Dua Jilid Aliansi Rakyat Kaltim, Dugaan Kekerasan Warnai Aksi Demonstrasi Jilid I
Sumber Gambar: Media Kaltim
SKETSA - Aliansi Rakyat Kaltim gelar aksi sebanyak dua kali. Pertama, Selasa (21/4) menuntut audit seluruh kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) mengenai praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di Kalimantan Timur (Kaltim). Aksi kedua, Senin (4/5) menindaklanjuti aksi sebelumnya. Namun, aksi pertama diwarnai kekerasan dengan beberapa mahasiswa sebagai korban.
Insiden kekerasan terjadi pada salah seorang massa aksi, Presiden BEM FH Unmul, Maulana Faiq Maftuh yang mengaku mengalami tindakan kekerasan berupa tendangan yang diduga dilakukan aparat pengamanan.
Berdasarkan keterangan Maulana, situasi memanas ketika sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) keluar gedung yang memicu terjadinya desak-desakan antara massa aksi dan aparat keamanan.
Maulana menyebut, ia terdorong masuk ke dalam halaman gedung DPRD oleh massa aksi dan ditahan oleh beberapa oknum aparat untuk tidak keluar.
“Namun, pada saat saya ingin keluar ada beberapa oknum yang kemudian menahan saya di dalam dan juga ada yang melakukan penendangan di bagian pelipis saya. Jadi orang itu menggunakan pakaian berwarna coklat berlengan pendek,” ungkap Maulana pada Sketsa, Senin, (27/4).
Maulana menuturkan bahwa ia belum mendapatkan informasi konkret untuk oknum yang mendorongnya, namun untuk oknum yang melakukan penendangan memang benar merupakan pengamanan dari DPRD yang saat itu berada di bawah komando Kepolisian Resor Kota (Polresta).
Menanggapi insiden tersebut, Maulana mengatakan bahwa pihak kepolisian menyatakan para korban dipersilakan melaporkan kejadian yang dialami dengan melampirkan bukti-bukti pendukung.
Sebagai tindak lanjut, Maulana telah melaporkan kejadian tersebut kepada Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) FH Unmul guna memperoleh pendampingan hukum.
“Sejauh ini, saya sebagai korban sudah melakukan pelaporan kepada LKBH FH Unmul untuk mendapatkan pendampingan hukum dan sejauh ini dari LKBH juga sudah mendapatkan kronologis lengkap pun disertai beberapa bukti lainnya,” ungkap Maulana pada Sketsa, Senin (27/4) lalu.
Maulana menuturkan bahwa bukti-bukti yang diberikannya kepada LKBH berupa bukti video pemukulan, bukti foto bekas luka, dan bukti terduga pelaku yang melakukan penendangan. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari LKBH.
“Namun, komunikasi sudah intens dibangun dengan pendamping saya di LKBH. Sejauh ini hanya sampai tahap itu. Padahal target kam memasukkan laporan tersebut ke kepolisian, tapi memang sejauh ini baru sampai pada tahap itu,” ungkapnya saat ditemui kembali oleh Sketsa, Kamis (7/5) lalu.
Selain Maulana, salah seorang massa aksi yang juga mendapatkan kekerasan adalah Wakil Ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Sylva Unmul, Ravino Indrya Anwar yang mengalami pemukulan di bagian belakang kepala. Diduga pelaku bukanlah dari aparat, melainkan dari oknum gabungan massa.
Anwar sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) pada saat itu berada di bagian depan dan bersuara keras untuk meneruskan informasi yang ia dapatkan agar seluruh massa dapat turut mengetahui informasi tersebut. Namun, ia menuturkan bahwa terdapat orang yang tersulut dan menyerangnya.
“Dan saya rasa juga yang melakukan tindakan kekerasan kepada saya saat itu bukan aparat, melainkan oknum yang ada di dalam massa aksi pada saat itu,” terang Anwar saat ditemui awak Sketsa, Rabu (6/5) lalu.
Anwar tidak bisa mengatakan jika sosok yang menyerangnya tersebut adalah bagian mahasiswa maupun Organisasi Masyarakat (Ormas). Namun, yang ia yakini orang tersebut merupakan oknum yang berbuat kericuhan di barisan depan pada kala itu.
Mengenai upaya hukum yang dilakukan, Anwar menuturkan bahwa laporan pada saat itu belum ada. Ia sempat melapor pada salah satu orang berpengaruh di gerakan pada saat itu yang juga merupakan bagian dari masyarakat.
Sayangnya, untuk menemukan oknum tersebut terkendala dikarenakan kurangnya visualisasi wajah oknum dari dokumentasi-dokumentasi yang telah diambil meskipun Anwar mengaku mengingat ciri-ciri oknum yang melakukan kekerasan kepadanya.
“Namun pada saat kami kembali cari lagi nggak ketemu sudah orangnya, bahkan kami mencari lewat dokumentasi-dokumentasi itu,” pungkasnya. (ayy/ell/mou)