Fasilitas Keran Air Siap Minum di Unmul Tidak Optimal, Terkendala Pasokan dan Perawatan
Sumber gambar: Diah/Sketsa
SKETSA — Fasilitas keran air siap minum yang tersedia di Unmul belum berfungsi secara optimal sejak beberapa tahun terakhir. Mahasiswa menilai fasilitas tersebut tidak memberikan manfaat karena tidak dapat digunakan.
Salah seorang mahasiswa FMIPA 2023, Muhammad Raihan Nur menyebut keran tersebut sudah lama tidak berfungsi.
“Sudah lama tidak berfungsi,” ujarnya saat ditemui di Student Learning Center (SLC) FMIPA, Kamis (5/3) lalu.
Fasilitas yang tersebar di beberapa titik kampus, seperti sekitar SLC FMIPA, Taman Unmul, dan area kantin fakultas, kerap mengalami gangguan aliran hingga tidak dapat digunakan. Kondisi ini telah berlangsung sejak 2024 hingga 2026.
“Kayaknya dari dua semester yang lalu, tahun 2024 atau 2026 sudah tidak berfungsi,” jelasnya.
Hal serupa disampaikan mahasiswa FKM 2024, Rodhwa Sahila yang menyebut sejak awal angkatannya masuk kuliah, fasilitas tersebut sudah terlihat tidak terurus. Ia menilai hal tersebut karena tidak ada yang mengurus.
“Sepertinya tidak ada yang mengurus, jadi tidak pernah digunakan,” katanya saat ditemui di Gedung Kelas FKM, Rabu (1/4).
Menurutnya, meskipun penempatan fasilitas tergolong strategis, kondisi yang tidak berfungsi membuat keberadaannya tidak memberikan manfaat.
“Untuk penempatan sih sebenarnya sudah pas, karena dekat kantin dan banyak orang,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Hubungan Masyarakat, Nataniel Dangen mengungkap kendala utama terletak pada keterbatasan pasokan air baku serta sistem distribusi yang belum optimal.
“Bahan baku air kita tidak cukup untuk dialirkan ke sana, untuk kebutuhan di gedung-gedung saja terbatas,” katanya kepada Sketsa, Kamis (16/4) lalu.
Ia menjelaskan fasilitas tersebut sebenarnya telah dirancang dengan baik sejak awal melalui proyek pengembangan kampus.
“Dulu proyek Islamic Development Bank (IDB) dirancang seperti itu, sampai bisa diminum langsung, secara perencanaan sudah sangat bagus,” jelasnya.
Namun dalam pelaksanaannya, penggunaan air saat ini diprioritaskan untuk kebutuhan utama di dalam gedung, sehingga aliran ke keran air siap minum sering kali dihentikan.
“Air tidak bisa mengalir karena kami tutup, supaya kebutuhan utamanya dulu terpenuhi,” lanjutnya.
Selain itu, sistem jaringan yang belum memisahkan jalur internal dan eksternal juga menjadi kendala. Pihak kampus kini tengah mengkaji pembangunan dua jalur pipa agar distribusi air dapat lebih efektif.
“Kalau bisa dibuat dua jalur pipa, satu untuk kebutuhan eksternal, satu untuk kebutuhan internal,” ungkap Nataniel.
Sebagai upaya perbaikan, pihak kampus berencana membangun intake baru dengan memanfaatkan sumber air dari sungai Karang Mumus yang akan melalui proses penjernihan sesuai standar kesehatan. Sementara itu, kebutuhan air saat ini masih didukung oleh pasokan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
“Kalau itu sudah bisa kita alirkan dan jernihkan, maka akan berfungsi bagus kembali nanti,” pungkasnya.(kia/vpr/mau/aya)