Prokrastinasi: Kenali Tipe dan Cara Mengatasinya

Prokrastinasi: Kenali Tipe dan Cara Mengatasinya

Sumber Gambar: Quartz

SKETSA – Sebagai mahasiswa, menemui beragam penugasan sudah menjadi bagian dari rutinitas. Belum lagi ketika pandemi. Setiap hal ingin menjadi prioritas kita, lalu menumpuk di satu tempat. Untuk menghadapi skenario semacam ini, sering kali kita memutuskan untuk membuat jadwal atau to-do list dengan harapan dapat mengorganisir tugas-tugas yang ada.

Meski telah menyusun jadwal, sebenarnya kita semua memiliki kecenderungan untuk menunda pekerjaan. Fenomena ini biasa disebut prokastinasi. Prokrastinasi merupakan kegagalan regulasi diri. Pernyataan ini didukung oleh Timothy Pychyl, seorang peneliti asal Carleton University, Kanada.

Mereka yang memiliki kebiasaan ini menganggap bahwa aktivitas lain di luar dari prioritas terlihat menyenangkan dan berharga. Tetapi menjadi kewalahan ketika tugas yang penting mendekati deadline.

Lantas, ada beberapa tipe procrastinator yang perlu kamu ketahui. Dikutip dari The Procrastinator Ultimate Guide milik Dan Silvestre, berikut Sketsa sajikan untukmu.

1. Optimistic Procrastinators

Pada tipe berikut, seseorang merasa jika kemampuan mereka dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan lebih besar daripada tantangan yang harus dihadapi ketika pekerjaan tersebut dilakukan. Mereka cenderung menunda dan tidak memulainya karena merasa bosan, overconfident.

Kebiasaan yang dilakukan Optimistic Procrastinators:

a. Tidak membuat deadline sama sekali di buku catatan atau kalender

b. Berjanji untuk mengerjakan sesuatu esok hari, hanya untuk mengulangi penundaan yang sama hingga tenggat waktu mendekat

c. Memberi tahu semua orang jika hal tersebut mudah atau memamerkan rencana-rencana yang dibuat untuk menyelesaikan pekerjaan itu

Solusi yang dapat kamu lakukan:

a. Meningkatkan rasa urgensi terhadap tugas yang harus diselesaikan

b. Memperbaiki ekspektasi yang berlebihan atas pekerjaan tersebut

c. Menjadikan pekerjaan itu sebuah tantangan untuk dilakukan secepat mungkin

d. Membuat waktu khusus atau non-negotiable hour untuk mengerjakan tugas tersebut. Lakukan di awal dan lanjutkan setiap hari untuk memberimu momentum. Setidaknya satu jam cukup. Jika masih kesulitan untuk konsentrasi dalam waktu sejam penuh, kamu bisa mencoba teknik Pomodoro. Baca di sini: https://sketsaunmul.co/life-style/pomodoro-manfaatkan-efektivitas-dan-efisiensi-pada-kegiatanmu/baca

2. Distracted Procrastinators

Kamu mungkin menyukai pekerjaanmu, tetapi ada hal-hal lain yang lebih menarik perhatianmu. Akhirnya, kamu tak dapat berhenti mengerjakan aktivitas lain kecuali deadline sudah ada di depan mata. Kalau sudah begini, kamu harus memperbaiki lingkungan sekitarmu. Jika tidak, tak perlu hitungan jam tekadmu untuk melakukan sesuatu akan memudar.

Kebiasaan yang dilakukan Distracted Procrastinators:

a. Menganggap jika terganggu beberapa menit saat bekerja adalah masuk akal

b. Percaya bahwa kebiasaan buruk ini baik dalam skala yang sedang, tetapi tidak menghargai batasan waktu yang telah dibuat

c. Sebelum kamu mulai bekerja, setengah harinya kamu habiskan untuk melakukan tugas-tugas kecil. Kemudian saat kamu melakukan tugas yang mendesak, kamu tidak mempertanyakan apakah itu berguna atau tidak

d. Kamu tidak pernah merasa mengerjakan sesuatu dengan 100% kehadiranmu dan merasa berada di tengah-tengah

Solusi yang dapat kamu lakukan:

a. Jika diperlukan, ambil tindakan ekstrem dengan memblokir apa yang membuatmu terganggu. Misalnya, kamu terdistraksi dengan adanya media sosial, maka hapuslah aplikasinya untuk sementara. Matikan notifikasi dari WhatsApp juga bisa kamu lakukan. Nyalakan kembali hanya saat pekerjaanmu sudah selesai.

b. Merencanakan self-reward yang terjangkau untuk diri sendiri, sehingga tidak tergoda oleh hal-hal kecil yang sebelumnya menarik. Sebelum melakukan hal ini, perhatikan kiat berikut agar tidak salah langkah: https://sketsaunmul.co/life-style/hentikan-sikap-konsumtif-di-balik-kedok-self-reward/baca

c. Membuat not-to-do list alias hal-hal yang tidak boleh lakukan selama periode mengerjakan tugas. Cobalah untuk patuh dengan peraturanmu sendiri

d. Membagi tugas-tugasmu dalam prioritas agar lebih mudah. Coba Eisenhower Matrix berikut ini: https://sketsaunmul.co/life-style/tentukan-prioritas-dengan-eisenhower-matrix/baca

3. Perfectionist Procrastinators

Tipe yang satu ini tidak akan tenang apabila segala pekerjaan tidak dilakukan sempurna. Kamu ingin meningkatkan kualitas, tapi tak mengerjakan tugas yang ada secara maksimal. Meskipun sudah memiliki prioritas, kamu malah memberikan perhatian terlalu banyak pada setiap detail yang sebenarnya tak penting dan akhirnya membuang-buang waktumu

Kebiasaan yang dilakukan Perfectionist Procrastinators:

a. Kamu tahu apa yang harus dilakukan begitu pula dengan cara kerjanya. Namun sebelum kamu memulai, sebuah pemikiran tidak rasional akan kegagalan menjebakmu untuk tidak melakukannya

b. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk memulai sesuatu secara sempurna, dari langkah yang harus dilakukan sampai mengimplementasikannya

c. Merasa tidak puas dan ingin melakukan sebuah perubahan secepatnya bahkan sebelum mengerjakan apa-apa

Solusi yang dapat kamu lakukan:

a. Alihkan fokusmu dari hasil (result) ke tindakan (action) sampai kamu terbiasa dengan rutinitas ini

b. Tentukan batas waktu yang realistis dalam mengerjakan tugasmu. Pilah-pilah pekerjaanmu dalam beberapa bagian.

c. Setelah membagi tugas, pastikan hal tersebut dapat kamu lakukan dengan waktu yang singkat. Singkirkan juga pemikiran “semuanya harus selesai sekarang”, sebab ini membuatmu semakin takut akan gagal.

d. Turunkan ekspektasimu. Bebaskan dirimu dari pemikiran jika semua hal harus 100% baik.

4. Guilty Procrastinators

Permasalahan yang ada pada tipe ini berkaitan dengan interpretasi tentang kegagalan yang menghalangi seseorang untuk bekerja. Keadaan tesebut dapat terjadi sebab pernah mengalami kegagalan atas strategi yang digunakan sehingga sulit menerima hasil akhirnya. Adapun mindset semacam “apapun yang kulakukan akan gagal” menghantui secara terus menerus.

Kebiasaan yang dilakukan Guilty Procrastinators:

a. Menerima distraksi sebagai hal yang biasa karena anggapan “aku sudah kalah” dan ironisnya percaya jika segala sesuatu pada akhirnya akan membaik

b. Merasa jika orang di sekitar sedang marah dengan dirimu atau tidak memahami posisimu yang “lemah”

c. Mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya karena “membenarkan” kegagalan untuk segala bidang

Solusi yang dapat kamu lakukan:

a. Ingatlah jika rasa bersalah yang berlebihan dapat merugikan, terutama jika berhubungan dengan kecenderungan penundaan pekerjaan

b. Beralih dari mengkritik diri sendiri ke mengasihi diri sendiri. Maafkan dirimu karena sudah menunda pekerjaan dan mulai dengan perlahan

c. Sadari jika kamu sudah melakukan hal yang terbaik

d. Cobalah untuk menenangkan dirimu saat perasaan kalah atau bersalah kembali hadir. Kamu bisa melakukan meditasi atau bersantai sejenak. Coba juga aplikasi ini untuk membantumu: https://www.sketsaunmul.co/teknologi/berlatih-mindfulness-bersama-aplikasi-yang-ciamik/baca

5. Busy Procrastinators

Ketika kamu berkomitmen dengan banyak sekali proyek dalam satu waktu, kamu akan melihat pekerjaan-pekerjaan ini dengan pandangan melelahkan. Bahkan jika kamu memiliki waktu, kamu tidak melihat adanya kegunaan untuk menyelesaikannya. Sampai di sini, kamu tidak mengambil tindakan karena merasa tidak ada kesempatan untuk berpikir.

Kebiasaan yang dilakukan Busy Procrastinators:

a. Multitasking alias mencoba menyelesaikan semua tanggung jawab sekaligus

b. Meski sudah mengerjakan apa yang diperlukan, kamu merasa tidak mendapatkan hasil sama sekali

c. Hanya ingin menghabiskan waktu untuk mengerjakan proyek yang kamu sukai

Solusi yang dapat dilakukan:

a. Fokus dengan hasil pekerjaanmu

b. Katakan tidak untuk tawaran tugas yang tidak sesuai dengan waktumu

c. Prioritaskan tujuanmu. Pilih tiga tugas penting setiap harinya dan kerjakan. Jangan lakukan pekerjaan tidak penting

d. Selalu ingat, kamu tetap ber-progress meski tidak mengerjakannya secepat kilat

6. Disorganized Procrastinators

Masalah yang paling penting dalam tipe ini adalah: time-management yang buruk. Ini menyebabkan seseorang sering menunda terutama ketika mengerjakan proyek dengan jangka waktu yang panjang. Mereka yang berada pada tipe ini tak menyukai rutinitas karena konsep kebebasan dan luang.

Kebiasaan yang dilakukan Disorganized Procrastinators:

a. Terlalu lama mempersiapkan workspace saat ingin memulai pekerjaan

b. Sengaja menunda di menit awal, lalu berujung menghabiskan waktu dengan menundanya sampai akhir

c. Meski sudah tahu sedang menunda, kamu lebih suka menyelesaikan hal yang kamu tunda dibandingkan beralih ke bagian yang penting

Solusi yang dapat dilakukan:

a. Coba mengorganisir waktumu dengan Eisenhower Matrix. Baca di sini: https://sketsaunmul.co/life-style/tentukan-prioritas-dengan-eisenhower-matrix/baca

b. Berkomitmen untuk menyelesaikan tugas terpenting selama satu jam penuh

c. Gunakan pengaturan Objective, Keyword, Result (OKR) untuk menentukan tujuanmu

Itulah keenam tipe procrastinator yang dapat kamu kenali dan cegah. Perlu diingat, semua solusi dapat efektif hanya jika kamu berniat untuk melakukannya. Semoga kamu bisa mengatasi prokrastinasi yang menyerang, ya! (len/rst)