Fenomena Book Snob dalam Dunia Literasi

Fenomena Book Snob dalam Dunia Literasi

Sumber Gambar : Berdikari Book

SKETSA – Aktivitas membaca buku menjadi salah satu hal yang digemari banyak orang hingga saat ini. Adanya beragam jenis bacaan tentu meningkatkan wawasan dan pemahaman seseorang, entah melalui karya nonfiksi maupun fiksi. Setiap orang seharusnya merasa nyaman dengan selera bacaannya masing-masing. Utamanya karena membaca dapat meningkatkan angka melek literasi bahkan di era penuh disrupsi.

Sayangnya, kehadiran kaum book snob justru menjadi salah satu faktor menurunnya minat membaca. Jika kamu tidak familier dengan sebutan ini, book snob sendiri adalah istilah untuk seseorang yang meremehkan orang lain karena tidak memiliki minat yang sama dengan dirinya―dalam hal ini adalah buku.

Mereka yang merupakan book snob akan menganggap dirinya lebih intelek atas buku-buku yang telah ia baca. Misalnya menganggap orang lain yang tidak membaca sastra klasik, filsafat atau politik merupakan kaum terbelakang. Dapat pula merendahkan selera membaca orang-orang yang menyukai sastra populer seperti novel romansa atau komedi.

Mulanya, istilah ini muncul dengan adanya literature snob. Di mana beberapa orang memandang kelompok karya sastra yang terkenal dan termasuk sastra serius merupakan hal yang penting. Dalam hal ini, mereka cenderung membandingkan mana karya yang layak menjadi konsumsi publik dan mana yang tidak. Sehingga, sastra populer dianggap tak pantas untuk dibaca karena tidak memuat isi yang kritis atau merangsang nalar.

Pemicunya tentu tidak jauh dari sejarah di Indonesia sendiri, terutama pada kondisi sosial politik Indonesia sebelum kemerdekaan hingga awal abad ke-21. Mengutip dari laman berdikaribook.red, karya sastra populer memang mendapatkan ruang yang luas pada era kolonial hingga sebelum reformasi sebab tak membuat pembaca berpikir secara kritis dan penuh poin-poin klise. Adapun karya sastra serius menjadi hal yang berbahaya karena dapat membuat masyarakat memahami keadaan dengan menggugah nalar mereka.

Tak bisa ditampik jika buku-buku bernuansa serius memang tidak begitu dilirik oleh masyarakat, ini karena adanya perbedaan pemahaman atas suatu masalah atau kejadian pada setiap orang. Sebaliknya, ragam buku dengan tema populer atau kekinian menjadi primadona sebab didasari pada minat yang digemari orang-orang. Ini menjadikannya lebih related terhadap kehidupan, meskipun bacaan sastra serius memiliki gagasan yang lebih dalam.

Meski terdapat sejarah dalam hadirnya kaum book snob saat ini, tentu saja tidak membenarkan sikap pamer atau justifikasi pada orang lain terkait apa yang mereka baca. Para book snob pada dasarnya menganggap bahwa membaca buku merupakan suatu pencapaian. “Sudah berapa buku yang kamu baca setahun? Gue sebulan 10 buku, masa lo kalah?”, “sudah baca bukunya Pram, belum? Cupu deh, kalau belum!” sampai pernyataan “baca buku kok punya Fiersa Besari!” adalah ucapan yang mungkin terlontar ketika menghadapi kaum semacam ini.

Tahukah kamu jika Indonesia menempati ranking 62 dari 70 negara terkait dengan tingkat literasi? Survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) dan dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 lalu menunjukkan jika kita masuk dalam 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Sementara, kaum book snob yang cenderung menggunakan pondasi emosional untuk melakukan kritik pada bacaan seseorang bisa jadi salah satu faktor turunnya minat baca yang sedang dibangun seseorang.

Seharusnya kritik yang dibangun dapat menghadirkan beragam referensi lainnya untuk dibaca. Bukan sekadar menunjukkan tendensi bahwa bacaan yang serius merupakan keharusan yang ideal. Semakin banyak buku yang kita baca, biasanya dapat memperluas sudut pandang terhadap suatu masalah. Hadirnya perbedaan sisi dalam karya sastra, baiknya dibarengi dengan sikap menghargai dan menciptakan iklim membaca yang lebih menyenangkan. Yuk, tingkatkan referensi dan keragaman buku yang kita baca! (len/rst)