Perkuat Literasi Iklim: LPM Sketsa Unmul Ikuti Pelatihan Tangkal Disinformasi
Awak LPM Sketsa Unmul mengikuti pelatihan tangkal disinformasi sebagai perlawanan terhadap maraknya disinformasi iklim terlebih di ruang digital
- 28 Apr 2026
- Komentar
- 13 Kali
Sumber Gambar: Kaltim Today
SKETSA - Maraknya disinformasi terkait perubahan iklim mendorong peningkatan kapasitas jurnalis di Kalimantan Timur (Kaltim). Menjawab tantangan tersebut, Kaltim Today bekerja sama dengan Indonesian Data Journalism Network (IDJN) dan International Media Support (IMS) menggelar Training of Trainer (ToT): Countering Climate Disinformation pada (22–24/4) di Fugo Hotel, Samarinda.
Pelatihan ini berfokus pada penguatan kemampuan jurnalis dalam mengidentifikasi, mencegah dan melawan disinformasi iklim yang kian masif, terutama di ruang digital.
Selama tiga hari, peserta dibekali pendekatan prebunking, pemanfaatan data dalam peliputan, serta pengenalan jurnalisme konstruktif sebagai metode penyajian informasi yang lebih solutif dan berdampak.
Sejumlah pemateri dari tingkat nasional hingga internasional turut hadir, di antaranya perwakilan IMS, IDJN, hingga praktisi media. Mereka menekankan pentingnya peran jurnalis tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai aktor yang mampu menjaga kualitas ruang publik dari distorsi informasi.
Pemimpin Redaksi Kaltim Today, Ibrahim Yusuf menilai disinformasi perubahan iklim menjadi ancaman serius, khususnya bagi Kaltim yang memiliki posisi strategis dalam isu lingkungan global.
“Disinformasi bukan hanya soal salah informasi, tetapi juga dapat menghambat upaya pelestarian lingkungan. Karena itu, jurnalisme harus berbasis data dan mampu membangun kepercayaan publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individu, melainkan mendorong terbentuknya ekosistem jurnalisme lokal yang lebih kuat dan kolaboratif.
Salah satu peserta, Fatih dari media Kaltimkece mengaku pelatihan ini memberikan perspektif baru dalam menghadapi arus informasi di media sosial yang seringkali tidak terverifikasi.
“Pendekatan seperti prebunking dan jurnalisme konstruktif sangat membantu dalam meningkatkan kualitas peliputan kami,” katanya.
Namun, tantangan ke depan tidak hanya terletak pada kemampuan individu jurnalis. Minimnya literasi publik serta algoritma media sosial yang cenderung memperkuat bias informasi juga menjadi faktor yang mempercepat penyebaran disinformasi.
Sebagai tindak lanjut, penyelenggara merancang sejumlah program lanjutan, mulai dari workshop, kompetisi liputan isu iklim, hingga penguatan jejaring sesama jurnalis dan komunitas. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan dampak pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkelanjutan dalam praktik jurnalistik sehari-hari. (xel/aya)