Cerpen

Mencumbu Matahari

Dalam hidup kita tak selalu dihadapkan pada hal yang sempurna. Terkadang kita harus mengalami gagal dan jatuh kemudian memahami apa arti dari kesempurnaan itu sendiri.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Pinterest

Dalam hidup kita tak selalu dihadapkan pada hal yang sempurna. Terkadang kita harus mengalami gagal dan jatuh kemudian memahami apa arti dari kesempurnaan itu sendiri. Hidup juga mengajarkan kita untuk memahami bahwa segala sesuatu akan berdampingan seperti, sedih dan tawa, cinta dan benci, suka dan duka. Hal ini mengingatkan bahwa kita akan mengalami masa di mana kita harus menghargai apa yang kita miliki saat ini, bahwa apa yang kita miliki bukanlah sesuatu yang bisa kita genggam selamanya.

Seperti aku dan engkau, mencintaimu sungguh mengajarkanku bahwa sebuah presensi ternyata sarat akan makna. Selama ini, sendiri saja aku merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi dunia dan segala kebejatan di dalamnya. Begitu dulu pikirku, tapi kehadiranmu seakan-akan membuatku perlahan memahami bahwa tak perlu membenci untuk merasakan sebuah cinta. Kau membuatku paham caranya menerima dan memaafkan. 

Layaknya manusia biasa, aku juga seseorang yang haus dengan afeksi. Begitu banyak atensi dan afeksi membuatku kalut dan terlena hingga lupa pada fakta bahwa kita hidup berdampingan dengan hal yang tidak kita suka.

Menggenggam tanganmu serupa mimpi yang tak pernah berani aku pinta pada Tuhan. Karena berada di dekatmu buatku selalu ingin lupakan fakta bahwa akan ada kemungkinan di mana kita berpisah dan saling melupa.  

Kau selayaknya matahari yang begitu cerah dan selalu menyinari orang di sekitarmu. Ringan tanganmu membantu tanpa dipinta juga ringan tuturmu tawarkan bantuan ketika melihat ada yang susah. Begitu baik perangaimu sehingga terkadang aku tak percaya bahwa kau hanyalah manusia biasa karena sungguh kau serupa malaikat yang dihadirkan Tuhan di bumi untukku seorang agar aku dapat memaafkan kejamnya dunia.

Mencintaimu sama seperti aku mencumbu matahari yang terang dan hangat yang berani membawaku keluar dari gelap dan dinginnya malam yang diabaikan banyak orang. Ingatanku kemudian jatuh pada percakapan kita yang disaksikan oleh ribuan bintang pada malam itu.

Di tengah tanah yang lapang, beralaskan rumput kita berhenti untuk menepi dari kebisingan semesta.

“Kamu sadar gak kalau kamu itu kayak bulan?” begitu tanyamu padaku.

“Bulan?” aku bertanya tak mengerti.

“Iya.”

“Emangnya kenapa?”

“Soalnya kamu berhasil menerangi malamku, ea.” kau tertawa mencibir.

“Apaan sih! Kirain serius juga taunya gombal jelek,” ucapku sembari memutar bola mata malas.

Ia tertawa kemudian memelukku erat. Erat dan hangat seakan-akan memberikan tanda bahwa ia akan selalu menjagaku seperti ini.

“Aku sayang kamu dan kamu akan selalu jadi bulan untuk malamku. Bulan yang cahayanya membuat semua orang takjub dan berhenti untuk sekadar melihat. Tapi, aku bukanlah orang yang sekadar berhenti dan melihat tapi aku juga ingin menetap. Aku ingin selalu ada di sini, bersamamu.”

Aku tersenyum, “kalau aku bulannya, kamu mataharinya.”

Kau menatapku bingung, menutut penjelasan. “Kenapa?”

“Karena bulan tidak akan bersinar terang tanpa matahari. Dan aku enggak akan mungkin bisa hidup kayak sekarang kalau enggak ada kamu,” ucapku dengan malu.

Menambah rasa malu dalam diriku, kau justru tertawa. Katamu kau terkejut bahwa kalimat itu bisa keluar dari mulut orang sepertiku. Sialan. Ini juga jadi salah satu alasan aku terkadang bertanya-tanya mengapa aku bisa jatuh begitu dalam pada orang sepertimu.

Setelahnya semua berjalan begitu baik, aku denganmu seperti dua orang yang memang diciptakan untuk meghadapi dunia bersama Aku begitu paham perangai lain dalam dirimu dan kau yang mafhum cara menghadapiku. Bersama rasanya menjadi lebih baik untuk satu sama lain. 

Tapi mengapa?

Tepat satu minggu sebelum tahun baru kau pergi meninggalkanku? Bukankah kita sudah merencanakan dengan baik rencana tahun baru kita? Bahwa banyak kegiatan yang hendak kita lakukan bersama-sama. Tapi mengapa harus pergi? 

Telak aku rasakan sakit yang begitu menyiksa setelah tahu kepergianmu dari semesta. Seringnya aku bertanya pada entitas yang nyata namun tak terlihat. Mengapa kita harus dipisahkan dalam keadaan seperti ini? Begitu besarnya kah dosaku di kehidupan sebelumnya hingga tak biarkan aku bahagia dalam waktu yang lama.

Begitu sakitnya hingga aku lupa caranya bernapas dan kembali menjadi manusia yang utuh. Selayaknya ditinggal oleh belahan jiwa aku benar-benar hilang arah. 

Bukankah sudah aku katakan bahwa menggenggam tanganmu serupa mimpi yang tak pernah berani aku pinta pada Tuhan. Sungguh terasa tidak nyata bahkan hingga hari ini, setelah tiga tahun lamanya aku masih sulit menerima bahwa kau tak lagi bersamaku bahkan untuk sekadar mendengarkanku menangis.

Tak ada lagi bahu yang siap untuk menjadi tempatku menyandarkan segala penat, tak ada lagi tangan yang terulur ketika aku jatuh, dan tak ada lagi cahaya yang menyinariku untuk tetap hidup.

Kau pergi membawa segala cahaya yang telah kau berikan. 

Kalau sudah begini tolong beritahu padaku, bagaimana caranya agar bulan dapat bersinar tanpa cahaya dari matahari?

Cerita pendek ditulis oleh Yasmin Dieva Islamiyah, mahasiswa Psikologi, FISIP 2019.



Kolom Komentar

Share this article