logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Cerpen

Kita Bertemu di Penghujung Hari

Aku percaya, pada dasarnya ada dua jenis pola pikir yang menggantung di setiap kepala manusia

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar : Pinterest

Aku percaya, pada dasarnya ada dua jenis pola pikir yang menggantung di setiap kepala manusia. Pertama, apa yang dihadapkan dunia adalah cerminan hidupmu sendiri. Kata Ibuku, orang dahulu menyebutnya Hukum Tabur Tuai. Benih yang kamu tanam, maka buahnya tak akan mengkhianati hasil.

Kedua, memang tidak ada yang pernah berjalan sesuai dengan rencana di kehidupan ini. Selinear apapun orang-orang menata dan menggaris jalur awal dan akhirnya, ada gurat di sana sini yang selalu mengganggu dan tetap setia menghadirkan diri.

Contoh mudahnya seperti keadaanku saat ini. Biasanya, lantai kamarku akan penuh dengan dokumen, kertas, dan buku. Entah yang berisi soal-soal ujian semester, latihan kerja pada lajur-lajur membosankan, naskah cerita yang tak pernah mencapai kata selesai, atau bacaan-bacaan berat yang sengaja kutaruh agar orang lain melihatku sebagai mahasiswa yang kritis. Setidaknya membangun sudut pandang yang baik terhadapku? Sepertinya begitu.

Tetapi hari ini, semua keramaian itu seolah lenyap dari pandanganku untuk selama-lamanya. Lantaiku bersih tanpa cela, menyisakan segulung tisu yang barusan jatuh dari meja belajarku. Aku menyapukan pandangan ke sekelilingku. Tak ada debu yang menempel, hasil dari tiga jam berberes tanpa henti. Jika ada satu kata yang bisa menjelaskannya, maka itu adalah kata tenang. Seolah-olah aku takkan pernah menyentuh semua benda di hadapanku ini. Seperti ketika seseorang ingin memulai hidup baru atau justru meninggalkan segala-galanya.

Suasana ini membuatku sangat mengantuk. Kupelototi jam dinding yang berdetak pelan, tanda bahwa baterainya perlu segera diganti. Pukul 5 sore. Orang-orang di rumah akan segera datang selepas kerja. Kalau aku tidak bergerak sekarang, bisa-bisa rencanaku batal terlaksana.

Aku tergesa menaiki tangga rumahku dan berakhir dengan tersandung oleh satu anak tangga itu. Aku merintih pelan, memegangi jari kakiku yang perlahan nyeri. Bahkan untuk urusan sesepele naik tangga, tidak ada yang berjalan sempurna. Aku mendengus pelan, tak ingin terbawa suasana.

Kuteruskan perjalananku hingga angin di halaman loteng menyapa. Langit berwarna amat jingga hari ini. Dari atas sini, rumah demi rumah terlihat damai juga riuh rendah di lain sisi. Tinggal di lingkungan perumahan yang ramai dan padat sejatinya lebih menghidupkan tanah-tanah mati dengan rumah di atasnya, ketimbang bernapas di antara beton-beton tinggi yang individualis dan privat.

Malangnya, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada kebahagiaan singkat semacam ini. Langkah kakiku berakhir di dinding pembatas loteng yang tidak berpengaman apapun. Tingginya hampir menyentuh bahuku, tetapi aku masih bisa menengok keadaan di bawah.

Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapapun. Tak ada jendela atau pintu yang terbuka. Tak ada yang menyadari kehadiranku di sini. Sekali lagi, kulirik rumah tetanggaku yang tidak bertingkat dan persis di samping rumahku saat ini. Di sana, tinggal sepasang suami istri yang bekerja sebagai tukang bangunan dan jasa menggosok baju. Di sekeliling rumahnya penuh kayu dan besi bekas serta tali-tali jemuran yang bertautan.

Aku agak kasihan, sebab halaman samping rumah mereka akan segera menjadi tumpuan tubuhku yang tak bernyawa. Rasanya kurang etis mengotori lahan tetangga sendiri, tapi tak ada pilihan lain. Menggantung diri di dalam rumah nampaknya mengurangi estetika, ditambah dengan penderitaan yang datang perlahan-lahan.

Sekelebat pikiran muncul di benakku. Aku sudah menduganya. Ketika saat-saat kematian sudah dekat, kita akan dipaksa untuk mengingat kembali momen dalam hidup sebagai peringatan. Kepalaku memutar kenangan bersama orang tua dan teman-temanku. Semuanya senang dan tersenyum, tapi getir kuingat bahwa tak satupun di antaranya benar-benar tulus.

Aku juga mengingat bagaimana mulusnya peran yang kumainkan selama ini. Jika seseorang merasa dirinya pecundang karena kekalahan, maka dia lebih baik daripada seorang figur yang berpura-pura hidup padahal hatinya sudah gugur sejak lama.

Tapi aku sudah bertekad. Apa yang sudah kulakukan, akan berakhir di sini. Sama seperti yang ditulis seluruh pengarang jurnal ilmiah, aku ingin kematianku dijadikan referensi agar orang lain lebih menyadari kekelaman seseorang di balik tindak-tanduknya. Agar mengetahui jalan keluar mana yang harus dipilih. Atau setidaknya, tidak memaksakan orang tersebut bertindak demi hormat tanpa memikirkan perasaannya.

Hatiku semakin teguh tatkala aku memanjat dinding tersebut dan berdiri di atasnya. Tubuhku terasa ringan seperti kapas, seolah akan terbang riang ke manapun angin membawanya. Aku tersenyum puas dengan skenario ini. Langit yang memerah dan semburat oranye, suara-suara yang menandakan kehidupan, aroma yang dibawa angin. Aku yakin, ini adalah sebuah bab penutup yang amat berkelas. Kupejamkan mata, selanjutnya membiarkan takdir bekerja seperti seharusnya.

---

Itulah setidaknya yang akan terjadi, apabila tak ada sebuah suara halus yang menegur telingaku.

“Kalau kau mati sekarang, apakah ada yang berubah?”

Seorang lelaki tengah merokok di balkon belakang rumahnya, menghadap tepat ke arahku. Matanya menyiratkan kelelahan, tapi hangat seperti matahari pagi.

“Bahkan sampai waktu kematianku, apakah aku harus selalu mengalami interupsi?” sahutku.

Ia mengetuk abu dari rokoknya. “Tidak. Jika kamu ingin mati, maka matilah tanpa penyesalan. Aku hanya tak ingin jadi saksi mata seseorang yang ingin mati dengan badan gemetar. Lagipula, aku tak yakin kau akan mati,” jawabnya. Telunjuknya menuntunku kembali ke bawah, pada halaman tetanggaku.

Sebuah kasur besar yang usang nampak terletak persis di bawahku. Sang suami terlihat kelelahan bersama istrinya yang hamil tua, mungkin tak kuat menahan beban benda tersebut. Mereka tertawa bersama, membasuh keringat masing-masing. Pastilah dosa besar jika aku jatuh dan mati di hadapan mereka.

Aku tertawa pelan. Memang benar pola pikir kedua itu. Mungkin inilah guratan yang akhirnya datang di hidupku.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanyaku pada lelaki itu.

Orang itu diam dan menghembuskan asap rokoknya perlahan. Sedetik kemudian, bibirnya bergerak. Mengatakan sesuatu, seperti sebuah permulaan pada kisah-kisah indah yang tak pernah kusukai.

“Bagaimana kalau kau turun dan minum teh bersamaku?”

Cerita pendek ditulis oleh Christnina Maharani, mahasiswa Akuntansi, FEB 2017.




Kolom Komentar

Share this article