Kamu Yakin Sendirian?

Kamu Yakin Sendirian?

Sumber Gambar: thefw.com

Sudah hampir sebulan, kantong mataku semakin membesar. Tiap harinya, kepalaku sakit karena harus mengurus tugas-tugas perkuliahan selama di rumah. Tahu sendiri, kan? Corona sialan ini rupanya benar-benar membuatku repot dan ingin mengumpat setiap hari.

Sudah begitu, bukan cuma tugas kuliah saja yang kukerjakan! Segala urusan rumah jatuh ke tanganku karena orang tuaku tak mendapatkan privellege untuk kerja dari rumah. Otomatis, bayanganku akan berleha-leha di rumah menjadi pupus seketika.

"Oy, kok diam aja sih? Ketiduran?" seru suara di seberang telepon. Astaga, aku sampai lupa kalau sedang menelepon!

"Enggak, maaf tadi ngelamun. Bosen banget nih, mana laper. Gas habis!" sahutku. Pacarku tertawa di seberang sana.

"Ibu nggak titip uang? Kasihan banget sih kamu," jawabnya.

"Ya gitu, deh. Masih jam segini lagi, duh..."

"Eh, aku makan dulu ya! Nanti sambung lagi, udah dipanggil turun. Dah!" ucapnya riang. Sial, aku juga lapar.

"Oke!" seruku lalu menutup telepon. Kalau begini, mau gak mau buat kopi, dah. Setidaknya perutku sedikit terisi. Semoga masih ada biskuit di dapur, amin.

Aku beranjak ke dapur dan meraih gelas di cucian piring. Entah kenapa aku makin mulas. Kurobek bungkus kopi rasa cappucino di atas meja dapur. Kutuangkan air panas dari dispenser, dan segeralah semerbak kopi membaui indra penciumanku. Tahan lapar, tahan lapar, batinku.

TOK TOK TOK!

Hampir kujatuhkan gelasku! Siapa sih ketuk-ketuk pintu keras begitu, sialan! umpatku dalam hati. Kulangkahkan kaki menuju pintu depan. Ketika mengintip dari balik gorden, aku terkejut melihat Bapakku sedang berdiri menunggu di depan. Cepat-cepat kuputar kunci dan membuka pintu.

"Loh Bapak? Kok jam segini sudah pulang?" tanyaku. Anehnya, Bapak hanya tersenyum dan masuk ke rumah.

"Pak?" tanyaku. Ia masih tak menjawab, lalu duduk di kursi ruang tengah. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.

"Kerjaan sudah selesai. Kasihan kamu sendirian," ucapnya singkat.

"Oh, gitu. Tumben banget gak barengan Ibu," sahutku. Beliau hanya tersenyum, dan memandang lurus televisi di depan kami. Aneh sih, apa orang tuaku sedang bertengkar? Tapi tadi pagi baik-baik saja, kok.

"Pak, gasnya habis. Tolong isikan dulu ya. Lita mau nugas lagi," ujarku. Ia masih terdiam dan memandang lurus ke depan. Kuraih remote di samping televisi dan menyalakannya.

"Nonton aja dulu, Pak. Kalo udah hilang capeknya ntar mandi, ya!" seruku sambil masuk kamar. Kuintip sedikit Bapakku dari balik pintu. Ia masih duduk mematung. Ah sudahlah, tugasku masih banyak. Lama-lama pasti beranjak juga dari kursi.

---

Sudah satu jam berlalu, tapi tak ada tanda-tanda televisi dimatikan atau suara air menyala dari kamar mandi. Apa Bapakku ketiduran, ya? Tapi sama sekali tak ada suara mendengkur seperti biasanya. Sial, tiba-tiba aku merinding.

Aku beranjak dari kursi dan membuka pintuku. Bapakku tidak ada di kursi, dan televisi masih menyala memutar informasi terkini. Selain suara televisi, tak ada suara lainnya.

Apa beliau pergi beli gas?

Aku berlari ke dapur, dan mendapati gas masih terpasang rapi di bawah komporku. Ke mana sih Bapak? Pikiranku mulai tidak tenang.

Tiba-tiba, ponselku berdering dan aku hampir mengumpat saking kagetnya. Aku bergegas menuju kamar dan meraihnya. Sontak, aku terkejut melihat wajah Bapakku berada di layar ponsel. Karena kesal, kuangkat panggilannya.

"Bapak ke mana sih? Tevenya ditinggal gitu aja gak dimatiin!" seruku marah.

"Loh, nduk, Bapak kejebak hujan ini. Sama Ibu juga, jas hujan Bapak ketinggalan di garasi. Makanya mau ngabarin," sahut Bapakku di ujung panggilannya.

"Ah, yang benar, Pak! Jelas-jelas aku tadi buka pintu ada Bapak pulang, kok!" jawabku bersikeras. Tiba-tiba, panggilan beralih ke video call. Aku semakin terkejut tatkala melihat orang tuaku sedang berteduh dan hujan turun dengan deras.

"Kamu hati-hati loh, ya! Jangan buka pintu sembarangan! Tunggu Bapak pulang ya, masuk kamarmu!" serunya. Aku mengangguk dengan gemetaran dan membanting pintu kamar. Kukunci pintu kamar, dan masuk ke dalam selimut. Ah, panggilannya terputus! 

Kucoba untuk kembali terhubung dengan Bapak. Sialnya, jaringanku menipis. Aku mencoba mengirim pesan, namun tak kunjung terkirim.

"Bangsat..." umpatku. Itu siapa??? Siapa yang kubukakan pintu? Maling kah? Setan kah? Tapi itu jelas-jelas berwajah Bapakku sendiri! Tak mungkin kan aku salah lihat?

Suara ketukan halus terdengar di pintu kamarku. Napasku tertahan, dan aku menutup mulutku rapat-rapat. Ketukan itu masih terdengar, dan aku menyembunyikan diri di dalam selimut.

Tiba-tiba, suara ketukan itu berhenti. Aku masih gemetaran takut, dan ingin pipis di celana. Bapak, Ibu, cepat pulang dong!

"Sendirian, ya? Keluar yuk, aku temani, hehehe," sapa sebuah suara yang sangat halus di balik pintu kamarku. Anjir, aku ingin menangis karena takut. Pelupuk mataku mulai dipenuhi air mata. Mataku semakin berat, dan aku merasa pusing.

---

"Nak! Nak! Bangun nak!" seru seseorang ditelingaku. Aku langsung tersadar dan berbalik ke arah suara tersebut. Terlihat wajah Ibuku yang cemas dan Bapak yang bersandar di dinding dekat pintu. Aku memeluk Ibuku dan menangis lagi.

"BAPAK, IBU, JANGAN TINGGALIN LITA DI RUMAH LAGI!"


Ditulis oleh Christnina Maharani, mahasiswa Akuntansi, FEB 2017.