Wawancara Khusus Rudianto Amirta: Melihat Arah Baru Unmul ke Depan
Rektor Unmul 2026–2030, Rudianto Amirta, memaparkan rencana pembenahan tata kelola, fasilitas mahasiswa, pencegahan kekerasan seksual, dan peningkatan daya saing universitas
- 19 Oct 2026
- Komentar
- 43 Kali
Sumber Gambar: Rudianto Amirta
SKETSA - Usai empat tahun kepemimpinan Abdunnur, kini Unmul menyambut Rektor baru yang akan menahkodai kepemimpinan selama 2026-2030. Setelah melalui berbagai proses administrasi dan Pemilihan Rektor (Pilrek), estafet kepemimpinan Unmul dilanjutkan oleh Rudianto Amirta.
Kepada Sketsa, Rudi membagikan sederet Program Kerja (Proker) dan tanggapannya terhadap isu terkini di lingkungan kampus. Berikut wawancara khusus Sketsa dengan Rudianto Amirta, Jumat (2/10).
Apa yang Menjadi Pertimbangan Hingga Akhirnya Memutuskan untuk Menjadi Rektor?
Pertama tentu dari segi personal, saya memenuhi eligibility yang ada karena pernah menjabat sebagai dekan Fahutan dua periode, sehingga dari sisi manajerial, saya merasa punya cukup pengalaman untuk bisa ikut mengelola lembaga ini. Kedua, tentu saja dari perspektif peluang untuk ikut memperbaiki dan meningkatkan capaian yang ada di Universitas Mulawarman. Saya melihat bahwa Unmul harusnya bisa bergerak lebih cepat, bisa meraih capaian yang lebih tinggi dari sekarang dan lebih baik. Manakala kita punya leadership yang kuat yang bisa mendorong proses-proses itu berjalan.
Apa Saja Hal yang Menjadi Evaluasi Kepemimpinan Rektor Sebelumnya dan Akan Diperbaiki di Periode Ini?
Kami melihat proses-proses yang berjalan di kita cenderung tidak efektif. Contoh kalau kita melihat penganggaran, harusnya dengan besar penganggaran yang kita miliki, Unmul bisa bergerak jauh lebih cepat. Dengan sumber daya yang kita miliki, dengan ekosistem yang tepat, harusnya kita bergerak lebih cepat, lebih kuat. Jadi bukan sekedar mencapai titik unggul, tapi bagaimana unggul itu berarti dalam implementasi sebenarnya, sehingga dia bisa dirasakan masyarakat.
Dalam isu perubahan iklim, itu (juga) belum kita mainkan. Sehingga dalam konteks ini, itu menjadi target kerja kita, walaupun saya sadar itu bukan hal mudah, namun saya percaya dengan dukungan semua pihak, hand to hand, shoulder to shoulder, itu bisa.
Melalui Visi Pembangunan Berkelanjutan dan Tagline “Unmul untuk Kita Semua”, Apa Kebijakan Krusial yang Akan Diprioritaskan Agar Sivitas Akademika Merasakan Manfaat Nyata Transformasi Tersebut?
Saya tidak ingin menjadikan Unmul dalam satu genggaman atau dalam satu tim kecil. Partisipatif, manfaat harus ada dan disebar ke seluruh bagian. Kebijakan-kebijakan integratifnya tentu akan dibuat, seperti pengelolaan anggaran, distribusi, hingga kebermanfaatan dan pencapaiannya. Juga dari sisi penguatan yang lain. Kemudian distribusi peran. Kan kita harus klirkan juga distribusi peran.
Dalam sisi lain kita kan ingin juga membangun kepercayaan diri. Expertise teman-teman mahasiswa hingga integrasi dengan alumni. Kita harus bangun itu menjadi sebuah peluang juga menghasilkan buat mitra kita di daerah dan masyarakat yang bisa menjadi saluran kita dalam bentuk cepat untuk melakukan proses percepatan, dan meningkatkan kompetensi alumni. Kemudian percepatan juga untuk dosen, pengakuan terhadap tendik.
Ada beberapa yang sudah baik dari yang sekarang berjalan, itu akan kita jaga dan kita tingkatkan, kita rawat. Tapi yang belum, itu kita harus bangun. Belum ada satupun penganggaran kita yang didorong untuk investasi. Padahal kita bicara PTN-BH dalam beberapa hal, tapi kan itu tidak ujuk-ujuk. Harusnya akan dibangun zona transisinya.
Terkait fasilitas Unmul yang Kerap Jadi Sorotan Publik, Seperti GOR 27 September dan Gedung Student Center (SC) Bagaimana Tanggapannya?
Saya tidak ingin mengkritisi terlalu jauh nih ke dalam keberpihakan, penganggaran, perhatian dan lain-lain terhadap mahasiswa, tapi saya pikir dan mudah-mudahan nih saya berjanji juga dengan teman-teman dari tim juga, kami akan coba perbaiki itu. Karena kami percaya ketika aspek-aspek manusia disentuh, misalnya tadi fasilitas yang layak, yang dimiliki oleh mahasiswa. Nanti kita evaluasi Student Center-nya, apakah memang sudah layak atau tidak. Kalau memang perlu diperbaiki, ya kita perbaiki.
Tapi saya nggak mau itu jadi kos. Jadikan itu kantor, kita lengkapi fisiknya. Jadi, mulai bekerja tuh, transformasi diri dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Dunia manajer yang modern, gitu. Bukan tradisional. Kalau tradisional kan di kampus tuh kayak bikin kayak posko gitu ya, mahasiswa komando yang berantakan, dan lain-lain.
Belakangan, Terjadi Polemik di Kelembagaan Mahasiswa, Salah Satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM). Bagaimana Strategi Menghadapi Dinamika Kelembagaan Tersebut?
Saya justru ingin bertanya, berapa frekuensi, berapa banyak BEM ingin didampingi oleh Rektor dan Wakil Rektornya, bukan hanya sekadar untuk buka acara. Kita harus benar-benar tahu dan terlibat. Makanya tadi saya katakan kalau BEM punya kantor yang bagus, kan dia punya sekretariat yang bagus, di sana tempat berkumpul yang kondusif, ekosistem yang bagus, saya pikir itu menjadi ruang untuk berdiskusi yang bagus, ya. Membangun pemikiran, menyusun program yang bagus juga.
Dan saya tidak akan biarkan BEM merasa berjalan sendiri sehingga kita bisa pastikan bahwa penyimpangan-penyimpangan di pusat kegiatan mahasiswa itu tidak terjadi. Bisa jadi yang terjadi saat ini karena komunikasi tidak terjadi dengan baik.
Mengingat Isu Kekerasan Seksual di Kampus Masih Marak dan Menjadi Ancaman Serius, Apa Langkah dan Strategi untuk Memperkuat Pencegahan, Perlindungan dan Mengoptimalkan Fungsi Satuan Tugas (Satgas) di Kampus?
Bukan cuma fungsi Satgasnya, Satgas lebih kepada advokasi. Ketika itu terjadi, justru yang pendampingannya. Sehingga di dalam program yang saya buat, saya menyediakan itu social welfare center yang berfungsi untuk penguatan. Jadi di situ ada satu pusat yang kita akan dedikasikan bekerja bersama dengan PTK Satgas yang kita punya untuk pendampingan psikologisnya juga. Jadi di situ nanti semua hal yang terkait dengan bullying, bukan hanya kekerasan seksual.
Welfare center itu untuk memastikan semua orang yang punya masalah tertangani di luar Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Tapi satu hal yang saya ingin mahasiswa percaya, saya sangat komit untuk hal-hal seperti ini. Saya berharap tidak ada lagi bullying apalagi kekerasan seksual.
Jadi untuk kekerasan seksual sepertinya no excuse karena itu bisa jadi semacam predator. Ketika dibiarkan, dimaafkan, dia akan mengulang di waktu. Tren yang ada di dunia seperti itu. Akhirnya korbanya yang bertambah. Sehingga tegas dan keras bagaimana diatur dalam regulasi. Kalau memang kita harus memutus dan membuang satu bibir jelek ya kita buang, tidak harus mengorbankan yang lain.
Apa Langkah Strategis yang Akan Diambil dalam Rangka Meningkatkan Peringkat dan Daya Saing Universitas di Tingkat Nasional Maupun Internasional?
Saya percaya bahwa mahasiswa itu punya kapasitas, bisa jadi, kurang digali, kurang motivasi, dan kurang dipasifikas. Nah tadi kita akan lihat itu, contoh yang kita bilang yang kejadian kemarin sampai viral itu ya, banyak karena nggak punya, itu kan nggak boleh terulang. Itu akan menjadi bagian terakhir. Jadi ketika proses pendampingan berjalan, didukung oleh perencanaan dari awal yang baik, di mana disitu ada target yang dibangun, ada jumlah kelompok partisipatif yang diharapkan terbentuk. Berapa event yang harus diikuti, berapa jumlah mahasiswa yang terlibat, berapa anggaran harus disiapkan. Ketika itu semua sudah kita rencanakan dengan lebih rapi, lebih matang, dan disesuaikan dengan target pencapaian, maka seharusnya itu bisa didapat. (ner/zwg/mlt/mou)