Berita Kampus

Kuesioner Hanya Dianggap Formalitas Belaka, Mahasiswa Harapkan Transparansi

Kuesioner evaluasi dosen kerap menjadi formalitas karena diwajibkan sebagai syarat mengakses KHS. Mahasiswa menyoroti pentingnya transparansi dan tindak lanjut agar hasil evaluasi membawa perubahan nyata.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: AIS Unmul

SKETSA – Kuesioner bukan hal baru bagi mahasiswa, salah satunya pengisian kuesioner evaluasi dosen di akhir semester, yang dipandang sebagai wadah menjaga kualitas akademik kampus. 

Namun, sifatnya yang wajib diisi melalui sistem akademik (AIS Unmul) sebelum dapat melihat Kartu Hasil Studi (KHS), membuat pengisiannya sebagai bentuk formalitas mahasiswa dan seringkali menimbulkan keraguan atas dampak nyata yang dihasilkan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah mahasiswa, keseriusan mengisi kuesioner dipengaruhi sifat pengisian serta situasi yang dihadapi.

Ketika kuesioner bersifat wajib atau menjadi syarat hasil tertentu, fokus mahasiswa seringkali bergeser untuk mengisi secepatnya, bukan pada substansi dari kuesioner itu sendiri. 

Salah seorang mahasiswa Akuntansi FEB 2025, Allysa Putri menjelaskan jika kuesioner yang bersifat wajib memicu ketergesa-gesaan dan mengurangi keseriusan dalam mengisi karena fokus pada hasil dan nilai.

“Sedangkan jika sifatnya tidak wajib dan sukarela, keseriusan kita dalam mengisi kuesioner sedikit meningkat.” Ujarnya pada Sketsa, Senin (7/9).

Allysa menambahkan bahwa mahasiswa yang benar-benar menjawab sesuai pengalaman cenderung memberikan penjelasan lebih panjang untuk menuangkan pemikiran dan perasaannya.

“Untuk mahasiswa yang benar-benar menjawab sesuai pengalaman, mereka cenderung memberikan jawaban yang lebih panjang. Untuk memikirkan jawaban apa terbaik atas semua pengalaman, pemikiran dan perasaan yang selama ini mereka rasakan.”

Ia juga turut memberikan pandangannya terhadap dampak atau perubahan dari kuesioner tersebut. ia menyatakan bahwa perubahan bisa saja terjadi, namun memerlukan waktu. Hal itu dikarenakan pengumpulan kuesioner dan pengolahan data memiliki beberapa tahapan untuk mendapatkan kesimpulan dan keputusan.

Senada, mahasiswa Akuntansi FEB 2024, Novita Nur Hasanah menyebutkan keterikatan syarat nilai kerap membuat mahasiswa mengabaikan substansi pertanyaan.

"Ya ngisi sih. Karena kan mau nggak mau, diwajibkan sebelum dapat nilai. Nah kalau asal-asalan, itu bisa aja karena dia perlu nilai secara cepat. Jadi, nggak peduli tentang kuesionernya, yang penting  bisa ngeliat nilai itu sekarang juga," tutur Novita, Minggu (23/8).

Bentuk dan format kuesioner juga turut memengaruhi kualitas tanggapan mahasiswa. Kuesioner yang berbentuk kolom esai dinilai lebih efektif untuk memancing keseriusan mahasiswa dalam mengisi kuesioner dibanding berbentuk opsi pilihan ganda. 

Mengenai output dari pengisian kuesioner, mahasiswa masih memiliki keraguan terhadap transparansi hasil kuesioner tersebut. Novita mengungkapkan adanya perubahan sikap pada dosen tertentu dari tahun ke tahun merupakan hasil dari evaluasi kuesioner. 

Agar kuesioner tidak lagi dipandang sebagai formalitas belaka, para mahasiswa berharap adanya transparansi serta pembenahan dari pihak kampus maupun penyelenggara kuesioner. 

Seorang mahasiswa Fakultas Farmasi 2025, Callysta Rasty Ayu juga turut mengungkapkan hal yang sama, Callysta menyebut kalau kuisioner tanpa perbaikan yang akan membuat mahasiswa memberikan jawaban serampangan.

"Kalau isi kuesioner terus tapi nggak menghasilkan perubahan apa-apa, lama-lama kita mikir kalau jawaban kita nggak ngaruh, jadinya isi sembarangan aja,” tuturnya, Rabu (5/9).

Callysta menyarankan agar penyelenggara kuesioner memberikan informasi lanjutan atau laporan ringkas mengenai hasil kuesioner yang telah diisi.

“Harusnya ada informasi lanjutan tentang hasil dari yang kita isi, jadi kita ngerasa kalau berguna nih kuisioner kita." tutupnya. (aya/tsr/dtm/nes/mou)



Kolom Komentar

Share this article