Berita Kampus

Tolak Tarik Pembatasan Jam Malam di SC

Encik angkat bicara soal keamanan student center

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber gambar: dok. Sketsa

SKETSA – Menanggapi raibnya sejumlah inventaris dan uang milik sejumlah UKM di SC (Baca: https://sketsaunmul.co/berita-kampus/barang-di-sc-raib-ukm-akui-rugi-jutaan-rupiah/baca), Encik Akhmad Syaifudin Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni mengaku belum menerima laporan langsung dari mahasiswa. Ia meminta mahasiswa untuk segera melaporkannya secara tertulis, agar nantinya dapat diteruskan ke satuan petugas keamanan.

“Saya mendengarnya dari mulut ke mulut saja. Belum ada nih yang menyampaikan, saya belum tahu apa yang hilang,” ujarnya saat ditemui Jumat (2/7).

Bukan perkara baru, keamanan SC memang sudah lama meresahkan. Setahun lalu, hal ini sudah dibawa dalam forum audiensi. Rencananya, SC akan menerapkan pembatasan jam malam. (Baca: https://sketsaunmul.co/berita-kampus/solusi-dan-syarat-keamanan-student-center/baca). Saat dikonfirmasi, Encik menegaskan pembatasan jam malam ini membutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak, dan berlaku untuk seluruh civitas academica. Namun hingga kini masih belum dapat terlaksana lantaran belum adanya kesepakatan.

Dikatakannya, ada yang siap untuk dibatasi, dan ada juga yang belum. Bagi yang belum bersedia ini, Encik mengaku ingin berdialog lebih intens untuk meyakinkan agar rencana ini dapat dijalankan. Nantinya akan dibandingkan antara sebelum dan sesudah dibatasi, sehingga bisa dilihat pembatasan tersebut efektif atau tidak. Ketika disinggung apakah akan terlaksana dalam waktu dekat, Encik mengembalikannya lagi kepada komitmen masing-masing.

“Teknisnya itu kembali lagi kepada kita sebagai user di sana (SC). Siap enggak diamankan? Kalau saya, ingin sekali. Bahasanya SC itu kantor, yang namanya kantor itu enggak bermalam,” tambahnya.

Ia menambahkan, keamanan SC dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Internal yang dimaksud ialah cara tiap UKM untuk mengamankan, alias tidak memancing oknum tidak bertanggung jawab untuk mengambil barang.

“Secara eksternal, biarlah sistem ini bekerja. Ada keamanannya, ada aturan yang harus kita taati, ada jam malam yang mesti kita hormati supaya bisa kita perkecil risiko-risiko kehilangan itu.”

Encik menilai keamanan merupakan hal yang dinamis. Terlebih Unmul saat ini dalam masa pembangunan yang membuka akses keluar masuk dengan sangat terbuka. Ia mengeklaim dengan ini tidak bisa mengidentifikasi pada saat kapan orang-orang yang niatnya tidak baik masuk dan beraksi.

Langkah Advokasi Mahasiswa

BEM KM Unmul mengadakan konsolidasi bersama UKM penghuni Gedung Student Center pada Jumat (2/7) sore. Pertemuan yang digagas BEM KM Unmul itu dihadiri UKM Korps Sukarela (KSR), UKM Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK), UKM Teater Yupa, UKM Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Imapa), UKM Pramuka, LPM Sketsa, dan UKM Mulawarman Youth Enterpreneur (MYE).

Diawal pertemuan, Presiden BEM KM, Febri Abdul Haminudin menyampaikan bahwa Encik bersedia memberi fasilitas CCTV dan juga satuan petugas keamanan (satpam) di sekitar SC, jika mahasiswa menyetujui pembatasan jam malam. Penempatan satpam di SC ditanggapi baik, namun berbeda dengan pengadaan CCTV. Oky Paredanun, Ketua UKM Pramuka mengaku kurang setuju jika ada CCTV, karena dirasa kurang efektif. Ia lebih menyarankan agar pihak rektorat menganggarkan dana untuk pemasangan tralis di jendela dan pintu masing-masing sekretariat. Hal ini diaminkan peserta konsolidasi yang lain.

Sementara terkait pembatasan jam malam, sebagian besar UKM yang hadir dalam konsolidasi itu tidak setuju. Mengingat adanya kegiatan sosial yang insidental seperti UKM KSR dan Imapa yang harus siap terjun selama 24 jam. Dari konsolidasi itu, dihasilkan forum menyetujui adanya pengadaan satpam, pengusulan pemasangan tralis pada jendela dan akan melakukan negosiasi mengenai aturan jam malam. (adl/snh/fqh)




Kolom Komentar

Share this article