Berita Kampus

Sambut Hardiknas dengan Nobar, Kemendikbud Panen Kritikan

Mendikbud gelar nonton bareng (nobar) film 'Dilan' dan 'Yowis Ben'. (Sumber foto: dakwahmedia.co)

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


SKETSA - Belum lama ini siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) usai melaksanakan Ujian Akhir Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Beragam tanggapan dari para pelajar usai berkutat dengan soal ujian viral di sosial media. Ada yang merasa lega, namun ada juga yang melampiaskannya dengan memberikan celetukan dan keluhannya. Yang paling menarik perhatian ialah keluhan ‘nyeleneh’ yang tak urung membuat siapa saja tergelitik membacanya.

Di tengah euforia selepas ujian nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) juga tak mau ketinggalan. Terbukti dari adanya postingan foto berupa ajakan nonton bareng (nobar) film yang sempat hits beberapa saat lalu, yakni Dilan 1990 dan Yowis Ben. Dilansir dari detik.news, akun ofisial Kemendikbud melalui aplikasi Instagram memosting ajakan nobar sebagai bentuk memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei mendatang.

 

Tuai Kritikan Warganet

Di antara dua film yang ditawarkan, pilihan film Dilan 1990 memang lebih menarik perhatian khalayak. Sempat digadang-gadang menjadi film tersukses sejak dirilis 25 Januari lalu, film ini menyasar penonton remaja dan dewasa. Begitu disiarkan melalui media sosial, tak sedikit warganet yang terkejut dan menumpahkan kritik atas ide Kemendikbud yang dianggap tidak mendidik. 

Sebagian besar warganet mengutarakan kekecewaan mereka dengan dalih bahwa film Dilan 1990 sebenarnya tidak mendidik. Warganet berpendapat film tersebut lebih banyak menampilkan adegan pacaran dan berkelahi ketimbang memberikan nilai pendidikan kepada penontonnya.

Tak dapat dimungkiri memang sebagian besar adegan dalam film Dilan 1990 lebih banyak menyuguhkan adegan romantisme ala anak SMA. Hal ini dianggap tidak etis dan tidak tepat oleh sebagian besar warganet, mengingat nobar ini bertujuan untuk memperingati Hardiknas.

Salah satu yang kurang menyetujui adanya ajakan ini ialah Ayu Erika Putri. Pelajar asal Bontang ini mengatakan ketidaksetujuannya jika dua film tersebut menjadi tawaran film Kemendikbud.

“Sangat disayangkan, bahwa sahnya seorang pelajar diajak nonton film Dilan. Padahal isi filmnya hanya berisi tentang kisah remaja yang sedang jatuh cinta dan kisah remaja yg sedang menikmati masa muda mereka,” ujarnya.

Dalih Berupaya Menghargai Karya Anak Bangsa

Ada alasan di balik niatan nobar dua film ini di momen HardiknasMelalui laman berita detik.news, Kemendikbud berdalih menonton Dilan 1990 dan Yowis Ben dapat membuat masyarakat, khususnya pelajar lebih menghargai film-film nasional.

"Memang benar ini sebagai salah satu rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2018, yaitu nonton bareng film Indonesia, untuk lebih mencintai dan menghargai film karya anak bangsa dengan cara nobar film Indonesia," ucap Kasubbag Layanan Informasi Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Anandes Langguana dalam wawancaranya, Kamis (19/4/2018).

Anandes mengutarakan bahwa pemilihan film tersebut karena masih memiliki korelasi dengan momentum Hardiknas. Terlebih lagi film Dilan 1990 merupakan film yang paling banyak meraup penonton sepanjang sejarah penayangannya.

Lebih lanjut, Anandes menjelaskan bahwa ada makna penting yang bisa diambil dalam film. Yakni adanya sinergitas yang dibangun oleh para bintang laga dalam film untuk membangun suasana pendidikan yang baik. Selain itu Anandes juga menambahkan bahwa Dilan 1990 mengajarkan adanya pendidikan karakter di setiap sekolah yang semakin mendongkrak sinergitas tadi. (sut/adl/els)



Kolom Komentar

Share this article