Berita Kampus

Ormas Masuk Kampus Pascapilrek, Mahasiswa Soroti Gangguan Aktivitas Akademik

Aksi sejumlah ormas di kawasan Unmul sehari setelah penetapan rektor terpilih menuai sorotan Ormawa. Penutupan akses kampus dinilai mengganggu mobilitas mahasiswa dan aktivitas akademik

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Istimewa

SKETSA - Sejumlah Organisasi Masyarakat (Ormas) masuk dan melakukan aksi di kawasan Unmul, Kamis (1/10) lalu, sehari setelah Rektor Unmul Periode 2026—2030 ditetapkan. Aksi tersebut turut menutup sejumlah akses kampus dan mengganggu mobilitas mahasiswa. 

Kondisi ini mendapat sorotan dari Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang menilai dinamika Pilihan Rektor (Pilrek) seharusnya tidak mengganggu aktivitas akademik.

Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FT Unmul, Zaid Iman At-Tamam mengatakan pihaknya bersama Ormawa telah melakukan koordinasi dan memantau situasi di kampus. 

Menurutnya, mahasiswa yang tidak terlibat dalam dinamika Pilrek tidak seharusnya menjadi sasaran dari situasi yang terjadi.

“Yang dikhawatirkan adalah jangan sampai teman-teman mahasiswa yang tidak tahu dan tidak terlibat dengan dinamika Pilrek jadi korban dan jadi sasaran,” ujar Zaid ketika diwawancarai Sketsa, Kamis (1/10).

Zaid menilai pihak yang keberatan terhadap hasil Pilrek dapat menempuh mekanisme yang tersedia, seperti gugatan atau langkah akademis. 

Ia menyayangkan adanya penutupan akses kampus dan menilai penyampaian kepentingan seharusnya dilakukan melalui cara yang lebih akademis tanpa menimbulkan ketakutan di kalangan mahasiswa.

“Sebenarnya cukup disayangkan ketika ada satu hal yang dirasa salah seharusnya bukan langkah-langkah yang menurut saya menggunakan premanisme. Saya memahami bahwa kampus bukan tempat melakukan hal-hal premanisme seperti itu,” katanya. 

Berdasarkan pemantauannya, penutupan akses menjadi situasi utama yang dihadapi mahasiswa. Sejumlah mahasiswa FT kemudian mencari jalur alternatif melalui Jalan Gelatik dan Jalan Pramuka untuk tetap beraktivitas di kampus. 

Sementara itu, Presiden BEM FH Unmul, Maulana Faiq Maftuh mengatakan penutupan akses kampus berdampak terhadap mobilitas mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan maupun mengakses fasilitas yang ada di dalam kampus. 

Ia menilai kondisi tersebut merugikan civitas akademika yang tetap harus menjalankan kegiatan pendidikan.

“Kami menilai bahwa mengganggu akses transportasi, kemudian mobilitas mahasiswa ketika ingin ke kelas, maupun ke beberapa fasilitas umum yang ada di pintu gerbang,” ujarnya, Kamis (1/10) lalu.

Maulana menyebut BEM FH bersama Ormawa lainnya telah merencanakan konsolidasi dengan Ormawa tingkat fakultas dan Keluarga Mahasiswa (KM) Unmul. 

Konsolidasi tersebut dilakukan untuk menentukan langkah yang dapat diambil bersama dalam merespons situasi yang berkembang.

“Di situ nanti akan kita bahas apa sebenarnya tindak lanjut paling konkret, paling terbaik yang bisa kita lakukan bersama-sama,” ujar Maulana.

Pada malam harinya, Aliansi Mahasiswa Unmul menyampaikan pernyataan sikap dan tuntutan melalui akun Instagram @bem_famul. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap kegaduhan, intervensi, dan tindakan intimidatif yang terjadi di lingkungan Unmul.

Aliansi Mahasiswa menuntut pimpinan universitas memberikan pernyataan sikap resmi dalam waktu 1x24 jam. Mereka juga mendesak Panitia Penyelenggara Pemilihan Rektor menggelar konferensi pers terbuka untuk menjelaskan proses Pilrek Unmul 2026.

Selain itu, aliansi menuntut pihak eksternal atau ormas yang terlibat menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang terjadi di lingkungan kampus. 

Mereka juga menyatakan penolakan terhadap segala bentuk intervensi pihak eksternal yang tidak memiliki hubungan struktural maupun fungsional dengan lingkungan pendidikan.

Sebelumnya, komunikasi antar Ormawa terkait Pilrek telah dibangun sejak Juni hingga Juli. Zaid mengatakan pembahasan saat itu mencakup arah Pilrek serta keterlibatan Ormawa dalam proses pemilihan.

Ormawa kemudian mengundang seluruh calon rektor untuk mengikuti uji publik. Namun, hingga pemilihan berlangsung, tidak ada calon rektor yang memberikan tanggapan atas undangan tersebut.

Zaid berharap dinamika politik pascapemilihan segera berakhir agar Unmul dapat kembali berfokus pada berbagai persoalan yang perlu diselesaikan. Ia juga menekankan keselamatan mahasiswa dan kebebasan akademik dalam merespons situasi tersebut.

“Saya harap dinamika politik ini cepat selesai karena masih banyak kemudian tugas dari Unmul yang harus kita tuntaskan bersama terutama untuk rektor baru,” katanya. (dtm/vpr/ali/aya)



Kolom Komentar

Share this article