Berita Kampus

Menilik Pengelolaan Sampah Tiap-Tiap Fakultas di Unmul

Sejumlah upaya pengelolaan sampah mulai diterapkan di beberapa fakultas Unmul sebagai langkah mengurangi sampah sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan di kampus

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA - Saat ini pengelolaan sampah di Unmul mengalami inovasi pada di beberapa fakultas. Mulai penggunaan alat PilahBox di FMIPA hingga program Bank Sampah di Faperta. Langkah ini diambil sebagai upaya pengurangan sampah plastik dan anorganik di lingkungan fakultas.

Di FMIPA, PilahBox menjadi salah satu inovasi yang diperkenalkan untuk mengurangi sampah plastik, terutama botol plastik yang berserakan di lingkungan fakultas. Alat ini memungkinkan mahasiswa memasukkan sampah plastik ke dalam kotak yang telah disediakan, sekaligus mendapatkan insentif berupa pulsa gratis.

Salah seorang mahasiswa Program Studi Kimia FMIPA 2025, Patricio Barus mengaku pernah menggunakan alat tersebut dan menilai keberadaannya cukup membantu menjaga kebersihan lingkungan. 

Penggunaan box sampah tersebut sangat mudah, yaitu dengan memasukkan sampah plastik ke dalam lubang yang tersedia di PilahBox. Menurutnya, alat tersebut efektif mengurangi sampah plastik yang berserakan di sekitar FMIPA. 

Selain itu, juga membantu kebersihan, serta adanya imbalan pulsa gratis menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna. 

“Ya, mengurangi sampah plastik yang bertebaran di sekitar FMIPA dan kita mendapatkan pulsa gratis,” ujar Patrico saat diwawancara awak Sketsa,  Senin (2/2) lalu. 

Namun, Patricio juga mengungkap kendala pada sistem yang terkadang tidak memberikan pulsa sesuai yang dijanjikan. 

“Sistem box sampah mungkin bisa diperbaiki karena kemarin tidak mendapatkan pulsanya,” tuturnya.

Ia berharap, ke depan sosialisasi mengenai penggunaan PilahBox dapat diperbanyak dan sistemnya diperbaiki agar lebih optimal. 

Berbeda dengan FMIPA, ternyata Faperta lebih dulu menjalankan program Bank Sampah dengan konsep ‘Menabung Sampah Bernilai’. 

Program ini mendorong mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk memilah serta menyetor sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis.

Salah seorang mahasiswa Agroteknologi Faperta 2024, Andi Muhammad Reza menjelaskan sistem Bank Sampah tersebut menyerupai mekanisme  bank  pada umumnya. Terlebih lagi, Bank Sampah Faperta ini terbuka untuk umum. 

“Terbuka bagi masyarakat yang ingin menjual sampah dengan cara membuka buku rekening dan menyetor sampah,” jelasnya kepada Sketsa, Kamis (19/2) lalu.

Andi melanjutkan, sampah yang disetor akan didata pada buku rekening dan menjadi tabungan sesuai dengan kondisi sampahnya. Tabungan ini dapat ditarik apabila telah mencapai saldo minimal Rp50 ribu. 

“Harga sampah disesuaikan dengan kondisi sampah yang disetor dan uang tabungan dapat ditarik dengan minimal saldo 50 ribu,” jelasnya. 

Menurutnya, program ini penting untuk diterapkan di fakultas sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam mengelola sampah di lingkungan kampus. 

“Penting bagi fakultas, terutama universitas dalam mengelola sampah di lingkup kampus. Tanggung jawab dalam mengelola sampah dapat dimulai dari mahasiswa itu sendiri,” terangnya.

Ia juga menilai bahwa kampanye pemilahan sampah sejak dari sumbernya perlu terus digencarkan dan didukung dengan inovasi alat pengelolaan sampah agar sistem yang sudah berjalan dapat semakin efektif.

Pengelolaan Sampah di Fakultas Lain 

Berdasarkan keterangan dari tiap mahasiswa di beberapa fakultas, FISIP, FH, FKM, Fahutan, FIB, FKIP, Farmasi, FK, FKG, FT, serta FPIK, sistem pengelolaan sampah masih terbatas pada penyediaan tempat sampah biasa. 

Meski, beberapa fakultas sudah mencoba memilah sampah organik dan anorganik, tetapi belum ada inovasi mandiri seperti PilahBox atau Bank Sampah. 

Seperti di FH, pengelolaan sampah masih bergantung pada kantin yang secara mandiri mengumpulkan botol plastik untuk dijual kembali sebagaimana keterangan salah seorang pengelola kantin FH.

Mahasiswa pun berharap adanya perbaikan lebih lanjut soal pengelolaan sampah tersebut, mulai dari penyediaan tempat yang memadai hingga aturan pembuangan yang lebih jelas. 

“Pengelolaan sampahnya masih bisa lebih baik lagi. Misal, pemisahan sampah atau ada aturan yang lebih jelas soal buang sampah,” ungkap Thalita Nur Abdillah, mahasiswa Anak Usia Dini FKIP 2024 pada Minggu (22/02) lalu. 

Sedangkan mahasiswa Kedokteran FK 2025, Maryam Shabrina menyampaikan sampah di fakultasnya terdapat pemilahan tempat sampah, tetapi di beberapa bagian pembuangan sampah masih dicampur. 

“Dekat gazebo ada tempat sampah organik dan non-organik, selain di situ semuanya tempat sampah campur,” sebutnya, Jumat (20/02) lalu.

Bahkan, ia mengungkap terkadang sampah yang ada justru dibakar di lingkungan kampus.

“Ada satu tempat sepetak buat buang semua sampah di FK dan biasanya itu dibakar (kelihatan karena dekat kantin),” lanjutnya.

Pandangan lain pun muncul dari salah seorang mahasiswa Sastra Inggris FIB, Lucy Natalina Cecilia Sulo.

Sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi ia justru melihat peluang untuk menginisiasi program bank sampah di masa depan. 

“Sejauh ini saya rasa dari Ormawa di FIB belum ada yang menginisiasikan hal ini. Namun, saya sebagai mahasiswa yang berorganisasi menjadi tertarik mencoba mengembangkan sistem tersebut,” jelasnya pada Senin (23/02) lalu. 

Berbagai pandangan ini menunjukkan bahwa meski kesadaran mahasiswa mulai tumbuh, sistem pengelolaan sampah di sebagian besar fakultas masih bersifat konvensional. 

Ada yang sekadar mengandalkan petugas kebersihan, ada yang mulai memilah, dan ada pula yang melihat peluang untuk berinovasi. (zie/cau/ela/nza/gya/aya)



Kolom Komentar

Share this article