Berita Kampus

Kuliah Tamu Komunikasi Lingkungan: Cerita Tentang Lubang Tambang dan Ruang Hidup yang Rusak

JATAM Kaltim dalam kuliah tamu Ilkom FISIP Unmul menyoroti berbagai daya rusak industri tambang, mulai dari kerusakan lingkungan hingga rusaknya hubungan sosial masyarakat

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA - Unmul menjadi kampus nomor satu di Kalimantan Timur (Kaltim) yang sangat dekat dengan tambang. Tambang sendiri dikenal mengakibatkan berbagai daya rusak, mulai daya rusak ekonomi, daya rusak yang sifatnya sosial, hingga daya rusak ekologis. Hal ini dipaparkan dalam Kuliah Tamu Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi FISIP Unmul, Rabu (20/5) lalu di Ruang Serbaguna FISIP Unmul.

Kedekatan geografis dan realitas sosial menjadi alasan penting mengapa mahasiswa perlu memahami hubungan antara aktivitas industri ekstraktif dengan berbagai persoalan lingkungan serta kehidupan masyarakat di sekitarnya. 

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kaltim, Mustari Sihombing atau akrab disapa Judika. Mahasiswa diajak melihat banyak kerusakan tambang di berbagai daerah saling terhubung dan berdampak hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan.

Melalui pemaparannya, Judika menyebut JATAM bukan organisasi anti pembangunan, melainkan komunitas advokasi yang berfokus pada pendampingan masyarakat terdampak aktivitas pertambangan.

Menurut Judika, istilah “daya rusak” sengaja digunakan untuk menggambarkan dampak panjang dan berkelanjutan dari industri ekstraktif, khususnya pertambangan batu bara. Ia menilai narasi mengenai manfaat ekonomi tambang selama ini terlalu dominan, sementara dampak sosial dan ekologisnya sering kali disembunyikan.

“Kerusakan itu bukan hanya soal lingkungan. Ada kerusakan sosial, ekonomi, budaya, bahkan psikologis masyarakat yang hidup berdampingan dengan tambang,” ujarnya.

Di hadapan mahasiswa, Judika tidak berbicara dengan istilah-istilah teknis yang rumit. Ia bercerita tentang kampung-kampung yang perlahan kehilangan harmoni sejak perusahaan tambang masuk. 

Tentang tetangga yang tidak lagi saling sapa karena berbeda sikap terhadap penjualan lahan. Tentang anak dan ayah yang bertengkar karena satu ingin mempertahankan tanah warisan leluhur, sementara yang lain tergiur uang ganti rugi.

“Tambang itu bukan cuma merusak tanah. Dia juga merusak hubungan sosial,” katanya.

Cerita demi cerita mengalir. Tentang masyarakat yang dulunya hidup dari bertani lalu dipaksa bergantung pada ekonomi tambang. Sumber air murni yang selama puluhan tahun tidak pernah kering, tetapi mendadak hilang ketika aktivitas tambang mendekat ke pemukiman warga.

Di Sanga-Sanga, ujar Judika, warga yang sebelumnya mengambil air secara gratis kini harus membeli air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan air galon. Sementara itu, sebagian besar dari mereka bukan pekerja tambang dan hidup dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Yang paling menyedihkan itu masyarakat harus membayar sesuatu yang dulu diberikan alam secara gratis,” ujarnya.

Bagi mahasiswa yang hadir, kuliah tamu tersebut menjadi pengalaman berbeda. Isu pertambangan yang selama ini sering muncul sebagai angka-angka ekonomi dan narasi pembangunan, mendadak terasa dekat dan personal.

Akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Unmul, Harry Isra Muhammad mengatakan bahwa tujuan kegiatan tersebut memang untuk membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap persoalan di sekitar mereka.

“Kita sering melihat banjir di Samarinda sebagai peristiwa biasa. Padahal kita perlu bertanya, apa hubungannya dengan kerusakan di Hulu Mahakam atau kawasan tambang di daerah lain?” katanya.

Menurut Harry, mahasiswa perlu belajar melihat hubungan sebab-akibat dari berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di Kaltim sebab kerusakan ekologis tidak pernah berdiri sendiri.

“Jangan melihat isu tambang itu jauh dari kita. Bisa jadi dampaknya sedang kita rasakan sekarang,” lanjutnya.

Kuliah tamu itu juga menjadi titik awal bagi mahasiswa mengenal lebih dekat kerja-kerja advokasi lingkungan. JATAM Kaltim, kata Judika, memang sengaja mulai masuk ke ruang-ruang kampus agar mahasiswa tidak hanya menerima narasi manis industri ekstraktif.

Ia menyinggung bagaimana perusahaan tambang kini aktif masuk ke kampus melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), bantuan kegiatan, hingga beasiswa. Menurutnya, situasi itu sering membuat masyarakat, termasuk mahasiswa, lupa melihat realitas kehidupan warga di lingkar tambang.

“Banyak orang tidak tahu bagaimana ketakutan masyarakat yang hidup berdampingan dengan tambang,” katanya.

Diskusi berlangsung panjang dan hidup dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa. Sesekali ruangan menjadi hening ketika foto-foto lubang tambang dan banjir ditampilkan di layar. Di lain waktu, mahasiswa mulai mengaitkan cerita itu dengan pengalaman mereka sendiri sebagai warga Samarinda yang akrab dengan banjir tahunan.

Di akhir sesi, satu pesan dari forum tersebut adalah bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi isu masa depan. Ia sedang berlangsung hari ini, di sekitar kehidupan masyarakat Kaltim sendiri. (emf/aya)



Kolom Komentar

Share this article