Berita Kampus

Jalin Kerja Sama dengan Khon Kaen University, FISIP Unmul Kirim Lima Mahasiswa Mengikuti Program Pertukaran Pelajar ke Thailand

Pertukaran mahasiswa FISIP dengan Khon Khaen University

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA — FISIP Unmul mengirim lima mahasiswanya dalam program pertukaran pelajar yang bekerja sama dengan Khon Kaen University Thailand pada bulan November lalu. 

Sebelumnya, FISIP Unmul telah menjalin kerja sama dengan Faculty of Business Administration and Accountancy, Khon Kaen Business School, Khon Kaen University Thailand melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) pada Senin (16/10) lalu. 

(Baca: Langkah Internasionalisasi, FISIP Unmul Gaet Khon Kaen Business School sebagai Mitra Berbagai Program)

Salah satu tindak lanjut dari kerja sama tersebut ialah pelaksanaan program pertukaran pelajar yang menawarkan kesempatan kepada lima mahasiswa FISIP Unmul untuk dapat menimba ilmu di Khon Kaen University. 

Di samping itu, FISIP Unmul turut memberi dukungan material berupa pembayaran UKT, asrama, serta tiket pesawat pulang pergi Indonesia - Thailand kepada lima mahasiswa yang lolos. Program tersebut berlaku selama satu semester, terhitung sejak November 2023 hingga Maret 2024 mendatang. 

Untuk menggali informasi lebih lanjut, Sketsa mewawancarai dua mahasiswa yang berhasil lolos dalam program tersebut. Mereka adalah Gita Riski Anggriani, mahasiswa Prodi Administrasi Publik, FISIP 2022 dan Franklin Jonaldo, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, FISIP 2021.

Kepada SketsaGita menyampaikan bahwa alasan untuk mengikuti program tersebut adalah sebagai cara dalam mewujudkan mimpinya untuk berkuliah di luar negeri. Tak hanya itu, Gita juga membeberkan bahwa Thailand merupakan salah satu negara impian yang ingin ia kunjungi.

"Untuk yang menjadi alasan besar aku adalah karena memang aku sudah menyukai kultur dan budayanya Thailand tuh udah dari lama sejak 2020," ungkap Gita melalui pesan teks WhatsApp pada Senin (11/12) lalu.

Berbeda dengan Gita, Franklin mengaku bahwa ia awalnya tidak terpikirkan untuk mengikuti program tersebut. Namun, karena persyaratannya tidak mewajibkan sertifikat bahasa, ia pun mencoba untuk ikut serta. Melalui program tersebut, Franklin ingin mendapatkan international exposure dan pengalaman bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara.

Keduanya turut membagikan pengalamannya selama melakukan persiapan pendaftaran. Meski dituntut untuk melakukan seleksi administrasi, wawancara, hingga keberangkatan dalam waktu yang begitu singkat, Gita dan Franklin tidak merasakan kesulitan yang berarti. Keduanya justru mengalami sedikit kendala usai pengumuman kelulusan mereka. 

"Sebenarnya kendalanya itu lebih kepada saat kita sudah diterima. Jadi, setelah diterima itu ada banyak dokumen yang harus disiapin, yang paling complicated itu waktu mengurus visa," terang Franklin ketika diwawancarai Sketsa pada Rabu (13/12) lalu.

Tidak hanya visa, mereka juga harus menyiapkan dokumen lain seperti Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), Letter of Acceptance (LoA), dan sertifikat bahasa. Namun, kendala tersebut segera diatasi dengan adanya bantuan serta dukungan dari pihak fakultas.

Franklin dan Gita mengaku tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi setelah menginjakkan kaki di Negeri Gajah Putih. Di sana, mereka dibantu oleh Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (Permitha) di Thailand untuk berkeliling dan mengenal lingkungan kampus serta mengenal budaya lokal yang ada di Negeri Gajah Putih itu. 

Terakhir, keduanya berharap agar program tersebut dapat terselenggara lebih baik lagi ke depannya. Mulai dari persiapan dokumen yang lebih matang, hingga pembiayaan secara penuh, termasuk biaya hidup dan uang visa kepada mahasiswa yang lolos. Mereka juga berharap agar segala kendala yang terjadi dapat dijadikan bahan evaluasi bagi pihak penyelenggara guna meminimalisir kejadian serupa di masa mendatang. (tha/ali/dre)



Kolom Komentar

Share this article