FIB Angkat Suara soal PKKMB Unmul 2026, dari Aksi Simbolik hingga Walk Out
PKKMB Unmul menuai banyak kekecewaan. Mulai dari fasilitas, cuaca panas, hingga terbatasnya ruang ekspresi. Barisan mahasiswa FIB melakukan aksi simbolik dengan menutup mata menggunakan kain dan mencuci tangan sebagai bentuk kritik.
- 20 Aug 2026
- Komentar
- 11 Kali
Sumber Gambar: Rahman/Sketsa
SKETSA — Pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unmul 2026, Senin (4/8) lalu di GOR 27 September menuai kekecewaan sejumlah mahasiswa karena keterbatasan fasilitas, cuaca panas, hingga terbatasnya ruang bagi mahasiswa menyampaikan ekspresi dan aspirasi selama kegiatan berlangsung.
Presiden BEM FIB Unmul, Christian Toda Rado menilai pihak universitas perlu melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan PKKMB. Menurutnya, persoalan kapasitas GOR telah menjadi permasalahan yang berulang dalam pelaksanaan PKKMB beberapa tahun terakhir.
“Maka, perlu kita mempertanyakan seperti apa keseriusan universitas dalam pelaksanaan PKKMB tahun ini?” ujarnya kepada Sketsa, Selasa (4/8) lalu.
Ia juga menyoroti kondisi mahasiswa baru yang harus mengikuti kegiatan di tengah cuaca panas dengan fasilitas yang dinilai belum memadai. Christian menyebut sejumlah mahasiswa baru bahkan menyampaikan keluhan melalui media sosial terkait kondisi tersebut.
“Kekecewaan yang dirasakan itu bukan hanya dari kita sebagai lembaga eksekutif, tetapi juga dari Mahasiswa Baru (Maba) sendiri banyak yang merasa kecewa terhadap PKKMB kemarin” katanya.
Salah seorang mahasiswa Sastra Inggris FIB 2026, Akhmad Damhani mengaku mendapatkan pengalaman positif selama PKKMB. Namun, ia juga merasa kecewa terhadap fasilitas yang tersedia selama kegiatan universitas.
“Di PKKMB universitas itu saya mendapatkan pengalaman yang baik, senang, dan mendapatkan pelajaran yang bisa diambil. Tapi di satu sisi, saya agak kecewa dikarenakan kurangnya fasilitas yang mengharuskan di luar GOR,” ungkapnya melalui pesan singkat, Selasa (4/8) lalu.
Hal serupa disampaikan mahasiswa Sastra Indonesia FIB 2026, Alya Putri Agni Wijaya yang menyebut ketegangan mulai terasa sejak mahasiswa tiba di lokasi lantaran area yang disediakan hanya berupa lantai semen tanpa terpal.
Menurutnya, kondisi itu memunculkan kesadaran kolektif di antara mahasiswa baru lintas fakultas. Ia menilai rasa lelah akibat berada di bawah terik matahari berubah menjadi solidaritas untuk menyuarakan keluhan bersama.
“Sebagai mahasiswa baru, kami mengharapkan PKKMB yang aman, nyaman, tertib, menyenangkan, memorable, dan memanusiakan manusia. Tapi kenyataan di lapangan, kami malah dihadapkan dengan manajemen yang kurang baik,” tuturnya.
Aksi Simbolik FIB
Barisan mahasiswa FIB kemudian melakukan aksi simbolik dengan menutup mata menggunakan kain dan mencuci tangan sebagai bentuk kritik. Aksi ini, jelas Christian, dilakukan secara spontan.
Menurutnya, aksi menutup mata menyimbolkan pihak universitas yang dinilai belum membuka diri terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
“Kesannya masih seperti tidak ingin melihat kesalahan-kesalahan yang ada,” ujarnya.
Sementara itu, mahasiswa peserta PKKMB lain memaknai aksi tersebut sebagai kritik simbolik terhadap pihak pengambil kebijakan di kampus. Mata yang ditutup merepresentasikan birokrasi yang dinilai menutup mata terhadap realitas dan keluhan mahasiswa.
Ruang Ekspresi Dinilai Terbatas
Selain fasilitas, BEM FIB turut menyoroti keterbatasan ruang bagi fakultas menampilkan ekspresi dan menyampaikan aspirasi. Christian mengatakan, FIB telah mempersiapkan yel-yel dengan mengumpulkan mahasiswa baru sebelum kegiatan, tetapi tidak mendapatkan kesempatan untuk menampilkannya.
“Bahkan di awal, Fakultas Ilmu Budaya tidak disebutkan untuk menampilkan yel-yel,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah fakultas lain juga tidak mendapatkan kesempatan untuk menampilkan yel-yel. Keterbatasan waktu membuat ekspresi yang telah dipersiapkan mahasiswa baru tidak dapat tersampaikan secara maksimal.
FIB Pilih Tinggalkan Venue
Sejumlah fakultas, termasuk FIB, memilih meninggalkan lokasi sebelum seluruh rangkaian kegiatan selesai. Christian mengatakan keputusan tersebut merupakan bentuk kekecewaan sekaligus pertimbangan terhadap keselamatan mahasiswa baru.
“Karena yang perlu kita perhatikan itu adalah keselamatan maba,” katanya.
Ia menilai euforia PKKMB yang diharapkan mahasiswa baru tidak dapat terwujud secara maksimal akibat kondisi di lapangan. Oleh karena itu, keselamatan mahasiswa menjadi pertimbangan FIB untuk meninggalkan venue.
Alya juga menilai keputusan sejumlah fakultas untuk walk out merupakan bentuk penolakan kolektif terhadap kondisi yang terjadi.
“Ketika ruang dialog sudah buntu dan kondisi di lokasi sudah tidak memanusiakan peserta, memilih untuk pergi adalah bentuk penolakan tegas secara kolektif,” ujarnya.
Dorong Evaluasi Pelaksanaan PKKMB
Mahasiswa peserta PKKMB, Akhmad berharap fasilitas pada pelaksanaan PKKMB berikutnya dapat ditingkatkan. Ia menyarankan penyediaan tenda dan tempat duduk yang lebih nyaman apabila kegiatan tetap dilaksanakan di luar GOR.
Sementara itu, Christian menilai evaluasi pelaksanaan PKKMB tidak hanya perlu ditujukan kepada panitia mahasiswa, tetapi juga kepada pihak birokrasi universitas dan BEM Keluarga Mahasiswa (KM) Unmul sebagai pelaksana dan perpanjangan tangan birokrasi kepada mahasiswa.
Menurutnya, salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan PKKMB selanjutnya adalah kondisi GOR 27 September.
“Hal yang sudah kita ketahui secara bersama kenapa dalam dua tahun terakhir PKKMB Universitas tidak berjalan kondusif, yaitu adalah kapasitas GOR,” katanya.
Menutup wawancara, Christian menyampaikan permintaan maaf kepada mahasiswa baru FIB 2026 atas pelaksanaan PKKMB universitas yang dinilai belum mampu memenuhi harapan mereka.
“Saya bersama BEM FIB memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh maba FIB lebih terkhusus, atas pelaksanaan PKKMB universitas 2026, yang mana tidak bisa berjalan sesuai ekspektasi kita semua,” tutupnya. (ela/aya)