Tunggu Aku Sukses Nanti: Lelahnya Berjuang untuk Ekspektasi Orang Lain
Dibalut komedi keluarga, Tunggu Aku Sukses Nanti menyoroti realitas yang relate dengan situasi anak muda saat ini: dibandingkan, diremehkan, hingga usaha memenuhi ekspektasi orang lain
Sumber Gambar: Watchmen ID
SKETSA – Kumpul keluarga saat lebaran tentu mempererat tali silaturahmi persaudaraan dan untuk saling memaafkan. Meskipun begitu, bagi pemeran utama Tunggu Aku Sukses Nanti (2026), Arga Pratama (Ardit Erwandha) makna lebaran ketambahan dengan omongan tante-tantenya yang ‘mengurusi’ hidupnya.
Film yang baru rilis Rabu (18/3) lalu ini membawakan kisah yang relate dengan kebanyakan situasi kehidupan generasi muda saat ini. Dengan bumbu suasana lebaran, Arga digambarkan sebagai anak muda yang kerap diteror dengan pertanyaan “Kapan dapat kerja?”, juga dibanding-bandingkan dengan pencapaian dan kesuksesan sepupu-sepupunya.
Film berdurasi satu jam 50 menit ini juga menunjukkan kondisi keluarga inti Arga yang tidak berkecukupan, kalau dibandingkan dengan keluarga lain. Karena itu, tanpa disadari, setiap lebaran selalu mau disuruh ini itu dengan alasan hanya bisa sumbang tenaga. Hal itu yang membuat ego Arga semakin tergores dan ingin menunjukkan kesuksesan di depan keluarga besar.
Film yang digarap oleh sutradara Naya Anindita ini membawa penonton melihat perjuangan Arga yang berusaha sekuat tenaga keluar dari nasibnya sebagai pengangguran. Belum lagi setelah dirinya mendapat pekerjaan, omongan keluarga besarnya masih saja menghantuinya.
Kata-kata lain masih bermunculan, seperti pekerjaan rendahan, hingga belum bisa beli rumah. Hal tersebut membuat Arga semakin merasa diremehkan.
Menariknya, film ini seakan menunjukkan bahwa tokoh antagonis berasal dari keluarga besar. Akan tetapi, sebenarnya yang harus dilawan Arga adalah ekspektasi terhadap dirinya sendiri. Ia menggantungkan tujuannya bukan untuk diri sendiri, melainkan agar memenuhi ekspektasi orang lain yang tidak ada habisnya.
Oleh sebab itu, banyak hal yang terlewatkan dari perjuangan yang dia lalui, seperti lupa menghargai diri sendiri, lupa menghargai bantuan sahabatnya, dan merasa selalu berjuang sendiri. Ego membuat dia buta terhadap kepedulian yang justru datang dari tantenya yang paling bawel.
Sesuai dengan temanya, yakni keluarga dan komedi, film ini juga menyelipkan lelucon-lelucon yang akrab di telinga warga Indonesia sampai menggandeng salah satu komedian terkenal Indonesia, Yono Bakrie.
Selain itu, film ini juga menggandeng banyak aktor-aktor terkenal lainnya seperti Chandika sebagai teman Arga, Ariyo Wahab sebagai ayah, Lulu Tobbing sebagai Ibu, Niniek L. Karim sebagai nenek, dan Sarah Sechan sebagai Tante Yuli.
Tidak hanya itu, mereka menampilkan kameo dari aktor terkenal, penyanyi kesayangan masyarakat Indonesia, hingga komedian papan atas lainnya.
Film Tunggu Aku Sukses Nanti membuat penonton melihat bahwa kita perlu menyaring perkataan orang lain terhadap diri kita. Orang lain tidak tahu bagaimana proses yang sudah dilalui.
Dari perbedaan Arga yang memberi Tunjangan Hari Raya (THR) Rp50 ribu ke sepupu-sepupunya yang masih kecil, lain dengan sepupu lain yang bisa memberi lebih banyak. Maka, kata cukup tidak keluar dari mulut orang lain, tapi dari dalam diri kita sendiri.
Jadi, tertarik untuk nonton Tunggu Aku Sukses Nanti? (myy/aya)