logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Resensi

Before, Now & Then: Rahasia di Balik Sanggul Rambut Nyai Nana

Isu perempuan dalam film Before, Now and Then

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Instagram @happysalma

SKETSA Wanita itu harus pandai menyimpan rahasia. Semua rahasia rumah tangganya disembunyikan di balik sanggul rambut.” 

Begitulah kira-kira penggalan dialog berbahasa Sunda yang diucapkan Nyai Nana dalam film bertajuk Before, Now & Then (Nana). Film yang digarap oleh Kamila Andini ini sudah bisa disaksikan melalui platform streaming Prime Video mulai tanggal 1 Agustus lalu.

Kamila Andini tampaknya gemar mengangkat isu seputar perempuan ke dalam sinema. Tak hanya itu, satu hal yang menjadi ciri khas dari film Kamila adalah budaya Nusantara yang ia kemas ke dalam sinema. Layaknya Yuni yang dirilis setahun sebelumnya, Before, Now & Then ini juga berlatar di tanah Sunda, Jawa Barat. Bahasa yang digunakan pun juga menggunakan bahasa Sunda.

Sebelum mengupas lebih dalam, mari kita berkenalan terlebih dahulu dengan Nana. Tokoh yang diperankan oleh Happy Salma ini merupakan seorang istri dan ibu yang sebenarnya biasa-biasa saja, selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya. Pekerjaannya hanya mengurus urusan rumah tangga seperti melayani suami, mengurus kebun, dan memasak makanan yang dibantu oleh para asisten rumah tangga. 

Meskipun terlihat sebagai seorang istri yang sangat taat kepada suaminya, Nana rupanya punya sebuah rahasia. Beberapa dekade lalu, tepatnya di tahun 40an, ia harus rela kehilangan suami pertamanya akibat ganasnya keadaan kala itu. Dirinya harus berlari menembus semak belukar karena dikejar oleh gerombolan. Nana terpaksa harus melarikan diri sebab ketua gerombolan tersebut hendak menikahi dirinya.

Tak bisa dimungkiri, meskipun sudah cukup lama membangun bahtera rumah tangga bersama Pak Lurah yang bernama Darga (diperankan oleh Arswendi Nasution), ia masih belum bisa melupakan “suami lamanya” yang berada di antah-berantah. Ia yakini, sosok Icang masih ada di dekatnya. Lelaki itu kerap mampir setiap malam, menjamah tubuh elok Nyai Nana. Terasa benar-benar nyata baginya. Namun sayangnya, itu semua hanyalah ilusi dari bunga tidurnya saja.

Tak hanya Nana, tokoh lain yang menjadi sorotan dalam film ini ialah Ino (diperankan oleh Laura Basuki), seorang penjagal di pasar yang kerap Nana sambangi. Gadis itu rupanya jadi wanita kedua dalam hubungan Darga dan Nana. Uniknya, meskipun sudah mengetahui hal itu, alih-alih melabrak Ino, Nana justru menjalin hubungan baik dengan selingkuhan suaminya itu. Keduanya kemudian berteman hingga saling bertukar cerita. 

Kamila Andini mengajak kita untuk pergi menengok kehidupan di zaman lampau. Melihat bagaimana budaya patriarki yang masih kental kala itu. Before, Now & Then mengkritisi peran perempuan sebagai ibu rumah tangga yang selalu dipenuhi oleh banyaknya tuntutan baik dari dalam maupun luar. Menjadi istri dari orang terpandang bukanlah hal yang mudah bagi Nana. 

Sebagian orang berpandangan bahwa seorang ibu dan istri haruslah tangguh dan bisa menjaga martabat sang suami. Meskipun Nana masih berkubang dalam traumanya, ia tetap harus terlihat tangguh dan taat di hadapan suami dan anak-anaknya. Di balik rambut yang ia sanggul setiap hari, ia sembunyikan trauma serta rasa bersalah yang selalu menghantuinya. 

Banyaknya tuntutan yang dihadapi Nana ironisnya justru berasal dari sesama wanita. Ketika Darga berselingkuh, Nana justru dianggap tidak becus dalam menjaga dan melayani suami, sehingga Darga menjadi tidak betah di rumah.

Before, Now & Then memperlihatkan perjuangan meraih kebebasan dari perempuan yang direpresentasikan oleh dua tokoh sentral di film ini. Baik Nana maupun Ino hanya ingin hidup dengan bebas tanpa terikat tuntutan apapun. Mereka ingin memiliki kuasa atas dirinya sendiri dan bebas menentukan pilihannya sebagai seorang perempuan. Tentu, tanpa dihantui rasa bersalah dari perbuatan yang mereka pilih.

Selain isu menarik yang diangkat, sinematografi serta film score dari Before, Now & Then patut diapresiasi. Meski demikian, terdapat beberapa adegan dalam film ini yang sedikit membingungkan, khususnya bagi penonton awam yang tak terbiasa menonton film dengan konsep serupa. Oleh karena itu, Before, Now & Then adalah tipikal film yang harus ditonton dengan cermat dan berulang kali agar penonton dapat menangkap makna yang diselipkan di dalam tiap adegan.

Film berdurasi 103 menit ini cocok untuk kamu para penikmat film dengan konsep women’s empowerment, lo! Bagaimana, tertarik menonton? (dre/nkh)



Kolom Komentar

Share this article