Revolusi Industri, Milenial 4.0 Bisa Apa?

Revolusi Industri, Milenial 4.0 Bisa Apa?

(Sumber Gambar: Faisal Oddang)

Era revolusi industri 4.0 adalah di mana manusia dituntut untuk bisa mengembangkan kemampuan dengan menyeimbangkan teknologi dalam pekerjaannya. Masyarakat Indonesia, terkhusus generasi muda, harus sadar dan paham betul mengenai  hal tersebut. Generasi muda sudah saatnya harus bangun dan bersaing dengan kemampuan yang patut untuk dipersaingkan. Hidup pada era yang mendewakan teknologi seharusnya bisa mempermudah kita untuk menemukan jalan agar bisa memupuk kualitas diri.

Perkembangan teknologi juga merupakan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak orang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan banyak didapat dari membaca. Memang benar, jika kita melihat dari beberapa negara maju di dunia rata-rata masyarakatnya memiliki tingkat kegemaran membaca yang tinggi. Dijelaskan dalam terbentuknya Hari Aksara atau International Literacy Day oleh UNESCO pada tahun 1965 adalah agar masyarakat dapat melek aksara dan sadar berliterasi.

Era sekarang literasi tidak lagi mesti dipahami sebagai baca tulis semata, mengenal huruf A-Z atau membaca kalimat per-kalimat. Namun dalam era serba teknologi ini kita harus setingkat lebih maju atau mungkin lebih dalam membaca perubahan yang terjadi. Generasi muda harus bisa memanfaatkan peluang dari perubahan yang ada tentunya, tidak mungkin terlepas dari literasi. 

Mengapa literasi begitu berperan penting dalam hal ini?  Karena literasi adalah sebuah kemampuan membaca yang dalam hal ini literasi itu sendiri sudah seharusnya direvolusi. Mengingat pidato Kemenristekdikti pada bulan April bahwa, generasi muda tidak cukup hanya menguasai literasi lama seperti membaca, menulis, dan matematika sebagai modal dasar namun harus juga menguasi literasi baru yakni literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia.

Literasi data merupakan sebuah kemampuan analisis yang tentunya ini sangat berguna dalam dunia pekerjaan. Seseorang yang memiliki kemampuan alisis yang baik  akan lebih mampu bersaing untuk memajukan suatu produk atau pun mempertahankan apa yang telah menjadi keunggulan perusahaan. Kemampuan analisis yang baik tentunya akan memiliki daya kritis yang tajam yang nantinya juga akan berguna dalam hal pembangunan perkembangan suatu industri, dan tentu kritik yang memiliki solusi.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah literasi teknologi. Literasi teknologi adalah kemampuan membaca kelengkapan-kelengkapan teknologi. Generasi muda yang hidup di era 4.0 tidak boleh lagi asing dengan namanya teknologi khususnya dalam dunia komputer. Perihal mengetik dan mencetak sudah harus di luar kepala. Itu saja tidak cukup, generasi muda jika ingin memiliki nilai saing yang setara pada era ini, juga harus memahami bagaimana mengolah program prangkat lunak, mengelolah data, dan lainnya yang berhubungan dengan komputer. Keahlian tersebut tentu saja menjadi syarat wajib agar generasi muda sekarang mudah menemukan pekerjaannya. 

Literasi teknologi juga merupakan paham terhadap tanggung jawab dalam mengelola dan menggunakan teknologi itu sendiri, terutama dalam penyebaran informasi berbasis online. Penggunaan teknologi adalah yang paling integral dalam keseharian karena era ini, teknologi sangat mempermudah pekerjaan manusia. Oleh karena itu, sudah seharusnya bijak dalam menanggapinya.

Data dan teknologi merupakan satu sistem yang saling berkesinambungan yang mana teknologi dapat mempermudah pengolahan data. Generasi muda tidak boleh lupa bahwa sesunggunya kesuksesan bukan semata-mata karena kemampuan intelektual saja namun juga diikuti kemampuan spiritual. Itulah mengapa pada era revolusi industri 4.0 literasi manusia harus dimiliki juga. 

Literasi manusia adalah di mana generasi muda dituntut agar dapat memahami dan memperlakukan manusia sebagai manusia. Artinya komunikasi yang baik harus bisa dijalankan. Bagi seorang pemimpin maupun pekerja harus memiliki komunikasi yang baik agar dapat membangun kolaborasi terhadap mitra kerjanya. Selain itu literasi manusia juga mengarahkan generasi muda agar memiliki sifat kepemimpinan, kematangan budaya, beradaptasi dan entrepreneurship. Kekuatan intelektual harus bisa diiringi dengan mental yang kuat agar nantinya siap menghadapi segala tantangan yang terjadi di ke depannya.

Perkembangan zaman adalah perkembangan ilmu pengetahuan juga. Semakin besar manusia bisa berpikir maka semakin besar juga persaingannya. Semakin besar pasar industri yang akan bermunculan maka semakin besar juga kemampuan yang harus dimiliki. Generasi muda harus memiliki tiga kemampuan jika ingin selamat di masa depan yakni; kemampuan intelektual, kemampuan spritualitas dan tidak lupa kemampuan religiusitas sebagai pengontrolnya. Sekarang revolusi industri sudah semakin gencar dilakukan, milenial 4.0 tidak lagi memiliki waktu untuk bersantai karena jika tertinggal satu langkah saja maka akan sulit baginya untuk dapat peranan di dalam era persaingan industri saat ini. Kalau sudah seperti itu milenial 4.0 bisa apa?

Ditulis oleh Aulia Agustini, Mahasiswi Sastra Indonesia, FIB 2016.