Mahasiswa Harus Tetap Pada Jalur Perjuangan

Mahasiswa Harus Tetap Pada Jalur Perjuangan

“Sejarah dunia adalah sejarah anak muda, apabila anak muda mati rasa maka matilah sejarah sebuah bangsa," -Pramoedya Ananta Toer.

Sejarah sudah mencatatkan bahwa perubahan-perubahan besar banyak diilhami oleh orang muda, begitu juga dengan perubahan yang terjadi di Indonesia, mulai dari memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai mempertahankan kemerdekaan. Mungkin masih segar diingatan kita bagaimana empat mahasiswa Trisakti harus meregang nyawanya demi mengobarkan semangat reformasi.

Sarang-sarang pemuda tersebut sebagian besar tersebar di kampus. Kampus menjadi tempat bagi para mahasiswa untuk saling bertemu satu sama lain, membicarakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh para oligarki, membicarakan perjuangan melawan penindasan, membicarakan hak-hak asasi warganya, dan pada intinya kampus menjadi tempat bagi para mahasiswa untuk senantiasa menumbuhkan semangat kritis.

Kampus tidak hanya tempat bagi para mahasiswa untuk merebut indeks prestasi yang setinggi-tingginya, tidak hanya tempat menemukan cinta sejati, tetapi kampus juga haruslah senantiasa menjadi tempat menumbuhkan semangat kritis, menumbuhkan semangat perlawanan, melawanan kelaliman yang dilakukan oleh penguasa kampus dan penguasa negeri ini yang kian hari lari dari semangat kemerdekaan.

Namun, perlahan demi perlahan semangat kritis mahasiswa kian hari kian luntur. Mahasiswa kini terjebak dalam romantisme hedon. Kehadiran teknologi semakin melahirkan sikap individualis, sikap acuh tak acuh, seakan-akan lupa akan apa yang menjadi tupoksinya. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para penguasa negeri ini bak angin di padang rumput yang hanya lewat begitu saja.

Kejadian tersebut begitu nyata saya hadapi di kampus. Teman-teman begitu enggan bila diajak untuk diskusi, begitu enggan untuk menyuarakan pelanggaran-pelanggaran, meneriakan perubahan. Mereka lebih memilih diam, memilih terbawa arus yang nyata-nyatanya membawa mereka kedalam pembodohan, sistem yang tidak semestinya diami begitu saja.

Soe Hok Gie pernah berujar,”Hidup ini hanya dua pilihan, menjadi manusia apatis atau mengikuti arus, namun saya memilih menjadi manusia merdeka”. Soe Hok Gie adalah salah satu mahasiswa yang senantiasa merawat semangat kritisnya di saat teman-temanya terkooptasi oleh kekuasaan, dia senantiasa melancarkan perlawannya melalui tulisan-tulisannya.

Apa yang menjadi pilihan Soe Hok Gie seharusnya juga menjadi pilihan bagi kita mahasiswa. Tidak apatis apalagi mengikuti arus. Merdeka adalah pilihan yang nyata bagi kita mahasiswa. Dengan bersikap merdeka kita akan senantiasa berada dalam jalur perjuangan.

Kalau bukan kita siapa lagi? Ini akan semacam pertanyaan refleksi bagi kita mahasiswa. Kita mahasiswa tidak dapat melawan takdir kita. Bahwasanya agent of change akan senantiasa melekat di pundak kita, control sosial sudah menjadi pekerjaan kita, iron stock adalah kita. Karena sejarah tidak pernah berbohong akan hal tersebut.

Jas merah, jangan sekali kali melupakan sejarah. Oleh karena itu kita mahasiswa harus senantiasa menghargai sejarah sehingga dengan menghargai sejarah semangat untuk melahirkan perubahan akan senantiasa tertanam dalam sanubari kita. Dengan senantiasa belajar, kita yang terjabak dalam romantisme hedon perlahan demi perlahan akan keluar dari lingkaran tersebut.

Era milenial ini adalah era kita. Oleh karena itu mari senantiasa belajar dan berjuang. Mari kembali jadikan kampus sebagai dapur ilmiah, mari jadikan kampus sebagai tempat untuk berkumpul bersama dengan teman-teman seperjuangan yang rindu akan perubahan dan menjadikan kampus sebagai tempat untuk melahirkan sosok-sosok kritis, dan yang pastinya melahirkan para negarawan.

Para pendahulu kita sudah mencatatkan hal tersebut dalam lembaran sejarah, mereka telah menunaikan tugasnya sebagai agent of change, control sosial, dan iron stock. Lantas pantaskah kita hanya berpangku tangan sembari menikmati sisa-sisa perjuangan mereka, menutup mata akan apa yang terjadi kita tanpa pernah berpikir untuk merubahnya.

Perjuangan memang tidak selalu sama karena lain zaman lain tantangannya namun, semangat mereka tetaplah menjadi landasan bagi kita yang masih mengemban nama sebagai mahasiswa sehingga kita dapat melanjutkan apa yang menjadi cita-cita mereka sekaligus menjadi cita-cita kita juga yakni, mewujudkan apa yang menjadi amanat konstitusional bangsa ini.

Dengan terwujudnya seperti yang sudah saya sampaikan di atas niscaya di tahun 2045 di mana bangsa ini akan mencapai usia emasnya akan terwujud sebuah bangsa yang kita cita-citakan bersama yaitu sebuah bangsa yang betul-betul hadir buat rakyatnya, hadir buat kaum-kaum marginal sehingga terwujud pulalah sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Dan yang mempunyai beban untuk mengubah itu adalah kita, kita mahasiswa.

Kalau bukan kita siapa lagi kalau bukan sekarang kapan lagi? Mari mulai bertanggung jawab akan apa yang menjadi tugas kita. Jangan biarkan bangsa ini kehilangan agen perubahannya. Kehilangan sosok-sosok yang akan melanjutkan estapet perjuangan bangsa ini, dan membiarkan bangsa ini berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti.

Ditulis oleh Sukardi, Wakil Gubernur BEM FEB Unmul 2018