Kekuatan Korean Wave Dalam Menarik Massa

Kekuatan Korean Wave Dalam Menarik Massa

Sumber Gambar: McDonalds

Drama Korea kian menggoda di masa pandemi. Terbukti dari beberapa media siber yang mengungkap bahwa terjadi peningkatan tayangan drama atau film Korea di 2020, pada layanan streaming seperti Iflix. Menjamurnya budaya populer dari Korea Selatan, mulai dari produk drama, musik, film, style, tak hanya berdampak pada negara yang memproduksi, namun juga negara yang menerima budaya ini.

Lumrah disebut sebagai Korean Wave atau gelombang Korea, fenomena ini menjadi bahasan menarik dalam kajian komunikasi. Tak semata soal oppa, secara garis besar kajian komunikasi, Korean Wave layak diulik dari berbagai hal. Pada 9 Juni 2021, BTS Meal hasil kolaborasi BTS dan McDonalds (McD) menunjukkan betapa kuat proses komunikasi yang dilakukan pihak Mcd dalam pemasaran produknya.

Hebohnya peluncuran produk kolaborasi ini disebabkan banyaknya jumlah fans BTS (ARMY) di Indonesia. Meski pandemi, kelompok ini tak habis akal dalam menyatukan gerakan sosial seperti berdonasi untuk mitra Gojek. Meski tampak sederhana, jika diusut lebih jauh kuatnya getaran sebuah boyband asal Korea Selatan inilah yang harus dipertanyakan.

Tentu media tak luput sebagai alat penyebarannya. Harus diakui, bahwa Korea Selatan menjelajah pasarnya dengan gaya modern yang bisa diterima banyak kalangan. Jika Indonesia masih berkutat di persoalan sinetron dengan polemik alur cerita mentah, Korea Selatan justru hadir sebagai alternatif hiburan kalangan menengah ke atas, lengkap dengan ciamiknya sinematografi dan alur cerita beragam.

Jika berbicara film dan drama, Korea Selatan bisa jadi lebih fasih dalam merepresentasikan maskulinitas. Maskulinitas (KBBI), diartikan sebagai kejantanan laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksualnya. Seringnya, dalam drama Korea laki-laki kerap ditampilkan sebagai “jagoan” dengan paras yang menawan. Untuk representasi maskulin di Korea, bahwa laki-laki digambarkan sebagai pelindung, bergaya, dan merawat diri sama seperti wanita. Hal inilah yang akhirnya diterima masyarakat Indonesia penikmat drama Korea.

Konstruksi sosial bahwa laki-laki tak patut ‘berdandan’ atau menggunakan produk perawatan tubuh tersingkirkan sejalan dengan Korean Wave. Dapat dilihat dari pergeseran pandangan dan kebutuhan komersial produk seperti skincare yang diisi oleh para lelaki.

Satu contoh menarik lainnya ialah film Kim Ji Young, Born 1982. Film ini berhasil menjadi media komunikasi yang menguraikan patriarki di Korea Selatan. Pada film ini perempuan kerap dinomor duakan, baik dalam mencapai tujuan ataupun menyampaikan suara penolakan.

Adanya posisi dan kegentingan yang berbeda antara lelaki dan perempuan, di mana agenda perempuan dianggap tidak sepenting lelaki bisa ditinjau dalam Genderlect Styles Theory. Film Kim Ji Young, Born 1982 bukan lagi sebatas tontonan, tetapi juga hadir dengan kuatnya pesan bahwa patriarki menjadi permasalahan negara mana saja. Terlebih lagi, santer terdengar bahwa audiens drama Korea belajar dari film dan drama yang mereka tonton.

Tak salah, sebab Korea Selatan ‘mendunia’ dari cara mereka memanfaatkan potensi industri. Dengan ragam media, negara ini bisa menarik audiens atau penikmatnya untuk mengenal lebih jauh negara ini. Hal ini mendulang keuntungan lebih besar dari berbagai sektor seperti kebutuhan komersil, pendidikan (kesempatan beasiswa di Korea Selatan), wisata, penelitian, dan lainnya.

Dari beberapa hal di atas, bagi saya gelombang Korea bukan masalah sepele. Bukan hanya masalah selera antara barat dan timur. Namun, persoalan bagaimana komunikasi efektif itu diimplementasikan lewat berbagai media. ARMY dapat melakukan gerakan sosial, karena punya tujuan yang sama dalam solidaritas sesama penggemar. Berduyun-duyunnya ARMY, yang mana diisi oleh kalangan menengah bisa jadi adalah kunci dalam menggerakkan massa di waktu mendatang.

Berjam-jam penayangan drama Korea yang ditunggu masyarakat kita hari ini, bisa jadi bekal untuk Indonesia dalam memaksimalkan media film dan menyebarkan nilai-nilai budaya di masa mendatang. Sebab, gelombang Korea saat ini tak hanya bicara kualitas, tapi juga berbicara angka dan massa, yang mudah digerakkan ketika proses komunikasi itu berhasil tersampaikan pada audiens. Di sisi lain, massa bisa menjadi bumerang ketika proses komunikasi tak berjalan dengan baik.

Ditulis oleh Restu Almalita, mahasiswi Ilmu Komunikasi, FISIP 2018.