Karet, Komoditas Tiada Mati Namun Harga Fluktuasi

Karet, Komoditas Tiada Mati Namun Harga Fluktuasi

Konsumsi karet alam nasional di Indonesia hanya bisa menyentuh angka 20% dari total produksi karet yang sekitar 3 juta ton/tahun (Kementrian Perindustrian, 2017). Sisanya, sebesar 80% diekspor ke luar negeri dalam bentuk mentah. Hal ini sangat miris, mengingat masih banyaknya petani karet yang ada di beberapa wilayah Indonesia.

Harga karet Indonesia terendah di tataran negara ASEAN, hanya sekitar Rp 4.000 – Rp 7.000 per-kg. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang bisa melebihi Rp 10.000 per-kg. Tren harga karet alam di Indonesia pun fluktuatif (cenderung menurun) selama 5 tahun terakhir.

Petani karet pernah merasakan masa jaya ketika harga karet sedang tinggi-tingginya, sampai menyentuh harga Rp15.000 per-kg sekitar tahun 2013. Namun, setelah itu, harga karet terus mengalami penurunan hingga yang terparah di kisaran Rp4.000 per-kg.

Ada beberapa penyebab mengapa harga karet trennya cenderung menurun, di antaranya ialah kurangnya akses informasi yang baik tentang potensi pertanian kepada para petani, dan peran tengkulak (broker).

Kurangnya akses informasi yang baik tentang potensi pertanian menyebabkan kualifikasi hasil pertanian Indonesia selalu rendah. Terhalangnya informasi mulai dari informasi tentang waktu tanam yang tepat hingga info harga panen membuat proses pertanian di desa tidak melalui perencanaan yang matang.

Selain itu, peran tengkulak/pengepul (broker) sangat besar dalam menekan harga komoditas pertanian di Indonesia, salah satunya karet alam. Karena rata-rata petani karet tidak memiliki akses pemasaran langsung, entah itu terkendala oleh infrastruktur yang belum memadai, atau ketertinggalan di bidang teknologi, yang membuat para petani harus menjual hasil panennya ke para pengepul. 

Harga jual dari petani sangat tergantung oleh harga yang ditentukan oleh para pengepul. Sering kali para petani harus menjual hasil panennya sedikit di atas harga perolehan produk (HPP). Sementara keuntungan besar akan lebih dirasakan oleh para pengepul setelah mereka menjual kepada pihak-pihak lain.

Karet yang merupakan komponen utama pembuatan ban, adalah komoditas yang tidak akan “mati” selama kendaraan masih menggunakan ban karet. Oleh karena itu, penstabilan harga karet sangat dibutuhkan. Berdasarkan dua masalah di atas, langkah yang bisa diambil dalam upaya menstabilkan harga karet adalah menyediakan akses informasi yang memadai kepada para petani karet tentang potensi pertanian.

Selain mempermudah akses informasi, tentunya harus ada program-program pembinaan yang berkelanjutan agar bisa terwujud inovasi yang meningkatkan kualitas karet yang diproduksi. Selain itu, mata rantai pemasaran hasil pertanian harus diperbaiki (memutus peran tengkulak). Hal ini diamini oleh salah satu narasumber di agenda Temu Fisik Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia tahun 2016 di Yogyakarta yang mengatakan harus adanya pemutusan rantai pemasaran hasil pertanian, yaitu di bagian tengkulak.

Dalam hal ini, petani akan lebih leluasa dalam memasarkan produknya kepada konsumen secara langsung dan penentuan harganya akan lebih tepat karena menyesuaikan kebutuhan pasar.

Peran BUMDes/BUMK pun sangat penting dalam upaya menyejahterakan para petani khususnya petani karet. Jika melihat contoh beberapa BUMDes/BUMK yang sukses meningkatkan perekonomian lokal, tentu tercapainya kesejahteraan petani tidaklah mustahil. Beberapa BUMDes yang ada di daerah Jawa mampu membuktikan peran besar BUMDes/BUMK dalam memajukan perekonomian desa. 

BUMDes Tirta Mandiri di Desa Ponggok misalnya, dengan omset sebesar Rp 10,36 milyar dan laba bersih sekitar Rp 6,5 milyar sudah cukup membuktikan peran besar BUMDes/BUMK dalam rangka mensejahterakan masyarakat desa. Atau ada juga BUMDes Karya Jaya Abadi di Desa Amin Jaya yang menggunakan modal awalnya untuk membangun infrastruktur jalan menuju perkebunan warga dan setelahnya membentuk unit usaha jual beli TBS (Tandan Buah Segar) yang menghindarkan petani dari permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak.

Lewat BUMDes/BUMK, para petani bisa memperoleh informasi yang diperlukan untuk meningkatkan kualifikasi hasil panen. Lewat BUMDes/BUMK para petani bisa memasarkan produknya secara lebih praktis tanpa harus melewati tengkulak/pengepul.

Belum lagi lewat program-program pengembangan yang bisa dihasilkan lewat BUMDes/BUMK yang akan memberikan inovasi baru dalam pengolahan hasil pertanian. Bisa dilihat, peran BUMDes/BUMK bisa menutupi dua masalah utama yang mempengaruhi penentuan harga karet. Dengan optimalisasi peran BUMDes/BUMK, tingkat perekonomian desa/kampung akan semakin membaik dan para pelaku ekonomi di masing-masing desa/kampung pun akan lebih sejahtera


Ditulis oleh Praja Habib Pasangka, Staf Departemen Harmonisasi Kampus BEM FEB Unmul