Hari Air Sedunia: Sudahkah Kita Menghargai Sumber Air?

Hari Air Sedunia: Sudahkah Kita Menghargai Sumber Air?

Merdeka.com

Hari Air Sedunia atau World Water Day diperingati setiap tanggal 22 Maret. Peringatan ini pertama kali diumumkan pada sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-47 pada tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Peringatan Hari Air Sedunia dimulai pada tahun 1993 untuk memotivasi publik untuk memberikan dukungannya dalam konservasi air dengan mengurangi penggunaan keran air sepanjang hari.

Air adalah komponen paling penting dalam kehidupan manusia. Namun, sering kali kita tidak menjaga dan tidak mengelola sumber-sumber air tersebut dengan baik. Air menjadi terbuang-buang tanpa digunakan dengan benar, sementara di tempat lain, banyak sekali masyarakat yang kekurangan air. Mereka tidak dapat menikmati air bersih bahkan untuk sekadar minum dan mandi.

Indonesia sebagai negara terpadat keempat di dunia pun tak luput dari masalah ketersediaan air bersih. Penyediaan sumber air bersih jelas dijamin pada Pasal 33 UUD 1945 ayat (3) yang berbunyi “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. 

Selanjutnya, kebijakan tersebut dipertegas dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bahwa pemenuhan air bersih bagi masyarakat merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah sebagai bagian dari pelayanan publik yang harus mereka lakukan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan capaian akses air bersih yang layak saat ini di Indonesia baru mencapai 72,55 persen. Angka ini masih di bawah target Sustainable Development Goals (SDGs) yakni sebesar 100 persen. Dengan data ini, dapat kita simpulkan bahwa masih ada masyatakat Indonesia yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih dilingkungannya.

Seri Analisis Pembangunan Wilayah Provinsi Bengkulu 2015 menyebutkan rendahnya akses terhadap air bersih dikarenakan permasalahan dalam penyelenggaraan air minum dan sanitasi. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk mengadakan perilaku hidup bersih dan sehat juga masih rendah.

Hal ini seharusnya membuat kita sadar, bahwa tidak semua orang beruntung untuk mendapatkan air bersih seperti kita. Seringkali kita lalai dalam penggunaan air dan melakukan pemborosan. Kita harus lebih bijaksana dalam mengelola pemanfaatan sumber daya air, sebab saat ini kuantitas dan kualitas air terus menurun sementara permintaan air secara global terus meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi dan pertumbuhan populasi manusia.

Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya sumber air bagi kehidupan, maka kita harus turut mengelolanya dengan baik. Beberapa hal sederhana seperti mematikan keran air yang menetes dan memperbaiki keran yang bocor serta menampung air hujan untuk dimanfaatkan sebagai air penyiram toilet atau penyiram tanaman dapat kita lakukan sebagai bentuk kesadaran akan ketersediaan air bersih.

Semoga dalam momen Hari Air Sedunia kali ini, kita dapat menghargai sumber air dan terus menjaga serta mengelolanya dengan baik dan benar demi keberlangsungan akses air bersih. 


Ditulis oleh Christnina Maharani, mahasiswi program studi Akuntansi FEB 2017