SISI TERGELAP SURGA: REALITAS KEHIDUPAN DI KOTA YANG DIPANDANG SEBAGAI “SURGA”

SISI TERGELAP SURGA: REALITAS KEHIDUPAN DI KOTA YANG DIPANDANG SEBAGAI “SURGA”

Sumber Gambar: Website Gramdedia

“Surga” dianggap sebagai tempat yang sangat indah dan penuh kenikmatan yang diidamkan manusia. Namun, dalam novel karya Brian Khrisna ini, “Surga” tidak digambarkan sebagai tempat ideal yang indah, melainkan simbol harapan dan tujuan hidup yang ternyata juga memiliki sisi gelap. 

Sebuah novel yang terbit pada 2023, mengisahkan bagaimana Jakarta merupakan kota yang kerap kali menjadi tujuan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan dan bertaruh nasib. Namun, fakta bahwa kota ini selalu mampu untuk melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan. 

Di balik citra Jakarta sebagai kota megah, tersimpan penderitaan bagi mereka yang hidup di pinggir kota dan terabaikan. Kisah dalam novel ini bukan sekadar potret sosial, tetapi juga perjuangan manusia untuk bertahan hidup di tengah kerasnya realita yang penuh dengan konflik batin dan keputusasaan.

Menariknya, penulis tidak memberikan sudut pandang dari tokoh utama saja, melainkan beberapa sudut pandang dari tokoh lain agar pembaca dapat melihat berbagai lapisan kehidupan urban. 

Melalui berbagai sudut pandang dari tokoh yang berbeda, Brian Khrisna mengajak pembaca merasakan bagaimana mereka berjuang segala cara untuk bertahan hidup. 

Mulai dari sebagai pemulung, pengamen, penjual asongan, pekerja seks komersial, pemimpin kecil yang korup, pencuri motor, lelaki tua berkostum ayam, manusia silver dan preman serta pekerja lainnya. 

Para tokoh dalam novel ini menunjukkan bahwa manusia dapat bertahan walaupun hidupnya terbatas.

Novel ini juga memberi pelajaran agar tidak menilai orang hanya dari luarnya saja. Seseorang tidak bisa disimpulkan dari cara mereka berpakaian atau pekerjaan apa yang dilakukannya. Mereka belum tentu senang melakukannya, mungkin keterpaksaan memenuhi kebutuhan. 

Sisi Tergelap Surga cocok dibaca bagi mereka yang ingin memahami bagaimana kehidupan urban secara mendalam, sekaligus menjadi bahan refleksi diri bahwa menghargai setiap manusia itu sebuah kewajiban.

Resensi ini ditulis oleh Ayun Novita Sari, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum FH Unmul 2024.