Manusia Tulang

Manusia Tulang

Sumber Gambar: Website Pexels

Nabastala begitu sendu

Suara hujan mendekap kebisingan

Daksa telah rapuh menjadi serpihan

Apa arti hidup? Bukankah menuju ajal?

 

Lembaran buku telah usang

Sesosok manusia telah kehilangan akal

Dersik angin menjadi kidung

Tuhan, bisakah aku pergi sekarang?

 

Oh, manusia tulang

Bermimpi saat tidur

Mengais receh dengan tekanan

Tuhan, aku sudah muak

 

Oh, manusia tulang

Mata ini telah kering

Lelah berjatuh berkali-kali

Rasanya atmaku telah kosong

 

Ah, benci sekali

Dunia itu neraka indah

Membanting tulang manusia payah

Berbicara dengan membisu

Menunduk patuh pada kuasa

Tuhan, mungkin kini aku telah mati.

Puisi ini ditulis oleh Serlinah, mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia FIB Unmul 2022