Momentum Peringatan IHSD 2019

Momentum Peringatan IHSD 2019

Africanews.com

Bila diumpamakan, terdapat dua buah kue yang sama jenisnya  namun di tempat terpisah. Kue pertama ditaruh di etalase kaca dengan tulisan jangan disentuh. Sedang kue kedua dibiarkan berdesakan dengan jajanan lain tanpa penutup apa-apa. Ini tentunya lebih sering dipegang oleh tangan-tangan yang belum tentu steril.

Perumpamaan ini mengingatkan kita pada sosok muslimah yang dimuliakan Allah dengan hijabnya. Hijab pada dasarnya menjaga dan memuliakan. Hijab bagi seorang muslimah bukanlah suatu hal yang membatasi seorang perempuan untuk beraktifitas. That’s true.

Kali ini kita akan membahas apa itu International  Hijab Solidarity Day atau disingkat IHSD yang diperingati dunia setiap 4 September. IHSD merupakan hari di mana kita sebagai umat islam menunjukkan rasa kepedulian dan solidaritas kepada saudara seiman di belahan bumi lain yang mendapatkan perlakuan tidak baik karena menggunakan dan mempertahankan hijabnya. Selain itu, juga sebagai bentuk kebanggaan dan kesatuan umat islam, khususnya muslimah di dunia. Yang melatarbelakangi IHSD ini ialah adanya diskriminasi yang dilakukan terhadap muslimah berhijab di beberapa negara. Bahkan ada yang sampai melarang muslimah untuk mengenakan hijabnya.

Dahulu di London terdapat keputusan pemerintah yang melarang mahasiswa untuk memakai simbol-simbol keagamaan, termasuk muslimah untuk menutup aurat secara sempurna. Keputusan ini menimbulkan protes dari kaum muslim. Maka, diadakanlah konferensi pada 4 September 2004 yang menghasilkan beberapa keputusan, yaitu menetapkan dukungan terhadap penggunaan jilbab, penetapan tanggal 4 september sebagai IHSD dan rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah agar mempertahankan hijab mereka.

IHSD awalnya diprakarsai oleh umat islam di empat negara, yakni Perancis, Jerman, Tunisia dan Turki. Dulunya di negara-negara tersebut muslimah berhijab dipersulit hidupnya bahkan ada yang sampai dipenjara dan disiksa. Selain itu, IHSD diperingati untuk mengenang Marwa Al-Sharbini, seorang muslimah asal Mesir berusia 32 tahun yang dibunuh serta korban penghinaan karena mengenakan hijab oleh seorang pemuda jerman keturunan rusia di ruang sidang kota Dresden, Jerman pada awal September.

Itulah perjuangan muslimah di berbagai belahan bumi lain. Mereka berjuang rela mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan hijab demi bukti keimanan dan kecintaannya kepada Allah. Perjuangan mulia itulah yang harusnya saat ini terus kita lakukan, salah satu caranya yaitu tidak menyia-nyiakan kebebasan berhijab di negara tercinta ini.

Setiap muslimah adalah ibu di masa depan. Maka, muslimah masa kini jangan sampai menunda untuk memulai berhijab karna jilbab adalah perintah-Nya, Dia senantiasa melihat apa-apa yang dikerjakan oleh kita. Hilangkan segala keraguan dalam berhijab, terus memperbaiki diri untuk menjadi perempuan yang lebih baik. Buktikan cinta kita kepada-Nya dengan berhijab, dan jadilah wanita mulia pembangun peradaban. Muslimah yang teguh dengan hijabnya, yang terus menambah wawasan dan senantiasa hadir menjadi solusi di masyarakat adalah muslimah yang harus hadir di masa kini.

Jilbab yang hadir di tengah masyarakat harus dipenuhi dengan wawasan, apalagi bila ditambah dengan kecerdasan dan talenta yang dimilki oleh seorang muslimah. Maka muslimah dengan hijabnya saat ini akan mampu melahirkan generasi-generasi perbaikan bagi bangsa.

Untuk cakupan Universitas Mulawarman sendiri, rangkaian IHSD setiap tahunnya dilakukan dengan aksi bagi-bagi hijab dan selebaran berisi pesan-pesan kebaikan. Yuk berjilbab, karena jilbab memuliakanmu.

Ditulis  oleh Rika Nurul Permatasari, Kepala Departemen Kemuslimahan Lembaga Dakwah Fakultas  An-Nuur, Fakultas Ekonomi dan Bisnis.