Ghiksi: Merajut Jalinan Solidaritas dalam Malam Puncak Acara Pasca Channel 18

Ghiksi: Merajut Jalinan Solidaritas dalam Malam Puncak Acara Pasca Channel 18

Foto: Dokumen Pribadi


SKETSA - Meski sempat dilanda hujan deras, hal tersebut tak lantas menyurutkan semangat para anggota Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himaksi) untuk melaksanakan kegiatan malam puncak acara mereka yang bertajuk Grow Happiness and Intimacy with Himaksi (Ghiksi). Acara tersebut dihelat di Kopi Tarik Om Djoelak pada Sabtu (24/12) kemarin.

Diselimuti oleh canda tawa, acara kemudian dibuka dengan ceria oleh Yohan dan Galu. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Hilmy dan sambutan-sambutan dari Ketua Panitia dan perwakilan Himaksi.

Muhammad Rafly Pratama selaku Ketua Panitia turut memberikan sambutannya dengan hangat dan tak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua orang yang telah hadir ke acara tersebut. Tuturnya, Ghiksi hadir untuk mempererat solidaritas dan keakraban bagi seluruh kader Himaksi sekaligus menyambut anggota baru mereka, kader 18 angkatan 2022. 

Setelah sambutan berakhir, acara dilanjutkan dengan sesi minat bakat, yang menampilkan mahasiswa Ilmu Komunikasi unjuk gigi di panggung Ghiksi. Hana menjadi pembuka sesi minat bakat yang pertama, ia sukses menyanyikan salah satu lagu milik Ariana Grande. 

Berlanjut dengan tidak kalah seru, Isa melantunkan lagu berjudul 18 dari grup One Direction. Penampilan tersebut sukses membuat seluruh audiens untuk ikut bernyanyi bersama.

Belum rampung, Ghiksi juga selenggarakan talkshow bertajuk Komunikasi Budaya di Era Media dengan dua narasumber. Mereka adalah Aji Dhila Ratna Fitri sebagai Wakil II Dara Kutai Kartanegara 2022 dan Arif Noor Gunawan sebagai Duta Pariwisata Samarinda 2022. Perbincangan tersebut ini dipandu dengan apik oleh Belva Sardjitha sebagai moderator.

Menurut Arif, fenomena globalisasi yang tengah terjadi saat ini tidak dapat dimungkiri turut menyebabkan perubahan pada cara seseorang dalam berkomunikasi. Layaknya pisau bermata dua, terdapat kekurangan dan kelebihan dari terjadinya globalisasi. Saat ini media sosial menghadirkan beragam jenis budaya dari berbagai penjuru dunia, namun apabila tidak disikapi dengan bijak hal tersebut mampu berubah menjadi sebuah ancaman yang membuat budayaa Indonesia perlahan menjadi pudar.

Senada dengan Arif, Aji mengungkap bahwa media sosial mampu menjadi hal positif ketika diimplementasikan dengan baik. Menurutnya, komunikasi antar budaya menjadi penting ketika seseorang berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda latar belakang budaya dan memahaminya.

“Kalau masalah membahas tentang ketertarikan mengenai budaya itu pasti baliknya ke diri sendiri, ya, bagaimana kita itu ingin tahu tentang kebudayaan kita sendiri,” ucapnya.

Puas dengan perbincangan yang memperkaya wawasan, sesi minat bakat kembali menyapa. Berbeda dengan peserta minat bakat sebelumnya, Sasli menampilkan dance dengan energik yang mampu membuat para penonton terpukau. 

Sesi minat bakat terakhir ditutup oleh Khusnul dan Amam. Keduanya tampil berduet dengan lagu Siapkah Kau ‘Tuk Jatuh Cinta Lagi dari grup kenamaan HIVI. 

Tidak berhenti sampai di situ, usai MC menutup acara Ghiksi, seluruh panitia melanjutkan acara dengan konsep santai sambil bernyanyi bersama beberapa lagu. Acara tersebut sukses menjadi hiburan penutup yang menyenangkan bagi kader baru yang akan menjajaki langkah baru di Himaksi.

Acara Ghiksi sukses digelar dengan unik serta dikemas dengan konsep yang menarik dan kekinian. Salah satu penonton yang hadir yaitu Ahmad Ghalib turut mengungkapkan kesannya selama menyaksikan acara berlangsung. Bagi Ahmad, sajian acara malam itu tak hanya seru namun bermanfaat untuk diikuti.

“Acara pasca channel ini digagas oleh kader baru Himaksi. Walaupun kader baru, mereka mampu menghadirkan acara yang luar biasa kerennya,” pujinya

Di tengah perhelatan acara, awak Sketsa berkesempatan untuk mewawancarai Muhammad Rafly Pratama selaku Ketua Panitia Ghiksi. 

“Saya bisa mengatakan bahwa Himaksi itu adalah himpunan yang berselimut kebahagiaan. Dengan adanya acara ini, saya ingin menumbuhkan kebahagiaan itu lagi,” tutur mahasiswa yang akrab disapa Tama itu.

Menyoal pemilihan tema komunikasi budaya dalam penyelenggaraan acara tersebut, Tama menerangkan tema tersebut dipilih sebab adanya fenomena globalisasi yang membuat redupnya kebudayaan asli Indonesia.

“Nah awalnya kita mau mengambil tema budaya, tapi takutnya bakal boring. Jadi kita kasih bumbu-bumbu sedikit di era new media.”

Meskipun terlaksana dengan sukses, perhelatan acara Ghiksi tak luput dari adanya kendala. Tama mengungkap bahwa pihaknya sempat terkendala dalam mencari tempat pelaksanaan acara. Belum lagi banyaknya anggota baru yang terlibat masih terbalut suasana canggung saat berinteraksi dengan anggota lama. 

Selain itu, waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan liburan membuat dirinya sempat pesimis untuk dapat menggaet banyak pengunjung. Meskipun demikian, kendala tersebut tak jadi persoalan yang berarti.

“Alhamdulillah malam ini cukup ramai yang datang. Di luar ekspektasi,” kuncinya. (fza/ahn/dre)