Pilunya Kisah Pandu Saat Menerbitkan Buku

Pilunya Kisah Pandu Saat Menerbitkan Buku

SKETSA – “Jadi awal menulis, (langsung) menulis buku sebenarnya. Belakangan, setelah masuk kuliah baru saya paham, oh menulis cerpen tuh kayak begini, nulis puisi tuh kayak begini,” ucap Pandu Pratama Putra kepada Sketsa.

Hingga Februari 2018, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Prodi Sastra Indonesia 2014 ini telah meluncurkan dua buku. Pertama berjudul Jomblo Ngenest, sedang satu lagi ialah Demam di Kota Zeyn.

Ia bercerita, ketika awal menulis buku pertama yang bergenre esai komedi, ia nekat menulis tanpa pedoman buku lain saat itu. Alhasil, saat naik ke penerbit, ia mengakui bahwa gaya penulisannya agak hancur.

“Makanya setelah saya menulis pertama kali, dapat kritik pedes dari penerbit itu, baru saya (pikir), oh begini mungkin ya (makanya harus) banyak baca,” pikirnya.

Pandu hanyalah satu dari beberapa mahasiswa Unmul lainnya yang pernah menerbitkan buku hasil karangan sendiri. Ia terdorong untuk menyebarluaskan pemikirannya agar diketahui oleh khalayak luas.

Kemudian, ia memastikan bahwa 2018 akan kembali menerbitkan buku. Tapi entah serius atau tidak, ia mulai berkelakar perihal genre terbitan bukunya yang ketiga kelak.

“Untuk sementara karena terkejar skripsi, saya rasa karya yang paling baru nanti skripsi,” celetuknya ringan.

Kisah Pilu Dibalik Terbitnya Dua Buku

Dan seperti arus kehidupan yang penuh rintangan, tiada proses yang mudah dan instan. Pandu memahami betul itu, terutama saat ia berjuang menerbitkan dua buku karya tulisnya sendiri. Kerena dalam dunia penulisan dirinya masih tergolong pemula, maka untuk bukunya yang pertama, ia sangat merasa ada kesan bahwa dirinya ‘dipermainkan’ oleh penerbit.

Pandangan negatifnya diamini oleh kondisi bahwa tidak adanya transparansi oleh penerbit yang menerbitkan bukunya. Bahkan sampai hari ini pun, ia belum pernah diberi data tentang seberapa banyak eksemplar bukunya yang dijual penerbit.

“Sampai hari ini saya nggak pernah dikabarin dan itu yang bikin saya kesel,” gusaunya. “Beginikah nasib anak major? Kemudian kayak penulis kecil, masa kayak gitu sih, minta laporan aja nggak dikasih-kasih?”

Pengalaman pahit itu benar-benar dikenang oleh Pandu. Sehingga setelah karya pertamanya terbit, ia masih trauma untuk memilih penerbit baru yang bisa dipercaya. Ujung-ujungnya, untuk menerbitkan buku yang kedua, ia lebih memilih menerbitkan secara self-publish.

“Kedua itu saya self-publish. Jadi benar-benar uang saya sendiri. Semuanya saya lakukan sendiri sampai layouting semua. Editing saya berdua itu sama temen saya pokoknya saya kerjain sendiri.

MUP Kurang Publikasi

“Kalau memang untuk umum, ayolah di sounding atau memang bisa bantu kami bagi yang mau publish.

Ia memandang, adanya MUP memang bagus, tapi publikasinya basih belum terdengar secara luas. Pandu lalu mencontohkan, semisal UGM juga memiliki penerbitan, tapi segmentasinya jelas, hanya ke buku-buku pendidikan.

Kalau MUP juga seperti itu, dirinya tidak masalah. Namun jika segmentasi MUP lebih luas dari pendidikan, ia merasa publikasinya saja yang perlu ditingkatkan.

Salah satu caranya ialah menyebarkan informasi dengan mengikuti perkembangan zaman, menggunakan Instagram misalnya. Penyebaran informasi dirasa sangat penting agar MUP diketahui mahasiswa, dan jika hal itu terjadi, mahasiswa yang memiliki hobi menulis pun akan menyambut baik adanya MUP.

“Karena kalau untuk kami (mahasiswa yang juga) penulis, adanya Mulawarman Press yang mau bantuin gitu (saya) seneng banget. Karena kita modalnya pasti lebih kurang, lebih minim,” ucapnya. (epl/ysm/dan/els)