Pertama di Kaltim, Program Matching Fund Kedaireka Hasilkan Teknologi Digitalisasi Kandang Ayam

Pertama di Kaltim, Program Matching Fund Kedaireka Hasilkan Teknologi Digitalisasi Kandang Ayam

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

SKETSA — Unmul mengantongi kepercayaan sebagai penerima lima hibah dari program Matching Fund Kedaireka besutan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui tahapan seleksi nasional pada 2022 lalu. Salah satu program yang menggandeng PT. Habibi Digital Nusantara Bandung sebagai mitra ini telah mengimplementasikan sebuah inovasi berjudul Digitalisasi Kandang Ayam Pintar Berbasis Internet of Things (IoT) di Kalimantan Timur.

Julinda Romauli Manullang menjadi pemimpin dalam proyek yang menyasar Kandang Ayam Broiler Zafa Farm, Desa Mahulu, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Tak hanya seorang diri, proyek ini juga dibantu oleh beberapa dosen dan melibatkan partisipasi mahasiswa.

Rita Mariati, Ramadiani, Arif Ismanto, dan Anton Prafanto jadi perwakilan Dosen Unmul yang terlibat di dalamnya. Sedangkan dari kalangan mahasiswa, mereka yang berpartisipasi meliputi empat mahasiswa Informatika, tiga mahasiswa Agribisnis, dan tujuh mahasiswa Peternakan.

Melalui Zoom Meeting pada Selasa (24/1) lalu, Julinda Romauli Manullang membagikan kisahnya kepada awak Sketsa. Dosen Faperta yang akrab disapa Linda ini menuturkan persiapan panjang yang harus dilalui. Hal tersebut akhirnya berbuah manis sesaat setelah timnya diumumkan sebagai salah satu penerima Matching Fund Kedaireka pada 7 September 2022 lalu.

Waktu yang ia dan timnya miliki pun terbatas. Terhitung, tak genap mencapai tiga bulan usai pengumuman. Desember 2022 yang menjadi tenggat waktu pengerjaan proyek, menuntut tim yang ia nakhodai bekerja sama dengan efektif.

Linda mengungkap bahwa timnya tak hanya terdiri dari Dosen Faperta, namun ia juga sengaja turut melibatkan dosen yang berasal dari Teknik Informatika. 

“Saya menggandeng Informatika karena topik yang kita angkat, yakni digitalisasi berbasis IoT, tentu harus kolaborasi dengan fakultas lain. Di samping itu Kedaireka ini tidak bisa dikerjakan dalam satu kompetensi yang artinya satu fakultas, tapi minimal dua kompetensi. Jadi harus kolaborasi dengan fakultas lain yang ada di lingkungan Unmul.”

Lebih lanjut, Linda turut membeberkan alasannya mantap mengusung proposal yang diajukan. Baginya, kesempatan tersebut hadir sebagai pintunya mengabdi pada masyarakat. Selain latar belakangnya yang merupakan akademisi di bidang unggas, ia mengaku telah banyak berkomunikasi dengan peternak unggas di Samarinda hingga beberapa kabupaten lain. Apalagi digitalisasi berbasis IoT memang belum ada di Kaltim, khususnya bagi peternak ayam broiler.

“Kami berkolaborasi dengan Ibu Rohmadiani dan Pak Anton Prafanto dari Teknik Informatika. Kolaborasi dengan mitra menghasilkan teknologi yakni pendeteksian suhu dan kelembapan, yang kedua untuk air minum di kandang, dan yang ketiga amoniak. Hal ini menjadi satu kebutuhan peternak di Samarinda, Kaltim,” paparnya.

Pengaplikasian teknologi tersebut cukup bermodalkan ponsel pintar, sehingga hal ini memudahkan peternak atau pemilik usaha memantau kondisi kandang dengan hanya melihat dari notifikasi yang akan dikirimkan.

Tak ketinggalan, Linda juga membagikan harapannya atas capaian yang berhasil diraih bersama tim kepada awak Sketsa. Harapnya, teknologi tersebut juga dapat digunakan secara masif di Kaltim utamanya dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi para peternak.

“Pertama, kita bisa memantau kondisi ayam di kandang dan bisa langsung action, bukan hanya sekadar lihat-lihat saja. Namun, kita bisa mengambil tindakan, misalnya suhunya terlalu tinggi atau kelembapannya terlalu tinggi. Kedua, kita berharap ini dapat meningkatkan produktivitas ternak ayam.” harap Linda.  

Selanjutnya, Sketsa mewawancarai salah satu mahasiswa yang ikut terlibat dalam program tersebut pada Rabu (18/1) lewat pesan teks WhatsApp. Alvianus Nestha, mahasiswa Informatika 2019 turut membagikan pengalamannya selama berkegiatan dengan para dosen.

Ungkap Alvianus, ia mengetahui program Matching Fund Kedaireka langsung dari dosen yang ikut tergabung dalam program tersebut. Alvianus yang bertugas dalam proses instalasi alat IoT mengungkap, tak ada tahap penyeleksian yang harus dilalui untuk dapat bergabung ke dalam kegiatan tersebut.

“Untuk tahap penyeleksian tidak ada, sistemnya kayak siapa yang duluan dia yang dapat. Kebetulan pada saat pemilihan anggota saya menjadi cadangan, lalu dimasukkan ke dalam tim inti setelah satu anggota mengundurkan diri dari program tersebut.”

Kendala pun tak luput menyertai. Selama berkegiatan, dirinya harus berjibaku dengan kondisi jaringan yang buruk.

“Di sana jaringan cenderung sangat jelek, sehingga kadang membuat alat IoT-nya tidak dapat mengirim data ke server,” keluhnya.

Kendati demikian, dirinya tak menyesal menjadi bagian dari proyek kolaborasi tersebut. Lewat pengalamannya itu, ia berhasil memperdalam pengetahuannya tentang IoT.

“Alat yang sudah terpasang di kandang bisa jadi topik skripsi saya,” imbuhnya. (sya/ara/mgw/ems)