Sumber Gambar: Website Unmul
SKETSA - Unmul perdana melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi 2026 dengan melibatkan sembilan Perguruan Tinggi di Kalimantan Timur (Kaltim). Program ini mempertemukan mahasiswa lintas kampus dalam satu skema pengabdian di berbagai desa.
Wakil Ketua Panitia KKN Kolaborasi, Alamsyah mengatakan pelaksanaan KKN tahun ini dirancang untuk membangun kemampuan mahasiswa bekerja secara kolaboratif di lapangan.
Menurutnya, konsep tersebut menjadi pembeda karena pengabdian tidak lagi hanya melibatkan mahasiswa Unmul, tetapi juga mahasiswa dari delapan Perguruan Tinggi mitra dengan difasilitasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim.
"Intinya bagaimana mengajarkan mahasiswa untuk kerja secara tim di lapangan, jadi tidak hanya Unmul tetapi melibatkan kampus-kampus yang lain," ujar Alamsyah saat ditemui Sketsa, Rabu (20/5) lalu
Program yang dijalankan dalam KKN Kolaborasi merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Daerah (Pemda), Pemerintah Desa (Pemdes), dan Perguruan Tinggi. Sejumlah desa difokuskan pada penanganan stunting, sementara wilayah lain mengangkat isu kesehatan maupun kebutuhan pembangunan desa lainnya.
Jumlah peserta KKN Kolaborasi tahun ini diperkirakan mencapai sekitar 5.500 mahasiswa yang terdiri atas 4.000 mahasiswa Unmul dan sekitar 1.500 mahasiswa dari Perguruan Tinggi mitra.
Sebagai penyelenggara utama, Unmul juga mengembangkan sistem pendaftaran yang memungkinkan setiap kampus mengelola peserta melalui administrator masing-masing, termasuk pengaturan kuota pada setiap posko.
Selain menjalankan pengabdian di lapangan, seluruh kelompok diwajibkan menyusun artikel ilmiah yang akan dipresentasikan dalam seminar hasil dan dipublikasikan melalui prosiding KKN pada laman Desaku.
Meski demikian, Alamsyah mengakui pelaksanaan perdana KKN Kolaborasi masih memerlukan evaluasi. Koordinasi bersama Perguruan Tinggi mitra terus dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kendala teknis selama pelaksanaan.
"Harapan kita tentu ini kan pertama kali, sehingga tahun ini akan menjadi evaluasi kita," katanya.
Di sisi lain, mahasiswa menyambut positif konsep kolaborasi lintas kampus tersebut. Mahasiswa Administrasi Bisnis FISIP Unmul 2023, Zhafran Khairy Ammar menilai keberagaman peserta menjadi peluang untuk menghasilkan program kerja yang lebih inovatif.
"Setiap kampus memiliki budaya akademik, pengalaman, dan keahlian yang berbeda sehingga dapat menghasilkan ide-ide yang lebih kreatif dan inovatif,” tuturnya, Sabtu (27/6) lalu.
Namun, ia menilai pelaksanaan perdana masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada proses penempatan peserta, koordinasi antar mahasiswa, serta penyampaian informasi selama tahap persiapan.
Menurut Zhafran, evaluasi terhadap aspek tersebut penting agar pelaksanaan KKN Kolaborasi berikutnya semakin matang.
Pandangan serupa disampaikan Mahasiswa Teknik Industri Unmul 2023, Riska Syafhira Daffa yang mengaku antusias mengikuti KKN Kolaborasi meski menyadari akan ada tantangan dalam menyatukan cara kerja mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi.
"Menurut saya ini hal yang menarik, karena baru pertama kali pasti ada tantangannya, tapi justru iitu yang bikin pengalaman KKN jadi lebih berkesan,” katanya, Minggu (28/6) lalu. (wil/ela/gta/ria/mou)