Bukan Sekadar Seminar: Diskusi Mahakam Picu Kesadaran Baru Mahasiswa
FPIK Unmul gelar diskusi ilmiah dengan tajuk “Daerah Aliran Sungai Mahakam Tengah di Masa Depan”, tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap isu lingkungan
- 23 Apr 2026
- Komentar
- 67 Kali
Sumber Gambar: Tim Publikasi Seminar
SKETSA - FPIK Unmul gelar diskusi ilmiah bertajuk “Daerah Aliran Sungai Mahakam Tengah di Masa Depan” pada Selasa (21/4) lalu. Kegiatan ini dihadiri civitas akademika serta perwakilan instansi pemerintah, dengan dominasi peserta dari kalangan mahasiswa.
Meski mengangkat isu serius terkait masa depan sungai Mahakam, suasana forum berlangsung dalam nuansa santai dan setara. Peserta tampak aktif mengikuti jalannya diskusi, terlihat dari intensitas pencatatan selama pemaparan materi.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, serta sambutan ketua panitia. Ia menyampaikan diskusi ini bertujuan membuka ruang pertukaran gagasan terkait konservasi satwa dan pengelolaan Sungai Mahakam yang lestari, sejahtera, dan berkeadilan.
Diskusi menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan pemerintah, di antaranya Herry Priyanti Efendi dan Prof. Dr. Ir. H. Iwan Suatno, DEA. Melalui pemaparannya, salah satu narasumber menekankan bahwa luasnya sungai Mahakam tidak menjamin keamanan bagi fauna endemik.
“Besarnya Sungai Mahakam belum tentu menjadi tempat aman bagi fauna endemik,” ujarnya dalam forum.
Salah seorang peserta, mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan FPIK 2024, Sakhira Saib mengaku sebelumnya belum terlalu mendalami isu sungai Mahakam.
“Sebelumnya saya hanya sekadar terpikir saja, lebih ke aktivitas kapal tongkang, industri, dan biomassa yang ada di sana,” ujarnya kepada Sketsa, Selasa (21/4) lalu.
Setelah mengikuti diskusi, ia mengaku memperoleh pemahaman baru terkait isu yang dibahas. Sakhira juga menambahkan bahwa seminar yang diselenggarakan lebih membuka wawasannya, tidak hanya mengenai isu yang sedang dibahas namun juga menjadi bekal di masa depan.
Hal serupa disampaikan mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan FPIK 2023, Sherarr Shidwizheda yang mengaku awalnya mengikuti seminar karena kewajiban akademik, namun kemudian mendapatkan perspektif baru.
Menurutnya, diskusi membahas berbagai aspek secara luas, mulai dari pesut Mahakam hingga spesies invasif yang memengaruhi ekosistem sungai.
“Ternyata konservasi itu bukan hanya melindungi satwa, tapi juga menjaga ekosistem secara keseluruhan,” ujarnya kepada Sketsa, Selasa (21/4) lalu.
Ia berharap pengelolaan sungai Mahakam ke depan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
“Semoga sungai Mahakam bisa menjadi pilar bagi masyarakat Kalimantan Timur,” lanjut Sherarr.
Diskusi ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kesadaran mahasiswa terhadap isu lingkungan. (apn/mou)