Berita Kampus

Warung Prancis di Unmul, Bukan Sembarang Warung

Kerjasama Kedutaan Prancis dengan Unmul.

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber foto: euraxess.ec.europa

SKETSA - Apa yang kamu pikirkan ketika mendengar kata warung? Apakah nasi goreng? Es teh? Atau sembako? Kini, Unmul juga punya warung lho. Bertajuk French Corner atau lebih akrab disebut dengan Warung Prancis, warung ini akan bisa kamu nikmati padal 7 November mendatang di perpustakan Unmul lantai dua. Disebut demikian sebab warung adalah bahasa yang lebih menasional dan menarik perhatian orang-orang untuk berkunjung, walau pada kenyataannya warung ini tidak menjual makanan, namun sesuatu yang lain.

Kepada Sketsa, Widi Sunaryo, Kepala Unit Pelaksana Teknis Layanan Internasional (UPT LI) mengungkapkan bahwa Warung Prancis ini adalah hasil kerjasama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dengan Unmul melalui Institute Francais d’Indonesie (IFI).

“Warung Prancis tersebar di kota-kota lain seperti Semarang dan Surabaya, namun hanya ada di universitas-universitas tertentu saja. Di Kalimantan ini, baru Unmul saja yang punya Warung Prancis,” ungkap Widi.

Warung Prancis ini menyediakan berbagai aneka informasi dan sosialisasi pendidikan dan  kebudayaan yang ada di Prancis ke Indonesia, seperti studi, kebiasaan, hingga beasiswa. Selain itu, Warung Prancis juga merupakan pusat penelitian yang langsung berada di bawah  pendidikan dan kebudayaan, dan akan menjadi program berkelanjutan di Unmul. Di sini, juga dilengkapi dengan ruangan khusus serta brand ambassador yang terdiri dari25 orang hasil open recruitment UPT LI yang juga merupakan mahasiswa Unmul. Dua orang paling potensial akan mendapatkan kesempatan beasiswa untuk belajar di Perancis. Brand ambassador sendiri berfungsi untuk  melayani setiap orang yang datang untuk berkonsultasi.

“Nantinya kalau mahasiswa tersebut berhasil lolos, maka bisa turut membantu mengabdi untuk pengembangan Unmul kedepan, semisalkan nanti akan dibuka program studi Sastra Prancis kan, bisa turut berperan sebagai tenaga pengajar,” ujar Widi.

Pada saat peluncuran dan pembukaan nanti akan disertai dengan pengadaan kuliah umum dan mendatangkan narasumber seorang  profesor dari Prancis, yang dapat dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan masyarakat umum.

 “Siapa saja boleh datang,” kata lulusan S3 George August-Universitat Gottingen ini.

Untuk mahasiswa yang sehari-hari lebih akrab dengan bahasa Internasional yakni bahasa Inggris, bahasa Prancis tentu merupakan hal yang masih baru. Namun, Widi optimis bahwa  animo mengenai kebudayaan Prancis dapat ditumbuhkan.

“Sasaran tujuan dari dibukanya Warung Prancis ini adalah seluruh instrumen yang ada di universitas. Prancis itu mempunyai budaya yang luar biasa, baik dari segi seni hingga bahasa. Orang mereka itu sangat menjaga karakter. Yang mana patut kita contoh sebagai orang Indonesia,” pungkasnya. (mer/ajy/nis/ann)

 



Kolom Komentar

Share this article