Warga Keluhkan Mahasiswa KKN, Esti: Kami Tidak Reaktif

Warga Keluhkan Mahasiswa KKN, Esti: Kami Tidak Reaktif

Sumber: facebook.com

SKETSA - Tak terasa, sudah sebulan lebih mahasiswa Unmul melaksanakan salah satu wujud pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mendekati masa akhir pelaksanaannya, muncul keluhan dari warga desa setempat. Ia mengeluhkan sikap kelompok KKN di tempatnya melalui laman Facebook pribadinya.  

Diketahui, kelompok tersebut berada di Desa Long Tesak, Kecamatan Muara Ancalong, Kabupaten Kutai timur. Akun dengan nama Shinchan itu menuliskan, “Haduh anak KKN Unmul, angkatan tahun ini, dikampungku sangat tidak bisa dicontoh. Tidak bisa berbaur dengan orang-orang kampung, pemalas, sombong, sok kota, angkuh. Pokoknya sedap kelakuan, orang-orang kampung pun mulai risih."

Esti Handayani Hardi, Ketua Tim Pengembangan Program KKN Unmul turut menanggapi. Ia mengatakan di desa tersebut terdapat dua kelompok. Ia juga menyebut dirinya tidak reaktif, karena aduan tersebut disampaikan melalui media sosial.

“Saya masih menunggu laporan resmi dari pihak desa, karena kalau ada masalah desanya pasti tidak diam saja," terangnya saat ditemui Rabu (7/8) lalu.

Esti juga menambahkan, jika ada permasalahan seperti ini, biasanya kepala desa sudah tahu terlebih dahulu untuk mengantisipasinya. Sekarang yang Esti dan pihaknya lakukan ialah mengkoordinasikan dengan pihak desa yang bersangkutan. Sebab hal ini bisa saja bersifat subjektif.

“Menurut saya anak-anak santai pun tidak akan mungkin. Karena mereka tiap minggu harus update kegiatan," kata Esti.

Selain itu setiap kelompok didampingi oleh satu Dosen Pendamping Lapangan (DPL). DPL mengawasi mahasiwanya melalui website yang dapat diakses dengan user dan password yang diberikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M). Bukan hanya itu,  pihak desa, kecamatan, mitra KKN juga dapat mengaksesnya.

“Kita tidak bisa mengontrol. Kita sebagai akademisi sudah berupaya memaksimalkan kegiatan KKN secara benar agar dapat memberdayakan masyarakat."


Proses Penyerahan Mahasiswa KKN

Tiap mahasiswa yang melaksanakan KKN tentunya melaksanakan interaksi sosial dengan warga. Di sini, mahasiswa harus pandai-pandai dalam bersosialisasi. Respons warga tentu berbeda-beda. Proses persiapan KKN cukup panjang, dimulai dari Februari lalu dengan berkoordinasi terkait pengiriman mahasiswa dengam bersurat ke daerah setempat. Setelah diterima,  LP2M memantapkan koordinasi sambil merangkul pihak-pihak lain untuk terlibat.  

Setibanya di lokasi KKN, pengawasan dipercayakan kepada kepala desa dan aparat desa untuk membimbing mahasiswa KKN. Semua laporan sampai ke LP2M berasal dari kepala desa.

“Kami memberi otoritas penilaian ke pihak desa sebanyak 40%. Agar pihak desa memliliki kontroling terhadap mahasiswa," ujarnya.

Nantinya, usai pelaksanaan KKN LP2M mengevaluasi dengan bertandang  ke kabupaten untuk menanyakan bagaimana pelaksanaannya, kesalahannya yang terjadi. Setiap desa juga sudah diberi Standar Oprasional Pelaksanaan (SOP), agar ketika ada masalah, pihak desa tahu apa yang harus diperbuat.

“Nomor handphone saya dapat diakses setiap hari oleh perangkat desa maupun mahasiswa. Aduan subjektif dari mahasiswa terkait teman kelompoknya juga ada,” terangnya.

Sejauh ini, Sketsa berupaya mengonfirmasi pihak-pihak lainnya. Baik itu kelompok KKN yang dimaksud, serta warga desa yang mengeluhkan. (mer/adl)