Refleksi 20 Tahun Reformasi dalam KOPI Mulawarman

Refleksi 20 Tahun Reformasi dalam KOPI Mulawarman

SKETSA - 20 tahun silam, menjadi saksi peristiwa bersejarah di depan Universitas Trisakti, sebagai titik penting dalam menumbangkan pemerintahan otoriter di masa Orde Baru. Tragedi berdarah, pada 12 Mei 1998 yang mengakibatkan empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur setelah ditembak aparat lantaran terlibat bentrok dalam aksi demonstrasi untuk melengserkan Soeharto dari tahtanya sebagai Presiden RI.

Memperingati itu, Senin (1/5) lalu Kajian Obrolan Pergerakan dan Advokasi Isu (KOPI) Mulawarman menggelar diskusi dengan edisi spesial bertema “Potret Pergerakan Mahasiswa untuk Menjawab Dinamika Demokrasi dalam 20 Tahun Reformasi”. Acara yang digelar di Aula Rektorat Unmul Lantai 4 ini menghadirkan Jamil sebagai pembicara dari aktivis 1998 Kalimantan Timur (Kaltim) dan Muslimin sebagai Ketua Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Manajemen (STIEM) Samarinda. Turut pula mengundang beberapa lembaga eksternal, di antaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Imdonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Imdonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pelajar Islam Indonesia (PII), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), HMDI, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), BEM Universitas se-Samarinda, dan BEM se-Unmul.

Dipandu Idet Arianto Putra, diskusi dibuka dengan pemutaran video pergerakan mahasiswa dalam menyambut momentum 20 tahun reformasi. Sesi diskusi membahas seputar lahirnya reformasi di Kaltim pada 1998. Kajian pertama dibawakan oleh Jamil. Dalam paparannya, Jamil mengatakan bahwa lahirnya reformasi di Kaltim didasari atas aksi yang dilakukan mahasiswa di Jakarta serta kasus korupsi sebesar 27 milyar yang sempat terjadi di Bumi Etam.

Suara lain datang dari perwakilan HMI, yang menyebutkan reformasi berawal dari keresahan masyarakat dan mahasiswa yang menginginkan hak-haknya dilindungi oleh negara. Sehingga akan sangat mengerdilkan jika menganggap bahwa mahasiswa merupakan anak kandung maupun anak tiri dari reformasi. Menurutnya, mahasiswa merupakan ibu kandung sebab mahasiswa yang melahirkan reformasi.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan mengkaji bagaimana perbandingan pergerakan mahasiswa pada masa lalu dan kini. Rizaldo, Presiden BEM KM Unmul menuturkan bahwa sistem pendidikan saat ini mengukung serta membatasi semangat dan kebebasan berpendapat mahasiswanya. Meski mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat.

Topik diskusi menarik lainnya ialah maraknya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masuk ke wilayah Indonesia serta melemahnya nilai tukar rupiah di momentun 20 tahun reformasi ini menjadi kajian terakhir sekaligus pentutup dalam diskusi kali ini.

Terpisah, Fahrian selaku Ketua Panitia saat ditemui Sketsa mengatakan, KOPI Mulawarman dengan edisi spesial kali ini bertujuan untuk menyatukan tujuan dalam pergerakan menuju momentum 20 tahun reformasi. Dengan adanya diskusi ini, Fahri berharap semua lembaga yang hadir dapat membersamai terkait tuntutan resolusi dari hasil diskusi pada Senin lalu. Selain itu, KOPI Mulawarman kali ini sebagai penggagas dari berbagai pembahasan yang akan dikupas untuk mewujudkan pergerakan yang satu tujuan.

“Pasca KOPI Mulawarman, kemungkinan akan ada pembahasan mengenai pergerakan yang akan dilakukan, dan hal ini tentu akan terkait dengan pembahasan internal yang lebih lanjut antara pimpinan setiap lembaga dan anggotanya,” tutupnya. (len/syl/snh/adl)